Mengasuh dan Mengasihi

asuh

Berbicara tentang mengasuh dan mengasihi bisa dikaitkan dengan banyak hal, salah satunya dengan adanya kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga di mana keluarga melakukan aksi nyata untuk memberikan bentuk-bentuk pendidikan bagi anak mereka. Pendidikan tersebut berawal dari keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama, selanjutnya pendidikan formal di dalam lembaga pendidikan seperti sekolah formal, dan pendidikan nonformal

Di Paroki Karanganyar, ada beberapa anak yang berasal dari Kalimantan yang pada saat ini tinggal di SMK Kanisus Barata Karanganyar. Anak-anak ini berjumlah 13 orang berasal dari 5 desa antara lain desa Pakit, Tanjung, Penggrawan, Prigi dan Bayam. Keberadaan mereka di Jawa, bermula dari keprihatinan Romo Vincentius Bondan Prima Kumbara,Pr, yang sekarang berkarya misi domestik di Keuskupan Ketapang Kalimantan, beserta dengan beberapa pemerhati pendidikan melihat ketidakadilan di sana, banyak anak-anak disana putus sekolah, tingkat pendidikan yang rendah, fasilitas-fasilitas yang terbatas, ilmu pengetahuan yang sangat minim, dan anak- anak yang berumur 14 tahun banyak yang sudah menikah secara adat.

Hal yang berbeda dengan keadaan pendidikan di Jawa banyak fasilitas tersedia, minat belajar yang tinggi untuk menuntut ilmu, segala akses mudah dijangkau serta ilmu pengetahuan berkelimpahan. Keprihatinan ini memicu semangat dan gerak para pemerhati (yang pada umumnya adalah umat Katolik yang berasal dari Keuskupan Agung Semarang) pendidikan anak-anak di luar Pulau Jawa. Dari keprihatinan tersebut di atas diwujudnyatakan dalam Komunitas Gerakan Orang Tua Asuh Misioner atau disebut Gerakan Orang Tua Asuh Misioner atau disingkat GOTAM. GOTAM kemudian membuat kerjasama dengan SMK Kanisius Barata Karanganyar supaya anak-anak yang berjumlah 13 bisa bertempat tinggal di sana dan mendapatkan pendidikan di sana, bahwa keadaan di Jawa tidak sama dengan di Kalimantan yang biasanya dimanjakan dengan alam tanpa bekerja mereka bisa makan, oleh sebab dengan Adanya Komunitas GOTAM tersebut kemudian digagas oleh para Pengelola GOTAM supaya keberadaan 13 anak tersebut juga belajar bagaimana berjuang dalam pendidikan serta bisa menjadi sumber daya manusia yang kelak dapat memperbaiki tempat asal mereka.

Dalam Komunitas tersebut terdapat beberapa pembagian golongan antara lain moderator, pengelola, donatur tetap, orang tua asuh, benefaktur, dan voluntir yang mempunyai pembagian tugas dan peran masing-masing yang telah disepakati bersama supaya kegiatan Komunitas ini bisa berjalan sesuai harapan serta visi misi dari GOTAM sekaligus sebagai wujudnyata dari penghayatan iman yang cerdas, tangguh, missioner dan dialogis sebagaimana dirumuskan oleh Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2016-2020.

Di Paroki Sragen, ada Paguyuban Penyantun (PP) Asih Putra adalah sebuah paguyuban yang membantu pelajar di Kabupaten Sragen yang kurang mampu terutama dalam biaya pendidikan. Kiprah PP Asih Putra dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara selama 19 tahun. Paguyuban penyantun ini memberikan bantuan kepada warga Kabupaten Sragen yang membutuhkan bantuan.

Kalau di Paroki Sragen, tampaknya belum ada kegiatan yang seperti dilakukan oleh GOTAM, akan tetapi ada beberapa warga Gereja Katolik yang telah menjadi orang tua asuh dalam hal pendidikan. Mereka mengangkat anak angkat yang tinggal di rumah mereka, kemudian menyekolahkan siswa yang dalam tanda kutip kurang mampu, sambil mendidik mereka sebagai orang tua.

Pendidikan itu memegang peranan penting di dalam perkembangan suatu bangsa. Dalam pembukaan UUD 45, dituangkan gagasan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah peran Pemerintah Indonesia dengan didukung oleh masyarakat. Pendidikan ini, bukan hanya mencetak manusia yang hanya memiliki ijasah, tanda kelulusan seseorang pada lembaga pendidikan, melainkan melahirkan orang yang mempunyai budi pekerti yang luhur, berwatak luhur.

Pendidikan itu mengentaskan manusia dari belenggu kebodohan, belenggu penjajahan, dan belenggu ketidaktahuan. Adalah tugas kita bersama untuk mewujudkan tata kehidupan yang lebih baik, tentunya dengan melaksanakan pendidikan.

Tim Redaksi LENTERA

Related Posts

  • 87
    Malam pergantian tahun menjadi momen untuk bersyukur dan berefleksi atas pengalaman hidup setahun lalu. Momen ini menjadi kesempatan membuat resolusi atau niat-niat pembaruan diri satu tahun ke depan. Pribadi yang maju adalah pribadi yang mau berubah menjadi lebih baik. Berubah berarti ada unsur kebaruan di dalamnya. Sementara kebaruan memerlukan sikap kesiapsediaan untuk menerima (adaptasi) dan…
    Tags: dan, yang, dengan, dalam, dari, di
  • 81
    Dibacakan/diterangkan pada Malam Tirakatan atau Hari Raya Kemerdekaan Indonesia Rabu - Kamis, 16 - 17 Agustus 2017 “MENGEMBANGKAN SEMANGAT KEBANGSAAN DAN KE-BHINNEKA TUNGGAL IKA-AN” Para sahabat muda, anak-anak dan remaja; para Saudari-saudara, Ibu, dan Bapak; serta para Rama, Bruder, Suster, Frater yang terkasih. Baru saja kita akhiri perhelatan besar Keuskupan Agung Semarang sebagai tuan rumah…
    Tags: dan, yang, dengan, di, dalam
  • 79
    Segenap umat Katolik yang terkasih, Konferensi Waligereja Indonesia menyelenggarakan sidang tahunan pada tanggal 6-16 November 2017 di Jakarta. Sidang dimulai dengan hari studi yang mengangkat tema Gereja Yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia. Tema tersebut diolah dengan mendengarkan masukan para narasumber, didalami dalam diskusi kelompok, dipaparkan dalam rapat pleno, dan dilengkapi dengan catatan…
    Tags: dan, yang, dengan, di, dalam