Menghidupi Injil di Tengah Keberagaman

IMG_6393

Realitas kita
Bagaimana rasanya membenci saudara dalam keluarga tapi anda hidup serumah dengan mereka? Tidak ada rasa hormat pada ayah, sering bertengkar dengan ibu, dan tidak ada rasa kasih sayang pada saudara sendiri. Seperti itulah kira-kira ketika anda hidup di Indonesia, mencari makan dan bergantung pada tanahnya, tapi anda membenci orang-orang sekitar dan pemerintahan yang berkuasa.

Saat membenci pemerintah, yang anda benci mungkin baik-baik saja, tapi siapa yang menanggung ‘ketidaknyamanan’ sebagai konsekuensi dari rasa benci itu sendiri? Bagaimana mungkin anda meminum racun tapi berharap orang lain yang mati? Apakah dengan membenci, serta merta pemerintah akan berganti sendiri? Ketidakpuasan terhadap pemerintah selalu ada, tidak peduli siapa yang sedang berkuasa.

Orang bilang, katanya jaman Pak Soeharto adalah jaman yang paling enak hingga ada gambar wajah pak Harto dengan tulisan di bak truk: “Isih enak jamanku, ta?” Kenapa dulu orang-orang kompak melengserkan? Apakah benar jika kebaikan orang lebih kelihatan saat sudah jadi mantan? Dulu dicerca, sekarang dipuja. Sekarang dihina, kalau sudah jatuh baru kelihatan baiknya!

Anehnya, hal seperti itu kadang dijumpai dalam kehidupan menggereja. Pernah terjadi ada paroki dimana umatnya selalu memusuhi imamnya. Kata-kata tidak senang dilontarkan melalui pertemuan umat maupun lewat sosial media, sedemikian rupa sehingga rama itu menjadi tidak krasan. Beberapa saat sesudah rama paroki diganti, umat membicarakan kebaikan gembala itu tiada henti. Bahkan mereka setiap tahun mengadakan acara ziarah ke makam para rama yang pernah berkarya di paroki tersebut.

Kenapa?
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Karena pemerintah juga berasal dari kita-kita. Percuma mengganti total semua pejabat negara, karena masalah moral ini telah merata ke seluruh rakyat Indonesia, karakter buruk pemerintah sudah mencapai lapisan rakyat paling kecil. Ya, itu adalah KITA sebagai masyarakatnya. Wakil rakyat yang ada sekarang ini berasal darimana? Dari KITA kan? Berarti KITA-lah yang sebenarnya bobrok sehingga menghasilkan penguasa dan wakil rakyat yang bobrok juga.

Kalau melihat ada anggota dewan yang berantem dalam sidang, itu karena dia berasal dari kultur masyarakat yang anarkis. Kalau melihat ada pejabat kita yang korup, ya karena dia berasal dari masyarakat yang feodal dan konsumtif. Yang dulu lantang berteriak di jalan menentang korupsi, justru saat diangkat mereka melakukan hal yang dulu ditentangnya. Karena apa? Karena ia pun berasal dari masyarakat yang tidak “TERDIDIK”.

Dulu negara kita pernah dipimpin oleh ilmuwan, tapi tidak membuat rakyatnya serta merta intelek semua. Negara kita pernah dipimpin seorang ulama, tapi tidak membuat rakyatnya religius dan berkarakter mulia. Negara kita juga pernah dipimpin seseorang yang bijak, tapi tetap saja rakyatnya banyak yang anarkis. Karena masyarakat terlalu berharap bahwa pemerintah yang akan mengubah mereka, tapi mereka tetap saja mempertahankan karakter-karakter lama, tidak terdidik dan tidak bisa menghargai perbedaan.

Tetap berharap
Kita wajib bersyukur karena pada tahun ini Keuskupan Agung Semarang saat usianya genap 77 tahun dan menerima anugerah uskup baru, dipercaya untuk menyelenggarakan Asian Youth Day (AYD) ke-7. Lewat perhelatan akbar ini agaknya Allah yang Mahabesar mengingatkan kita akan realitas berbangsa dan bernegara yang dibangun dari bermacam-macam unsur yang berbeda, baik suku, agama, ras maupun budaya. Allah yang kita imani adalah pribadi yang penuh kasih sayang mau merawat dan memelihara bangsa ini dengan baik. Tuhan Allah tidak bisa melupakan anaknya, betapapun kita ini nakal dan memberontak.

“Dapatkan seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun ia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes 49:15). Sabda Tuhan ini memberikan harapan bahwa di tengah-tengah kesulitan dan tantangan, umat tidak dibiarkan berjalan sendirian karena Allah tetap setia akan janji-Nya. Oleh karena itu sebagai umat beriman kita tidak perlu cemas dan kuatir. Tuhan Yesus bersabda, “Janganlah kamu kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan dan akan apa yang hendak kamu pakai” (bdk Mat 6:25). Kita percaya sepenuhnya kepada penyelenggaraan Tuhan dalam hidup ini.

.
Realitas Lain
Pada hari kamis 16 Februari 2017 lalu, terlihat sebuah pemandangan yang unik di Gereja St Antonius Kotabaru Yogyakarta Tampak murid-murid dari SD Budi Mulia memenuhi ruangan. Bahkan peserta kegiatan itu ada juga yang berhijab.Ternyata pihak gereja menjelaskan jika mereka memang terbuka bagi siapapun juga untuk dikunjungi, seperti yang dikutip dari akun facebook Paroki Kotabaru Jogja, Minggu (19/2). Tak hanya sekali, Gereja St Antonius juga mendapat kunjungan serupa dari sekolah TK/Raudhatul Athfal Beniso, Karangkajen pada Sabtu (18/2) yang lalu. Kegiatan ini memang terbilang unik, tujuan dari kunjungan mereka ternyata adalah dalam rangka pengenalan tentang keberagaman di Indonesia. Pertanyaan yang diajukan oleh anak-anak itu pun beragam, seperti misalnya, ada anak yang bertanya: “Romo, orang yang tangannya dipalang di atas itu siapa?” atau “Romo, itu bunga untuk apa?” Bahkan ada juga yang bertanya, “Kalau aku masuk di gereja, aku harus ngapain?” Ada juga anak yang berkomentar “Mas, itu ada gambar“, sambil menunjuk lukisan kisah Yesus yang membangkitkan Lazarus. Sontak saja pemandangan unik yang menunjukkan indahnya keberagaman dalam beragama yang diunggah oleh pihak gereja dalam akun facebooknya Paroki Kotabaru Jogja ini menuai pujian dari netizen.

Bagaimana dengan paroki kita tercinta St Perawan Maria di Fatima ini? Selamat merenung dan menemukan ide-ide cemerlang untuk “Menghidupi Injil di Tengah Keragaman” ini ..
Salam dan Berkah Dalem

Rm FX Suyamta Pr
Pastor Paroki

Related Posts

  • 78
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 74
      Pengantar “Mens sana in corpore sano”, slogan ini begitu populer dan akrab di telinga, lebih-lebih mereka yang menyukai olahraga. Jiwa yang sehat ada di dalam badan yang sehat, itulah kira-kira maksudnya. Secara umum slogan ini bisa dibenarkan, bahwa biasanya orang yang sehat secara jasmani tidak mengalami masalah kejiwaan (iman) yang berarti, sebaliknya orang yang…
    Tags: yang, tidak, kita, dan, ini
  • 73
    Selamat Tahun Baru 2015 ! Syukur kepada Tuhan karena kita bisa bertemu lagi di tahun yang baru, suasana baru dan hati yang baru pula. Semoga tahun 2015 ini memberikan warna baru dalam kehidupan kita masing masing, terlebih kehidupan iman kita untuk lebih mampu mendekatkaan diri kepada Bapa. Sobat wanita terkasih dalam Kristus,...kiranya sudah cukup banyak…
    Tags: kita, yang, dan, itu, ada