Pendidikan Anak dalam Janji Perkawinan Sakramen

IMG-20170703-WA0002

Dalam janji Perkawinan Katolik, terdapat satu rumusan janji bagi pasangan suami istri Katolik untuk mendidik anaknya sesuai hukum Kristus dan Gereja-Nya. Janji itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari konsekuensi serta berkat atas perkawinan kudus yang dilangsungkan oleh pasangan suami istri Katolik. Tentu janji ini tidak hanya akan berhenti pada rumusan serta pengucapannya, tetapi menuntut sebuah pemenuhan atas janji untuk benar-benar mendidik anak yang lahir dari perkawinan itu sesuai dengan hukum Kristus dan Gereja-Nya.

Mengapa ada rumusan janji tersebut dalam sebuah perkawinan Katolik? Mengapa keluarga Katolik terikat janji untuk mendidik anak-anak yang dilahirkan dalam keluarga tersebut sesuai dengan hukum Kristus dan Gereja-Nya? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu dapat dijawab dengan melihat kembali hakikat Perkawinan Katolik. Perkawinan Katolik memiliki tujuan untuk menyatukan cinta suami istri serta mendidik anak-anak yang adalah buah cinta suami istri sesuai dengan hukum Kristus dan GerejaNya. Tujuan ini adalah makna yang mengalir dari berkat sakramen Perkawinan yang telah diadakan oleh Tuhan dengan menciptakan manusia sebagai pria dan wanita, serta mengutus mereka untuk membentuk keluarga demi melanjutkan karya penciptaan dan karya kasih-Nya. Dengan demikian, keluarga Katolik terikat untuk mendidik anak-anak-Nya sesuai dengan hukum Kristus dan Gereja-Nya. Suami istri yang dipersatukan dalam perkawinan Katolik belum dapat disebut sebagai keluarga Katolik jika belum memenuhi janji perkawinan yakni menyatukan cinta suami istri sesuai kehendak Tuhan dan mendidik anak-anak mereka sesuai dengan hukum Kristus dan Gereja-Nya.

Mendidik Anak Sesuai Hukum Kristus
Bagaimanakah mendidik anak sesuai dengan hukum Kristus? Hukum Kristus adalah cinta kasih. Sebagaimana Kristus bersabda: “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.” (Yohanes 15:17). Dengan demikian, sebagai keluarga Katolik, Kasih hendaknya menjadi pondasi dasar bagi dinamika hidup sehari-hari. Anak mulai diperkenalkan serta diajarkan tentang mengasihi sesama manusia, terlebih orang tua dan saudara-saudarinya, sahabat-sahabatnya, bahkan musuh-musuhnya. Mungkin “tindakan mengasihi” begitu mudah diucapkan dan dipahami tetapi belum tentu dapat diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Mengasihi merupakan tindakan Kristus sendiri yang berkenan menyerahkan hidupNya demi keselamatan manusia. Dengan demikian, anak-anak yang terlahir dalam keluarga Katolik hendaknya mengalami pengalaman kasih, dikasihi oleh orang tua dan akhirnya diajarkan untuk melakukan tindakan mengasihi itu di sepanjang waktu pertumbuhannya. Inilah tantangan para keluarga Katolik yang memegang teguh janji perkawinan. Kasih itu terungkap dalam komitmen untuk keluar dari egoisme diri sendiri dan berani membagikan hidupnya bagi kebahagiaan sesama.

Dalam mendidik anaknya, hendaknya orang tua membawa anaknya untuk mengalami realitas dikasihi sehingga dalam perjalanan hidupnya, si anak mulai memahami serta berani berbagi kasih dengan sesama. Hal ini merupakan tantangan yang begitu nyata di tengah situasi dunia saat ini ketika makna dikasihi serta mengasihi terkadang digerus oleh egoisme dan materialisme. Kasih sayang seringkali terbatas pada hal-hal yang tampak dan tidak sampai menyentuh pada sisi ketulusan yang membebaskan. Seperti halnya ketika seorang bapak merasa menyayangi keluarga dengan memberikan begitu banyak harta namun terlalu sibuk dalam pekerjaan mencari uang. Atau orang tua yang memenuhi semua keinginan anaknya karena alasan menyayangi, sehingga yang terjadi justru sikap over protektif yang tidak mendewasakan. Untuk itulah, dengan janji perkawinan Katolik tentang pendidikan anaknya sesuai hukum Kristus dan GerejaNya, keluarga Katolik ditantang untuk menghayati kasih secara mendalam dan tulus dalam hidup sehari-hari.

Mendidik Anak Sesuai dengan Ajaran Gereja
Gereja adalah persekutuan orang-orang yang beriman kepada Kristus. Iman kepada Kristuslah yang menjadi dasar dari persekutuannya. Iman kepada Kristus itu melahirkan komunio yang mengajak setiap orang untuk berbagi hati demi membangun tubuh Kristus untuk keselamatan secara manusiawi dan rohani. Untuk itulah, pendidikan juga perlu diarahkan kepada kesadaran untuk membangun komunitas berdasarkan iman. Orang tua Katolik perlu mengenalkan serta mengajak anaknya untuk terlibat secara aktif dalam membangun tubuh Kristus atas dasar iman. Dari sejak dalam kandungan, orang tua perlu membangun kondisi “beriman” bagi anak-anaknya. Ini bisa dilakukan dengan keterlibatan aktif dalam hidup menggereja dan bermasyarakat. Setelah anak terlahir di dunia, mereka diajak untuk selalu menyadari bahwa iman adalah salah satu bagian yang pokok dalam hidup sehingga perlu untuk diungkapkan serta diwujudkan. Iman merupakan tanggapan manusia atas panggilan Tuhan dalam karya keselamatanNya. Apabila pendidikan iman dimulai sejak dalam kandungan dan dilanjutkan secara konsisten dalam setiap tahap perkembangan hidup si anak, niscaya si anak akan memiliki jiwa merdeka dalam memahami serta menghadapi realitas hidup.

Semoga para orang tua Katolik dapat menghidupi janji perkawinannya dengan baik, yakni dengan tetap setia terhadap pasangan serta mendidik anaknya sesuai hukum Kristus dan GerejaNya. Itu semua menjadi berkat dalam sakramen perkawinan yang saling diterimakan oleh pasangan Katolik. Tuhan hadir dalam setiap karya baik yang diperjuangkan oleh keluarga-keluarga Katolik. Semoga Tuhan membantu kita semua.

.

Rm. Yohanes Ari Purnomo, Pr

Related Posts

  • 59
    Dibacakan/diterangkan hari Sabtu-Minggu, 21-22 Januari 2017 “Menghadirkan Gereja Yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif dalam Masyarakat Multikultural” Saudari-saudaraku yang terkasih, Kita semua bersyukur memasuki tahun kedua Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS) 2016-2020. Tema pelayanan pastoral tahun 2017 adalah “Menjadi Gereja yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif yang Hidup Bergairah dalam Masyarakat Multikultural”. Tema ini berbingkai…
    Tags: yang, dan, dalam, kristus, dengan, untuk
  • 58
    Diterangkan/dibacakan pada Sabtu – Minggu, 14 – 15 Oktober 2017 “ MEMBANGUN GIZI ” Saudari-saudaraku yang terkasih, Hari Pangan Sedunia (HPS) diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Peringatan HPS merupakan salah satu resolusi atau putusan bersama Konferensi Negara-negara anggota Food and Agriculture Organization (FAO) yang diselenggarakan pada bulan November 1976 di Roma. Sebagai resolusi bersama, Negara-negara…
    Tags: dan, yang, dengan, untuk, dalam, keluarga
  • 58
    11 Februari 2010 Saudara-saudari terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-18  dirayakan di Basilika Vatikan pada tanggal 11 Februari  dengan liturgi peringatan Bunda Maria dari Lourdes. Selain bertepatan dengan ulang tahun ke-25 Lembaga Dewan Kepausan untuk Tenaga Pelayanan Kesehatan (DKTPK) alasan lain adalah untuk bersyukur kepada Tuhan atas pelayanan DKTPK selama ini di bidang pastoral pelayanan…
    Tags: yang, dan, untuk, dengan, dalam