Asian Youth Day (AYD) ke-7: Catatan Perjalanan Delegasi Indonesia dari Paroki Sragen

delegasi AYD Sragen

Hai kawula muda, pada kesempatan ini penulis akan mempersembahkan sebuah catatan perjalanan sepekan pelaksanaan Asian Youth Day (AYD) ke-7 di Indonesia. Sebelum dimulai, penulis adalah salah satu delegasi Indonesia yang berasal dari Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Kegiatan AYD terbagi dalam dua rangkaian agenda. Pertama adalah kegiatan Days in Diocese (DID), atau lebih dikenal dengan kegiatan live-in di suatu keuskupan. Kedua, yaitu adalah kegiatan di lokasi utama di gedung Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta. Jumlah seluruh peserta AYD berkisar di angka 2080, 1177 dari Indonesia dan 903 dari luar negeri. Sejumlah 2080 peserta ini mengikuti kegiatan DID yang tersebar di 11 keuskupan di Indonesia. Setelah itu pada 2 Agustus pagi seluruh peserta diterbangkan ke Yogyakarta. Berhubung penulis berasal dari KAS maka penulis mendapat lokasi DID di KAS.

Kegiatan DID berlangsung dari hari Minggu hingga Rabu pagi (30 Juli-2 Agustus). Lokasi DID penulis berada di Muntilan, tepatnya di Paroki Sumber yang terletak di lereng Gunung Merapi. Di sana, penulis tinggal bersama orang tua angkat dan seorang peserta AYD dari Laos yang bernama Laty Xailingdam. Laty tidak begitu lancar berbahasa Inggris, tetapi untuk percakapan sehari-hari masih bisa penulis mengerti.

Hari pertama AYD di lokasi DID adalah hari yang penuh suka cita. Pagi itu penulis bersama para peserta AYD yang lain, termasuk peserta asing, mengikuti misa penyambutan peserta AYD. Misa dilakukan di Gereja Paroki Sumber. Kurang lebih 80 peserta AYD mengikuti misa tersebut bersama dengan masyarakat sekitar. Liturgi Ekaristi pada saat itu cukup unik. Lagu-lagu dibawakan dalam Bahasa Jawa dengan iringan gamelan, sedangkan bahasa pengantar dalam perayaan Ekaristi adalah dalam Bahasa Indonesia. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh beberapa romo, salah satu diantaranya adalah romo dari Korea Selatan. Romo tersebut sering disapa Father Jung (Romo Jung). Penulis yakin para peserta asing tidak memahami bahasa yang digunakan dalam perayaan Ekaristi, termasuk Father Jung, tetapi biarlah Roh Kudus yang menggenapi.

Para peserta yang live-in di Sumber berasal dari Indonesia, Laos, Nepal, Pakistan, Korea Selatan, dan Bangladesh. Pada malamnya kami semua mengikuti pertemuan wilayah bersama masyarakat setempat. Pada kesempatan tersebut para peserta AYD berbagi pengalaman tentang menjadi Katolik di negara kami masing-masing. Ada beberapa hal menarik yang penuli dapatkan dari mereka. Salo (Laos) menceritakan bahwa di negaranya orang jarang menganut suatu keyakinan, dan karena suatu hal di negaranya ia tidak bisa bebas menunjukkan identitasnya sebagai orang Katolik. Hal berbeda diceritakan oleh Rupon (Bangladesh). Di negaranya penganut agama tertentu adalah mayoritas, terlebih Rupon merasakan bahwa para penganut tersebut termasuk golongan ekstrem. Namun Rupon merasa bangga akan identitasnya sebagai orang Katolik.

Hari kedua AYD di lokasi DID terasa lebih seru. Kami mengunjungi kekayaan budaya di Paroki Sumber. Diantaranya adalah sekolah sawah, kediaman tokoh spiritual alam Gunung Merapi, sanggar tari yang bernama Bangun Budaya, pondok pesantren, Candi Pendem, dan Candi Asu.

Pada hari ketiga, kami belajar menari. Para peserta AYD, termasuk peserta asing, belajar menari yang dipandu oleh tim dari sanggar yang ada di Paroki Sumber. Hasil latihan menari tersebut lalu dipertontonkan pada malam hari dalam acara bertajuk perpisahan.

Hari keempat, Rabu pagi pada keesokan harinya para peserta AYD diberangkatkan menuju Yogyakarta, termasuk para peserta AYD yang tersebar di 11 keuskupan di Indonesia juga diterbangkan menuju Yogyakarta. Penulis menuju JEC. Di sini berbagai peserta dari penjuru Indonesia dan Asia berkumpul. Tidak kurang sebanyak 20 negara ikut berpartisipasi dalam AYD. Penulis dan para peserta lain berdinamika hingga hari Minggu pagi. Banyak dinamika yang kami lakukan. Diantaranya perayaan Ekaristi harian (tentunya dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris dan lagu-lagu dalam berbagai bahasa di Asia), pameran budaya oleh setiap negara peserta AYD, kunjungan budaya lokal bersama kardinal dan uskup asing, dan workshop bersama uskup asing.

Beberapa hal menarik yang ingin penulis bagikan, pertama, merasakan perayaan Ekaristi dalam bahasa asing merupakan pengalaman yang luar biasa, terlebih dengan lagu-lagu liturgi yang penulis tidak mengerti (kadang berbahasa Melayu, kadang Bahasa Jepang, Korea, Thailand, Vietnam, dan masih banyak lagi). Kedua, ikut ambil bagian dalam kegiatan ini juga suatu pengalaman yang luar biasa.Di gedung JEC para uskup serta para kardinal berlalu-lalang tanpa di kawal secara khusus. Ini memberikan penulis banyak kesempatan untuk sekedar berkenalan atau mengobrol pada saat jeda coffee break dan makan siang. Terakhir, penulis ingin berbagi pada kalian para kawula muda sebuah quotes dari Bishop Baylon, “Be OMG, Online Missionaries of God”. Sekian, Berkah Dalem. (SFN)

Related Posts

  • 60
    Tawangmangu (LENTERA) – REKAT (Remaja Katolik) Sragen mengadakan Rekoleksi hari Jumat (26/06) – Minggu (28/06) bertempat di Gereja Santa Maria Tawangmangu. Tema yang dipilih dalam Rekoleksi kali ini adalah “Kamu Sesuatu Banget Bagiku!”. Rekoleksi diikuti oleh 77 orang, meliputi 50 siswa SD kelas 6 sampai SMP kelas 8, 9 orang panitia dan 18 fasilitator dari…
    Tags: yang, peserta, dan, di, dalam, hari, dari
  • 60
    Yogyakarta (LENTERA) - Asian Youth Day (AYD) adalah pertemuan kaum muda Katolik di Asia. Perayaan Ekaristi penutupan AYD diadakan di lapangan Dirgantara Udara Adi Sucipto, Minggu (6/8). Perayaan Syukur tersebut dihadiri oleh seluruh peserta AYD dari 20 negara di Asia, Uskup se-Asia, perwakilan umat Katolik dari berbagai keukupan di Indonesia, khususnya umat Keuskupan Agung Semarang.…
    Tags: yang, ayd, dan, di, indonesia, dalam, bahasa, pada, peserta, dari
  • 59
    Klaten (LENTERA) - “Menjadi Pribadi yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif ” adalah tema yang mendasari kegiatan retret Prodiakon Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen. Tema tersebut diambil dengan tujuan agar supaya para prodiakon paroki tahu, sadar, dan ikut ambil bagian dalam pelaksanaan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang. Retret tersebut dilaksanakan pada hari Jumat (1/7)…
    Tags: dan, dalam, yang, pada, peserta, di, hari, para