Sebuah Mukjizat Kecil

Taman Doa Ngrawoh Sragen

Pasca peresmian Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima Ngrawoh yang lalu, ribuan umat dari berbagai kota datang berbondong-bondong untuk melihat tempat tersebut. Apakah mereka hanya sekedar melihat lalu ber-selfie atau ber-wefie-ria, menggunggahnya di media sosial lalu setelah itu pulang? Jika ada, mungkin hanya segelintir atau sebagian orang saja.

Pengunjung atau boleh kita disebut dengan peziarah, hadir untuk menemukan dan memenuhi kerinduan rohani bagi jiwanya, Dimensi manusia rohani seolah menemukan kepenuhannya di tempat ini. Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima Ngrawoh ini kiranya menjadi ‘oase’ di tanah kering dan gersang sekitar Ngrawoh ini tetapi menjadi oase bagi jiwa yang merindukan kehadiran sapaan Tuhan melalui tempat doa. Fenomena adanya ribuan pengunjung yang mendatangi Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima Ngrawoh bukanlah tanpa sebab, melainkan menjadi suatu bagian dari kerinduan insan yang dalam peziarahan di dunia ini, mencari dan menemukan Tuhan sehingga dapat merasakan jaman dan sentuhan-Nya, berharap akan adanya pertolongan, mukjizat dari Allah dalam hidupnya.

Manusia pada dasarnya adalah kesatuan badan dan jiwa, jasmani dan rohani. Kepenuhan sisi jasmani manusia dapat dipenuhi melalui kebutuhan pokok hidup manusia, sementara sisi rohani dipenuhi melalui perjumpaan dengan Allah yang memberinya hidup. Oleh karenanya manusia pada dasarnya tidak bisa dipisahkan dengan Allah sendiri yang turut hadir di dalam diri manusia dengan memberinya nafas atau hembusan roh Kudus-Nya sehingga manusia hidup.

Kenyataan Allah yang hadir dalam hidup manusia melalui Roh ini menjadi kesadaran penting supaya manusia tidak lupa akan jati dirinya sebagai makhluk ciptaan-Nya. Ia akan selalu terhubung, terkoneksi dengan Sang pemberi hidup. Kerinduan untuk berjumpa dan terkoneksi dengan Allah ini menjadi dimensi spiritual dari manusia. Dimensi spiritual inilah pada akhirnya membuat manusia untuk melakukan upaya, olah badan dan jiwa agar mampu berjumpa dan berkomunikasi dengan Allah. Salah satunya cara yang ditempuh adalah melalui doa.

Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima Ngrawoh dibuat sebagai sarana untuk membangun komunikasi spiritual dengan Allah melalui doa. Berbeda dengan tempat-tempat doa lainnya seperti Gua-gua Maria yang cukup marak di daerah Jawa, Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima Ngrawoh tidak hanya sekedar sebagai tempat doa tetapi sekaligus tempat untuk merenungkan atau merefleksikan perjalanan hidup manusia itu sendiri. Ada tiga bagian yang menjadi pusat merefleksikan perjalanan hidup manusia; Gereja berjuang, Gereja berziarah dan Gereja mulia. Ketiga bagian ini menjadi gambaran perjalanan hidup umat beriman untuk dapat berjumpa dengan Allah Sang sumber hidupnya.

Gereja berjuang merupakan gambaran manusia yang masih ada di dunia sekarang ini. Manusia diajak untuk merenungkan perjalanan hidupnya, bahwa sebagai umat beriman pengikut Kristus memanggul Salib menjadi bagian tanggung jawab yang harus diemban sebagai pengikut Kristus. Manusia tidak bisa hanya diam saja, tanpa bergerak untuk menuju pada kemuliaan bersama dengan Allah. Ia harus senantiasa berjuang mengikuti jalan yang telah ditunjukkan oleh Kristus yakni Jalan Salib. Jalan Salib menjadi gambaran jalan yang harus dilalui selama hidup di dunia. Jatuh dan bangun dalam perjuangan hidup merupakan hal yang harus dialami. Mungkin terasa berat dan melelahkan tetapi kita yakin bahwa jalan inilah yang nantinya akan membawa kita kepada Allah. Akhir dari Jalan Salib adalah kematian. Kematian menjadi bagian hidup manusia yang tak terelakkan. Inilah akhir dari perjuangan hidup manusia di dunia ini sekaligus menjadi titik awal bagi perjalanan jiwa kembali kepada Allah.

Perjalanan hidup manusia memasuki babak yang baru sebagai jiwa. Perjalanan jiwa ini digambarkan sebagai Gereja berziarah yang sedang menempuh pemurnian. Dalam ajaran Gereja Katolik proses pemurnian ini dikenal dengan Api Penyucian atau ‘purgatorium’. Purgatorium merupakan suatu keadaan antara atau peralihan setelah kematian badan atau jasmani menjalani pemurnian sehingga mencapai kekudusan untuk memasuki kegembiraan surgawi. Gereja Katolik mengajarkan hal ini Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian (KGK # 1030-1032).

Dengan kata lain tempat (keadaan) di api penyucian ini, jiwa yang terarah kepada Allah mengalami permurnian, dikuduskan, disucikan. Sering kali orang salah mengartikan istilah api penyucian disamakan dengan pencucian, sementara yang dimaksud adalah penyucian (disucikan/dikuduskan) melalui pertobatan yang penuh dan bukan dicucikan (laundry). Penyucian melalui pertobatan yang penuh ini disimbolkan di Taman Doa Santa Maria di Fatima Ngrawoh dengan adanya kolam pertobatan yang mengingatkan bahwa kita ini manusia berdosa yang membutuhkan rahmat dari Allah. Dalam perjalanan jiwa ini kita diingatkan pula bahwa ada Bunda Maria yang akan selalu menemani untuk menghantar kita kepada Putera-Nya, per Mariam ad Jesum (melalui Maria kita sampai kepada Yesus).

Bersama dengan Yesus pada akhirnya, jiwa kita dikumpulkan dan dipersatukan dengan persekutuan Para Kudus dalam kemuliaan Allah Bapa. Gambaran persekutuan dengan Allah Bapa ini di gambarkan dengan Gereja Mulia di Taman Doa Santa Maria di Fatima Ngrawoh tempat beradorasi. Adorasi menjadi gambaran jiwa kita nantinya ketika bersatu dan bersama dengan Allah, hanya ada pujian dan sembah sujud yang tiada hentinya dipersembahkan kepada Allah, mulia, mulia mulialah Engkau ya Allah.

Taman Doa Santa Maria di Fatima Ngrawoh kiranya menjadi ‘mukjizat kecil’, sebuah oase bagi umat beriman, karena keberadaannya pun tidak bisa terlepas dari karya campur tangan Allah yang bekerja. Allah mendampingi dan Taman doa inipun menjadi tempat berefleksi umat beriman dan membantu dalam merenungkan perjalanan hidup menuju Allah dan sarana bagi umat dalam menantikan pertolongan dan karya campur tangan Allah melalui mukjizat-mukjizat-Nya yang menyertai dan menguatkan dalam perjalanan perjuangan hidup dan peziarahan kita menuju kepada Allah. Deo gratias.

Rm. Laurentinus Andika Bhayangkara, Pr

Related Posts

  • 75
    PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI HARI MINGGU DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-46 3 Mei 2009 PANGGILAN : INISIATIF ALLAH DAN JAWABAN MANUSIA Saudara-saudariku terkasih, Bertepatan dengan Hari Doa untuk Panggilan Sedunia yang akan berlangsung pada Hari Minggu ke-4 Masa Paska, tanggal 3 Mei 2009, izinkanlah saya mengajak seluruh umat kristiani untuk merenungkan tema: Panggilan, Inisiatif Allah dan…
    Tags: yang, dan, dalam, allah, manusia, untuk, dengan, kita
  • 71
    Ngrawoh (LENTERA) - Dalam suasana kekeluargaan mudik Lebaran, Kamis Pon (23/07) Perayaan Ekaristi Novena VI, Putaran V di Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima Ngrawoh dilaksanakan. Kurang lebih 500 umat hadir dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Andreas Setya Budi Sambodo, Pr tersebut.  Perayaan Ekaristi mengambil tema “Melaksanakan Kehendak Allah Menjadi Jaminan Keselamatan…
    Tags: yang, allah, dan, dalam, untuk, menjadi, manusia, dengan, hidup, di
  • 71
    Ngrawoh (LENTERA) - “Dalu punika anginipun santer sanget. Bergemuruh seperti pertanda datang Roh Kudus”, begitulah ungkapan Rm. Yohanes  Ari Purnomo, Pr ketika membuka Perayaan Ekaristi Novena II di Gua Maria Fatima Ngrawoh. Hari itu, Kamis (15/03) memang hembusan angin yang cukup kencang menerpa wilayah Ngrawoh dan sekitarnya. Keadaan ini mewarnai suasana sepanjang perayaan Ekaristi malam…
    Tags: kita, dalam, allah, dan, dengan, ini, yang, untuk, hidup, menjadi