Mewartakan Injil Di Abad Digital

evangalisasi di era digital

Pesan Yesus kepada para murid: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:19-20). Perintah Yesus itu diberi keterangan waktu: ‘sampai akhir zaman’. Dari saat Yesus mengatakan perintah tersebut kepada para murid waktu itu hingga hari ini telah melampaui waktu dua ribu tahun lebih. Dari waktu ke waktu dan dari zaman ke zaman, para murid Kristus dengan pelbagai situasi dan keadaan zamannya telah melaksanakan perintah Kristus, walau harus kita akui bahwa rupanya hampir tidak mungkin menjadikan semua bangsa sebagai ‘murid Kristus’, apalagi membaptis semua bangsa.

Kira-kira separuh dari seluruh penduduk dunia secara formal adalah orang Kristen dengan segala macam denominasi. Fakta menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa menerima ajaran-ajaran Kristus, bahkan yang secara formal sudah menjadi Kristen pun tidak sedikit yang meninggalkan iman mereka. Pertanyaannya: mengapa tidak mudah melaksanakan perintah Kristus tersebut? Ketika Yesus Kristus sendiri masih hadir dan berkarya di dunia ini pun sudah mengalami penolakan, apalagi hanya murid-murid-Nya yang meneruskan. Memang kita sadar bahwa Yesus selalu menyertai para murid-Nya melalui bimbingan Roh Kudus, tetapi dari sejarah kita mengalami betapa kejamnya dunia ini sehingga hal baikpun tidak serta-merta mendapat respon positif.

Mungkin kita masih bisa berdiskusi panjang-lebar mengenai kata ‘segala bangsa’, apakah itu sama dengan ‘semua orang’? Bisa jadi dari segala bangsa yang kini ada di dunia, paling tidak secara perwakilan sudah ada yang menjadi murid Kristus. Perkembangan zaman, peradaban manusia dan terakhir perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terlebih teknologi komunikasi pada zaman akhir ini membuktikan sangat berpengaruh dalam kehidupan iman. Ada masa-masa kejayaan Gereja, lebih-lebih pada abad pertengahan, ketika kekristenan mendominasi kehidupan dunia. Namun, kehidupan itu dinamis dan tiap zaman ada tantangan tersendiri untuk kehidupan iman.

Kecenderungan umum dari arus global yakni bahwa kehidupan manusia menjadi semakin sekular. Hal-hal menyangkut kehidupan iman, kehidupan rohani bagi cukup banyak orang cukup menjadi suatu hal yang ritual, yang tidak terlalu dianggap penting, kalau tidak mau dikatakan tidak lagi diperlukan. Walau di Indonesia khususnya agama seolah menjadi hal yang menonjol atau dominan, tetapi sebenarnya agama terlebih hanya sekadar dijadikan alat entah untuk kepentingan politis atau demi melanggengkan suatu kekuasaan. Fanatisme orang terhadap agama tertentu tidak dilandasi sesuatu yang mendalam, yakni pengalaman perjumpaan dengan Allah dan kerinduan untuk mengalami pengalaman transendental, tetapi terpaku pada dogma-dogma dan doktrin-doktrin yang membatasi eksistensi Allah yang maha tak terbatas.

Kebutuhan dan kerinduan manusia untuk mengalami keheningan dan kedamaian, dipenuhi dengan cara yang salah, yakni melarikan diri dari realitas hidup yang sulit dengan mengkonsumsi narkoba. Ketika orang mengalami ‘trans’ atau ‘sakaw’ atau saat melayang dalan ketidaksadaran, mereka merasa tenang, tetapi itu adalah ketenangan palsu. Kesejatian iman selalu dilandasi pengalaman transendental ketika manusia sebagai ciptaan yang terbatas mengalami kebesaran Allah yang maha tak terbatas. Pencarian akan Allah di dalam Injil dikatakan dengan istilah orang yang “duduk di bawah pohon ara”, orang yang mencari keheningan sejati. Natanael atau Bartholomeus dikatakan oleh Yesus sebagai “orang Israel sejati” karena dia orang yang mencari jati kehidupan dengan mencari keheningan dan duduk di bawah pohon ara sebelum dipanggil Filipus dan dipertemukan dengan Yesus. “Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” (Yoh 1:47-48).

Isi iman dari waktu ke waktu tidak pernah berubah. Injil yang ditulis dua ribu tahun yang lalu ya masih tetap sama. Yang menjadi soal atau pertanyaan ialah, bagaimana di abad digital ini iman kristen dan warta Injil Kerajaan Allah tetap relevan? Di era digital ketika manusia makin mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi, iman tidak bisa hanya menjadi rumus-rumus dogmatis dan doktrin-doktrin tanpa ada refleksi teologis yang mempertanggungjawabkan iman secara intelektual. Ketika orang hanya berpikir pragmatis dan tidak mendalam, maka agama hanya menjadi sesuatu yang ritual dan orang punya anggapan bahwa kehidupan akan dijamin kalau orang sudah melakukan doktrin-doktrin agama tanpa dapat mempertanggungjawabkan secara intelektual. Agama menjadi sesuatu yang asing dan teralienasi dari kehidupan yang makin mengandalkan logika dan akal sehat.

Dengan kata lain, sudah waktunya umat harus mau belajar teologi. Dengan teologi, orang mempertanggungjawabkan iman secara intelektual. Ketika orang dapat mempertanggung-jawabkan imannya, orang tidak akan jatuh dan meninggalkan imannya dengan mudah, sekalipun tantangan zaman itu berubah dan bermacam-macam. Selain itu perkembangan teknologi juga harus mendukung pendidikan iman yang benar agar orang tidak mudah menerima hasutan-hasutan, provokasi dan bahkan iming-iming murahan untuk meninggalkan imannya. Berkah Dalem.

Robertus Hardiyanta, Pr

Related Posts

  • 80
    Pernah lihat mobil penuh dengan debu? Ditemukan sepeda motor yang bergelepotan tanah? Pasti pemiliknya jarang or gak pernah mencucinya, sehingga memancing tangan-tangan jahil menulis komentar yang bernada sinis dan mengejek: “kapan aku dicuci”, “pemalas alias kesed”, “ikh, jorok!” dll. Nah, kondisi kotor pada kendaraan seperti itu bisa mengurangi rasa ketertarikan, orang menjadi malas memandang apalagi…
    Tags: yang, dan, orang, itu, tidak, dengan, di, iman
  • 72
    Oleh: Rm. CT. Wahyono Djati Nugroho, Pr Belajar dari realitas hidup seorang simbah..... “Lik Karsa, awan-awan ngene ki arep menyang ngendi?” itulah salah satu cuplikan sapaan seorang warga di perbukitan menoreh. “Arep nyang Greja gene, lha kowe ora menyang po le?” Jawab spontan mbah Karsa putri dengan suara terengah-engah, karena sudah termakan usia. Mbah karsa…
    Tags: yang, iman, dan, dengan, dari, tidak, menjadi, di, itu
  • 66
    “Dari Sabang Sampai Merauke Berjajar Pulau Pulau Sambung Menyambung Menjadi satu Itulah Indonesia” Hallo sobat muda LENTERA, apa kabar? Kita jumpa lagi nih dalam rubrik yang tentunya paling dikangeni, hehe. Sahabat Muda tau dong penggalan lagu di atas judulnya apa? Yup, betul sekali judulnya adalah “Dari Sabang Sampai Merauke”. Lagu tersebut adalah Lagu Nasional yang…
    Tags: yang, dengan, dan, dari, di, itu, tidak, orang, menjadi