Hari Pangan Se-Dunia 2017: Syukur atas Hasil Bumi yang Melimpah

hps sragen

Paroki Sragen (LENTERA) – Hari Pangan Sedunia (HPS), yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober, merupakan suatu resolusi dari negara-negara anggota Food and Agriculture Organization (FAO) yang diselenggarakan pada bulan November 1976 di Roma. Negara Indonesia, yang merupakan anggota FAO, mulai ambil bagian dalam peringatan HPS pada tahun 1981. Sementara itu, Gereja Katolik di Indonesia turut serta dalam gerakan peringatan HPS mulai tahun 1982.

Peringatan Hari Pangan Sedunia dirayakan oleh Umat Paroki Sragen dengan mengadakan Ekaristi Syukur, Minggu (15/10). Saat Perayaan Ekaristi yang dilaksanakan pukul 07.30 tersebut, Gereja Santa Perawan Maria di Fatima menjadi semarak dengan hiasan hasil bumi yang melekat pada tiang-tiang gereja. Hiasan tersebut merupakan hasil jerih lelah umat di 13 Wilayah di Paroki Sragen. Panitia Ad Hoc HUT Paroki dan HPS 2017 Wilayah Petrus dan Gabriel menjadi penanggungjawab kegiatan tersebut.

Liturgi Ekaristi dipimpin oleh Romo Medardus Sapta Margana,Pr dan Romo Petrus Supriyanto,Pr. Dalam homilinya, Romo Sapta Margana mengurai Surat Gembala dari Bapa Uskup Mgr. Robertus Rubiatmoko yang mengangkat tema: “Membangun Gizi Keluarga”. Romo Sapto juga mengajak umat untuk mensyukuri hasil bumi dan kekayaan lokal terutama di Sragen, sehingga umat dapat memperkuat perekonomiannya.

Umat Lingkungan Ignatius Loyola Plumbungan Indah menjadi petugas paduan suara dan umat Stasi Yohanes Rasul Kedawung menjadi Petugas Liturgi pada Perayaan syukur HPS 2017. Petugas persembahan dan among tamu menggunakan busana khas Jawa, yaitu menggunakan kain lurik.

Umat Paroki Sragen Antusias
Hiasan dari hasil bumi ditata oleh umat wilayah pada Sabtu malam hingga hampir larut. Setelah selesai Perayaan Ekaristi, umat mengambil hasil bumi yang telah diberkati pada saat Perayaan Ekaristi sebagai tanda syukur telah diberi hasil bumi yang melimpah.

Related Posts

  • 64
      Ungkapan menjadi Gereja yang relevan dan signifikan sebenarnya bukanlah ungkapan yang baru. Dalam Arah Dasar Gereja Keuskupan Agung Semarang 2010-2015, kalimat ini menjadi semboyan yang kerap didengungkan. Lalu, bagaimana dengan Gereja Santa Perawan Maria di Fatima menghidupinya sampai sekarang. Menilik kembali makna signifikan dan relevan, kita bisa merenungkan sampai sejauh mana Gereja paroki kita memperjuangkannya.…
    Tags: dan, yang, gereja, dalam, dengan
  • 62
    Saya pernah berbincang-bincang dengan salah satu saudara seiman dalam perjalanan pulang setelah mengikuti Perayaan Ekaristi di gereja. Ia mengatakan bahwa ibadat atau liturgi di Gereja Katolik itu “ monoton” kaku” membosankan.” Tata cara ibadat dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan. Kurang mendorong untuk mengubah hidup. Katanya lagu-lagunya itu-itu saja hanya dari Madah Bakti dan…
    Tags: yang, dalam, di, liturgi, dan, dengan, gereja
  • 59
    Segenap umat Katolik yang terkasih, Konferensi Waligereja Indonesia menyelenggarakan sidang tahunan pada tanggal 6-16 November 2017 di Jakarta. Sidang dimulai dengan hari studi yang mengangkat tema Gereja Yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia. Tema tersebut diolah dengan mendengarkan masukan para narasumber, didalami dalam diskusi kelompok, dipaparkan dalam rapat pleno, dan dilengkapi dengan catatan…
    Tags: dan, yang, dengan, di, dalam, gereja