Refleksi 72 Tahun Kelahiran Pancasila

Pancasila

Tujuh puluh dua tahun yang lalu, tanggal 1 Juni 1945, Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari kelahiran Pancasila karena tanggal tersebut pertama kalinya Ir. Soekarno mengucapkan kata Pancasila di depan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Naskah resmi Pancasila baru disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 melalui rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Memang dalam sejarahnya perumusan naskah Pancasila mengalami sejarah yang cukup panjang dan muncul perdebatan di sana-sini hingga sampai pada rumusan yang sekarang kita kenal.

Yang patut kita syukuri adalah bahwa pada saat ini adalah kehadiran Pancasila mempersatukan kita dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mau menjadi seperti apa NKRI tanpa adanya Pancasila sebagai dasarnya? Indonesia yang memiliki keanerangaman suku, agama dan kepercayaan, ras, kebudayaan yang tersebar dari Sabang hingga Merauke tidak akan bersatu tanpa adanya Pancasila. Pancasila buah pemikiran yang cermelang dari para Bapak Bangsa Indonesia (The Founding Fathers).

Apa yang kita dengar, kita rasakan akhir-akhir ini yaitu bagaimana eksistesi Pancasila sebagai dasar negara dirong-rong keberadaanya oleh sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab. Karena itu, Pemerintah Republik Indonesia dengan tegas akan membubarkan organisasi masyarakat yang tidak mengakui Pancasila sebagai dasar negara, dan mengakui UUD 45 sebagai landasan hukum formal, apapun agama dan kepercayaannya.

Apa yang terjadi akhir-akhir ini menyentakan kesadaran kita sebagai Bangsa Indonesia: apakah kita sudah menghidupi roh Pancasila di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Atau) Apakah kita terlalu egois, dan hanya memikirkan diri sendiri? Apakah kita hanya memikirkan pemenuhan kebutuhan kita sendiri?
Peran Orang Katolik
Bapa Uskup Soegijapranata pernah mengemukakan moto 100% Katolik, 100% Indonesia. Hal itu dijelaskan oleh Mgr Ignatius Suharyo dalam buku Catholic Way. Mgr Haryo dengan gamblang menggambarkan arti menjadi Katolik 100% dan Indonesia 100%. Idealnya, seorang Warga Negara Indonesia yang beragama Katolik, karena imannya, bergerak melibatkan diri dalam kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat Indonesia khususnya yang kecil lemah miskin, tersingkir dan difabel (Bdk Gaudium et Spes 1, Mat 25: 40) (laman daring: katolisitas.org/100-katolik-100-indonesia).

Menjadi orang Katolik tidak menghapus jati diri kebangsaan kita sebagai Bangsa Indonesia. Justru dengan semangat Katolik yang 100% tersebut semakin memperkuat jati diri kebangsaan kita. Keteladanan hidup berbangsa diberikan oleh tokoh-tokoh Katolik yang memberikan hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia seperti Ignatius Slamet Rijadi, IJ. Kasimo, Mgr. Soegijapranata. Kita didorong untuk aktif dan terlibat di dalam kehidupan berbangsa dn bernegara terutama dalam memenuhi hak dan kewajiban, seperti kewajiban membayar pajak.

 

Bangga Sebagai Bangsa Indonesia
Kita menggunakan nama baptis sebagai identitas Kekatolikan. Nama tersebut tercantum di Kartu Tanda Penduduk, kartu Surat Ijin Mengemudi, dll. Kalau kita tidak punya Pancasila sebagai dasarnya, kita mungkin takut untuk menunjukan identitas Kekatolikan kita. Kita patut bersyukur, karena adanya Pancasila sebagai dasar negara kita dapat dengan bebas menggunakan identitas kita sebaggai orang Katolik. Kita mempunyai hak yang sama untuk bebas beribadah.

Kalau di lingkungan kita, kita tidak boleh beribadah atau kita takut untuk menggunakan identitas Kekatolikan kita, tentunya ada masalah dengan pemahaman tentang Pancasila. Saat itulah kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar pemahaman tentan Pancasila sebagai dasar negara semakin mengakar dapat dipahami setiap kalangan. Pancasila adalah ideologi Bangsa Indonesia segenap tumpah darah Indonesia serta melindungi Kebhinekaan Indonesia. ***

 

Tim Redaksi LENTERA

Related Posts

  • 79
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 78
    “Diutus Menjadi Garam dan Terang Bagi Masyarakat” Dibacakan/diterangkan pada hari Sabtu-Minggu, 6-7 Februari 2016     Saudara-saudariku yang terkasih Memasuki tahun 2016, umat Allah KAS telah memiliki ARDAS VII untuk periode 2016-2020. Dalam semangat ARDAS yang baru ini, kita ingin menapaki peziarahan iman, dengan bergotong royong memperjuangkan Peradaban Kasih melalui hidup bersama yang sejahtera, bermartabat…
    Tags: dan, yang, kita, dalam
  • 78
    (Dibacakan/diterangkan dalam Perayaan Ekaristi, Sabtu dan Minggu, 15-16 Agustus 2015) “MEMPERKOKOH PERUTUSAN MENEGARA” 1. Umat Allah Keuskupan Agung Semarang yang terkasih. Senin, 17 Agustus 2015 kita rayakan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-70. Anugerah kemerdekaan ini patut disyukuri dan kita rayakan. Bersyukur karena dengan proklamasi kemerdekaan yang dianugerahkan Allah dan dibacakan Soekarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia,…
    Tags: dan, yang, dalam, kita, katolik