Bunda Maria, Pertolonganku Menghayati Pertobatan

Romo Sapta

Salam jumpa dan salam kenal lewat kolom pastoralia. Saudara dan Saudariku, demi merenungkan gagasan tersebut di atas, ada dua hal yang saya tawarkan: pengertian pertobatan dan pertolongan Sang Bunda Maria demi pertobatanku.

Kali ini kita mengambil pengertian “pertobatan” sebagai upaya orang meninggalkan keyakinan atau kepentingan diri dan bermaksud sepenuhnya mengikuti kehendak Allah Bapa. Mengapa keyakinan diri atau kepentingan diriku ditinggalkan? Paling kurang, hal itu dilakukan karena aku menyadari bahwa ada kondisi yang lebih baik dan aku mengalami kebenaran iman dianugerahkan kepadaku, bilamana aku bersedia meninggalkan keyakinan diri tersebut.

Ada contoh? Tokoh dalam Kitab Suci amat banyak; misalnya pengalaman Santo Petrus (Luk. 5: 1-8). Perjumpaannya dengan Tuhan Yesus menjadi titik balik hidupnya. Sebagai seorang nelayan, Petrus sungguh ahli, namun dari ungkapan ini nampak bahwa Petrus “harus” bersedia menerima sesuatu yang lain yang tidak diduganya, . . . “Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Kerja keras sepanjang malam dari seorang ahli penangkap ikan ternyata tidak membuahkan hasil, dan toh kemudian bersedia menjalankan perintah Tuhan Yesus, “. . . tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan…” Dalam hal inilah Petrus bersedia meninggalkan keyakinan diri dan rahmat yang kemudian diberikan adalah kebenaran iman dari Tuhan Yesus. Pertanyaan reflektif untuk kita, bersediakah aku menerima perintah Tuhan Yesus, sebagai kebenaran iman?

Bunda Maria memberikan pertolongan
Sedikit lain dari tema yang ditawarkan, yakni soal pertobatan. Bunda Maria, apakah ada kaitannya dengan pertobatanku? Apalagi memohon bantuannya? Aneh bukan?

Bercermin pada hidup Bunda Maria demi membina pertobatan, itu memang menjadi pilihan yg tepat. Itu menjadi jalan yang bagus. Sebab Bunda Maria telah mengalami bagaimana ia harus meninggalkan keyakinan diri dan selanjutnya bekerja sama dengan rahmat Allah demi terlaksananya karya penyelamatan Allah Bapa dalam karya Tuhan Yesus Kristus. Bunda Maria bersedia menerima perintah Allah itu sebagai kebenaran iman.

Ketika mendapat kabar dari Malaikat Gabriel, Maria menanggapi dengan, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Kata Maria kepada malaikat. Lewat ungkapan itu agaknya sudah terasa bahwa ada semacam dinding penghalang langkahnya. Belum bersuami tetapi Maria diperintahkan untuk segera memiliki anak. Kelanjutan kisahnya tentunya kita sudah paham, bahwa kemudian Bunda Maria bersedia mengambil perintah itu sebagai kebenaran iman. Dalam hal ini kiranya boleh disebut sebagai “pertobatan” Bunda Maria.

Jadi jelaslah bahwa Maria telah bersedia bekerja sama dengan rahmat Allah dan telah melaksanakannya atas cara yang paling sempurna. Maka memohon pertolongannya untuk hal ini adalah tepat. Bunda Maria telah mengalami dan bahkan harus menjadi contoh unggul mengenai hal ini. Akhir kata marilah kita memohon kesediaannya mendoakan kita untuk bisa mengalami pembaharuan pertobatan terus-menerus.

Romo Medardus Sapta Margana, Pr

Related Posts