Surat Gembala Hari Pangan Se-Dunia 2017 Keuskupan Agung Semarang

wfd2017 b

Diterangkan/dibacakan pada Sabtu – Minggu, 14 – 15 Oktober 2017

“ MEMBANGUN GIZI ”

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Hari Pangan Sedunia (HPS) diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Peringatan HPS merupakan salah satu resolusi atau putusan bersama Konferensi Negara-negara anggota Food and Agriculture Organization (FAO) yang diselenggarakan pada bulan November 1976 di Roma. Sebagai resolusi bersama, Negara-negara anggota FAO, termasuk Indonesia, mulai memperingati HPS semenjak tahun 1981. Namun demikian, Gereja Katolik di Indonesia mulai turut serta dalam gerakan peringatan HPS semenjak 16 Oktober 1982.

Hari Pangan Sedunia diperingati sebagai momentum untuk bersama-sama peduli dan mau terlibat dalam keprihatinan dan usaha menangani masalah pangan, terutama persoalan kelaparan, kekurangan gizi, dan kemiskinan yang terjadi di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Melalui peringatan dan gerakan HPS, masyarakat dunia, termasuk Gereja, diajak untuk ambil bagian dalam gerakan solidaritas kemanusiaan untuk membangun kedaulatan dan ketahanan pangan demi kesejahteraan hidup bersama.

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Berkaitan dengan peringatan dan gerakan HPS, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) mengajak seluruh umat katolik di Indonesia pada tahun 2016-2018 menitikberatkan perhatian pada tema “Penguatan Pangan Keluarga Demi Kesejahteraan Hidup Bersama”. Selain perhatian pada upaya penguatan pangan, perhatian kepada keluarga dipilih karena keluarga adalah “sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat” (bdk. Familiaris Concortio art. 42). Oleh karena itu, pada peringatan dan gerakan HPS tahun 2016 dimunculkan tema: “Penguatan Pangan Berbasis Keluarga”. Dengan tema ini, setiap keluarga katolik diajak untuk membangun kesadaran akan pentingnya kecukupan dan ketersediaan pangan, serta mengembangkan solidaritas pangan berbasis keluarga.

Pada tahun 2017 ini, peringatan dan gerakan HPS secara khusus mengolah tema “Membangun Gizi Keluarga”. Dengan tema ini, Gereja mengajak seluruh umat katolik di Indonesia, terutama melalui keluarga, memberi perhatian dan turut ambil bagian dalam usaha membangun kualitas hidup manusia dengan ketercukupan gizi bagi seluruh anggota keluarga dan membangun solidaritas sosial, dengan tulus membantu mereka yang kelaparan dan menderita gizi buruk.

.
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Undangan untuk mau terlibat aktif dalam usaha mewujudkan kesejahteraan bersama juga dapat kita renungkan melalui sabda Tuhan yang kita dengarkan hari ini. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah dan undangan bagi siapa pun juga untuk terlibat dalam usaha membangun dan mewartakan Kerajaan Allah. Yesus bersabda, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya.” (Mat 22:2) Allah digambarkan sebagai seorang Raja yang telah mempersiapkan segala sesuatu yang perlu untuk berbagi kegembiraan bersama dengan para tamu undangan dalam perjamuan nikah anaknya. Walaupun kecewa karena para tamu undangan tidak datang, sang Raja tetap sabar dan ingin berbagi kegembiraan. Maka, ia menyuruh para hambanya: “Perjamuan nikah telah tersedia, tetapi yang diundang tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kalian jumpai di sana ke perjamuan ini” (Mat 22:8-9).

Merenungkan sabda Tuhan hari ini, pantaslah kita bersyukur atas panggilan dan perutusan kita. Sebagai murid-murid Yesus Kristus, kita dipanggil dan diutus mewujudkan dan mewartakan Kerajaan Allah dalam kehidupan kita sehari-hari dengan tekad yang sungguh-sungguh. Kesungguhan tekad ini digambarkan secara konkret dalam upaya mengenakan pakaian pesta pada saat perjamuan.

.
Dalam perjamuan pesta seperti digambarkan dalam bacaan Injil, tentu di sana terdapat banyak hidangan yang disajikan. Apa yang disajikan itu berasal dari bumi yang diberikan kepada manusia sebagai anugerah untuk kita syukuri. Kita patut bersyukur karena Allah telah mempercayakan anugerah-anugerah itu untuk kita pelihara, kelola dan kembangkan dengan baik. Sebab semuanya itu memberikan manfaat untuk hidup kita. Maka salah satu cara menyukuri anugerah hidup adalah dengan sepenuh hati memelihara dan meningkatkan kualitas hidup manusiawi kita dan sesama. “Allah menghendaki, supaya bumi beserta segala isinya digunakan oleh semua orang dan sekalian bangsa, sehingga harta-benda yang tercipta dengan cara yang wajar harus mencapai semua orang, berpedoman pada keadilan, diiringi dengan cinta kasih (bdk. Gaudium et Spes art. 69).

Tanggung jawab untuk memelihara dan meningkatkan kualitas hidup manusiawi tidak cukup sebatas mengupayakan ketersediaan pangan supaya tidak terjadi kelaparan. Tekad dan niat untuk memperhatikan dan meningkatkan kualitas hidup manusia dapat diwujudkan dengan meningkatkan kualitas gizi dari pemenuhan kebutuhan pangan kita, mulai dari komunitas kita yang paling kecil, yakni keluarga.

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Banyak hal yang bisa kita buat sebagai bentuk gerakan bersama di tengah keluarga untuk membangun kualitas gizi bagi seluruh anggota keluarga dan mewujudkan solidaritas kita terhadap siapa pun di sekitar kita yang kelaparan dan menderita gizi buruk. Di tengah keluarga, kita dapat mengupayakan ketercukupan makanan yang bergizi seimbang. Makanan yang bergizi seimbang tidak selalu identik dengan makanan yang mahal dan bergaya modern. Setiap keluarga dapat mulai dengan mengupayakan makanan yang sehat dan bergizi seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing.

Dulu kita akrab dengan slogan “empat sehat, lima sempurna” yang terdiri dari 1) makanan pokok, 2) lauk-pauk, 3) sayur-sayuran, 4) buah-buahan, dan 5) susu sebagai konsep makanan bergizi bagi keluarga. Seiring dengan perkembangan zaman dan munculnya berbagai macam persoalan kesehatan, konsep makanan “empat sehat, lima sempurna” tidaklah cukup untuk menjawab persoalan mengenai kebutuhan makanan yang sehat dan bergizi seimbang. Sejak tahun 1994, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, melalui Direktorat Bina Gizi Masyarakat mengingatkan perlunya keluarga-keluarga mengupayakan keterpenuhan gizi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan berdasarkan usia, jenis kelamin, kesehatan, maupun aktivitas fisik seseorang dengan tetap memperhatikan kombinasi kebutuhan akan sumber zat tenaga (padi-padian, umbi-umbian, tepung-tepungan), sumber zat pengatur (sayur-sayuran dan buah-buahan), serta sumber zat pembangun (baik protein nabati maupun hewani).

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Melalui peringatan HPS kali ini, marilah kita bersyukur atas kelimpahan rahmat Tuhan dan bersama keluarga kita masing-masing berusaha membangun kualitas hidup yang lebih baik dengan memperhatikan dan mengupayakan kualitas gizi yang seimbang. Hal ini kita usahakan dengan tanpa meninggalkan keutamanan hidup kristiani yang mau berbelarasa dan solider terhadap saudara-saudari kita yang berkekurangan. Semoga dengan belarasa dan solidaritas ini, saudara-saudari kita pun bisa memenuhi kebutuhan mereka akan makanan yang sehat dan bergizi.

Pada kesempatan ini marilah kita bersyukur karena para petani dan peternak dengan tekun dan sabar mengupayakan ketersediaan pangan untuk kita semua. Semoga mereka senantiasa dilimpahi rahmat kesehatan dan kesejahteraan. Kita berdoa dan berupaya semoga keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas senantiasa mengupayakan gizi yang baik bagi anggota-anggotanya. Semoga Allah dalam kemurahanNya senantiasa melimpahkan berkat untuk kita semua, supaya “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemulianNya dalam Kristus Yesus” (Flp 4:13-14.19)

Semarang, 7 Oktober 2017
Peringatan St. Perawan Maria Ratu Rosario – Pelindung Gereja Katedral Semarang

† Robertus Rubiyatmoko
Uskup Agung Semarang

Related Posts

  • 93
    “PENGUATAN PANGAN BERBASIS KELUARGA” Dibacakan/diterangkan, Sabtu-Minggu, 15-16 Oktober 2016 Saudari-saudaraku yang terkasih Dua tahun terakhir ini, pembicaraan tentang keluarga menjadi salah satu pokok perhatian Gereja. Tahun 2014 dan 2015 diadakan sinode para uskup sedunia di Roma, membahas tentang keluarga. Sidang KWI November 2015 diawali dengan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) memberi perhatian tentang keluarga:…
    Tags: dan, yang, keluarga, kita, untuk, dalam, dengan, pangan
  • 88
    ‘Pertobatan’ mungkin merupakan salah satu aspek kehidupan orang Kristiani yang paling gencar dipromosikan, tetapi paling sedikit dipraktekkan. Ada banyak faktor yang menjadi penyebap mengapa orang tidak rutin untuk ‘bertobat’. Ada faktor kemalasan. Ada yang beralasan terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Ada juga yang bahkan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang harus dilakukan. Sangat disayangkan, karena pada…
    Tags: kita, yang, untuk, dan, dalam, dengan
  • 85
    Dibacakan/diterangkan hari Sabtu-Minggu, 21-22 Januari 2017 “Menghadirkan Gereja Yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif dalam Masyarakat Multikultural” Saudari-saudaraku yang terkasih, Kita semua bersyukur memasuki tahun kedua Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS) 2016-2020. Tema pelayanan pastoral tahun 2017 adalah “Menjadi Gereja yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif yang Hidup Bergairah dalam Masyarakat Multikultural”. Tema ini berbingkai…
    Tags: yang, dan, dalam, kita, dengan, untuk