Perundungan Versus Semangat Injil

perundungan

Perundungan atau lebih dikenal dengan istilah bullying akhir-akhir ini menjadi pembahasan di media cetak, media daring, dan media sosial. Jika kita melihat kata Perundungan dengan mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata rundung yaitu suatu tindakan mengganggu, mengusik terus menerus, menyusahkan.

Kalau kita melihat dalam pola komunikasi di dalam suatu komunitas (atau masyarakat, paguyuban), sering ada saling ejek antar anggota komunitas dengan tujuan untuk saling bercanda dengan mengelurkan kelakar satu dengan yang lain. Kelakar semacam ini mungkin memiliki efek positif yaitu semakin mendekatkan anggota komunitas satu dengan yang lain. Namun, berbeda dengan perundungan. Perundungan itu bisa dikatakan suatu kelakar yang kelewatan yang punya tujuan negatif, dan tak pelak bernada kebencian. Pelaku perundungan terkadang tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Sebaliknya, perlakukan ini akan menimbulkan luka batin yang mendalam bagi korban perundungan. Tidak sedikit korban perundungan ini menjadi depresi, stres, bahkan ada yang bunuh diri karena tidak kuat lagi menahan hinaan.

Perundungan juga berkaitan dengan kuat tidaknya kekuasaan yang dimiliki oleh pelaku perundungan. Dalam kasus pengroyokan anak di sebuah pusat perbelanjaan, dikabarkan oleh media bahwa pelaku perundungan tersebut adalah anak-anak yang merundung anak lain yang tidak berdaya. Karena adanya dukungan kekuatan orang yang bersama-sama dengan dirinya, seseorang seakan lebih unggul dari yang lain sehingga seseorang yang seakan punya power.

Dalam pikiran kita, sesuatu yang berbeda itu bisa dianggap sebagai ancaman, atau sebagai musuh, dan di luar dari komunitas kita. Karena itu ketika masyarakat menemukan seuatu yang berbeda dari suatu kebiasaan, orang akan berkomentar buruk. Bagaimana kalau yang berbeda itu karena orang yang berbeda itu adalah orang yang berkebutuhan khusus? Apakah masih dianggap ancaman atau gangguan? Jawabannya adalah ya. Dalam kasus perundungan di suatu universitas swasta, korban perundungan adalah orang yang mempunyai kebutuhan khusus yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus.

Menghapuskan Perundugan dengan Semangat Injil
Semangat Injil mengajarkan kita untuk memberi perhatian kepada yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difable. Semangat ini adalah semangat pengorbanan seperti yang diajarkan oleh Yesus. Pandangan dunia mengajarkan kita bahwa orang yang lemah tidak berdaya itu harus ‘disingkirkan’, pandangan Kristus berbeda dengan pandangan dunia yaitu barang siapa yang melakukan sesuatu untuk saudara-Ku yang paling hina kamu melakukannya untuk Aku (bdk Mat 25:40). Juga perikop tentang Orang Samaria yang baik hati juga menggambarkan bahwa yang berbeda itu adalah saudara walaupun mereka berbeda pandangan bahkan berbeda ras, suku bangsa, agama, dan golongan. Jika semangat Injil ini yang di munculkan di dalam kehidupan sehari-hari pastilah kasus perundungan tidak terjadi di dalam kehidupan. Perundungan itu sendiri adalah suatu perbuatan yang bertolak belakang dengan peradaban kasih yang sedang kita perjuangkan. Tugas kita adalah memusnakan perundungan dari permukaan bumi ini!

Redaksi Lentera

Related Posts

  • 59
      Bulan Agustus ini, kita dihadapkan pada peringatan Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus. Penulis akan sedikit membantu untuk memaknai arti kemerdekaan dalam sebuah tulisan, untuk sedikit memberi arti di Negeri seribu satu mimpi ini. Betapa banyaknya manusia di negeri ini yang selalu bermimpi akan kebahagiaan, akan tetapi hanya bisa memimpikan…
    Tags: yang, dengan
  • 53
    Melayani. Kata kerja ini sudah tidak asing bagi kita umat Kristiani. Kata yang mempunyai membantu mengurus apa yang diperlukan seseorang ini tidak asing bagi hidup orang Kristiani dan telah menjadi bagian dari kehidupan misalnya dalam Liturgi dan peribadatan maupun dalam kegiatan gereja maupun di masyarakat. Kata melayani ini pula diangkat menjadi tema Bulan Kitab Suci…
    Tags: yang
  • 53
      Ngrawoh (LENTERA) - Mendung yang menyelimuti Taman Doa St. Perawan Maria Fatima Ngrawoh tidak menyurutkan tekat 400 orang umat Paroki Sragen untuk hadir di tempat tersebut. Malam Jum'at Wage (02/06), bertepatan dengan Perayaan Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus, Ekaristi Novena IV Putaran VI dilaksanakan. Tema yang perayaan Ekaristi “Martakake Kabungahan Kanthi Nresnani kang…
    Tags: yang, dengan