Berubah vs Bubrah

pilihan

Malam pergantian tahun menjadi momen untuk bersyukur dan berefleksi atas pengalaman hidup setahun lalu. Momen ini menjadi kesempatan membuat resolusi atau niat-niat pembaruan diri satu tahun ke depan. Pribadi yang maju adalah pribadi yang mau berubah menjadi lebih baik. Berubah berarti ada unsur kebaruan di dalamnya. Sementara kebaruan memerlukan sikap kesiapsediaan untuk menerima (adaptasi) dan berjuang demi sesuatu yang lebih baik. Kebaruan memang sering memiliki tantangan dari stastus quo dari kemapanan yang ada sering kali ketika ditawarkan sesuatu yang baru, reaksi spontan yang ada adalah sikap resisten bahkan menolak, “opo meneh iki?” Padahal dalam kebaruan terkandung sikap bagaimana musti mengantispiasi segala perubahan situasi yang terjadi di sekitar.

Keuskupan Agung Semarang melalui Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-2035 mempunyai mimpi (visi) “Terwujudnya peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman.” Bersama masyarakat Indonesia yang sedang menghidupi kembali nilai-nilai Pancasila di era kemajuan Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), umat Allah Keuskupan Agung Semarang mewujudkan diri sebagai Gereja yang, merengkuh dan bekerjasama dengan semua orang (inklusif), terus menerus membarui diri (inovatif) dan berdaya ubah (transformatif).

Visi dan cita-cita tersebut diwujudkan dengan berbagai cara yakni: pengembangan iman umat yang cerdas, tangguh, misioner dan dialogis secara berjenjang dan berkelanjutan; pengembangan keluarga, lingkungan dan kelompok-kelompok umat agar lebih berperan dalam masyarakat; peningkatan pelayanan karitatif dan pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel agar semakin sejahtera dan bermartabat; serta peningkatan peran dan keterlibatan kaum awam dalam gerakan sosial, budaya, ekonomi, politik dan pelestarian lingkungan dengan semangat pembelajaran, kejujuran, dan kerjasama. Kesemuanya itu merupakan bagian dari upaya menghidupi semangat pembaruan diri di dalam Gereja.

Konsekuensi logis dari adanya cita-cita tersebut adalah Gereja dari waktu ke waktu senantiasa diajak untuk menyadari arti peranannya yang begitu penting di tengah arus zaman dunia ini. Tantangan yang muncul dari konsekuensi ini yakni, Apakah Gereja mau dan berani untuk membarui dirinya, berubah? Atau justru menjadi bubrah, yakni tidak adanya gerak hidup dan diam dalam kebekuan dirinya. Gerak dinamika yang ditawarkan jelas, yakni bekerjasama dengan semua orang. Ini berarti ada gerak untuk menjumpai dan ruang bertemu dalam kerjasama dengan berbagai pihak. Gerak dalam kebersamaan inilah yang akhirnya mampu melahirkan pembaruan diri. Perjumpaan dan kerjasama dengan berbagai pihak ini pada akhirnya akan muncul gagasan, ide, masukan serta hal-hal yang baru demi terciptanya kondisi lingkungan dan keadaan yang lebih baik sebagaimana yang diharapkan dan dicita-citakan. Pembaruan yang muncul sebagai akibat dari adanya gerak bersama dalam berinovasi berdampak pada perubahan bentuk (transform) pola dalam dimensi kehidupan: kesadaran, kehendak, sikap, habitus, pemikiran, kepekaan, penghargaan, dan perjuangan demi tercapainya visi dan cita-cita.

Sebagai bagian dari Gereja Universal, yang sedang berziarah menuju Yubileum Teragung tahun 2033 serta sebagai kenangan 2000 tahun penebusan Yesus Kristus, Keuskupan Agung Semarang turut serta secara aktif di dalamnya. Visi RIKAS, “Terwujudnya peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman,” menjadi gerak langkah bersama seluruh umat di Keuskupan Agung Semarang. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan upaya membangun Gereja yang merengkuh dan bekerjasama dengan semua orang (inklusif), terus menerus membarui diri (inovatif) dan berdaya ubah (transformatif). Ketiga unsur ini saling terkait satu sama lain. Gereja yang memiliki kemampuan berdaya ubah, (berpengaruh bagi sebuah perubahan keadaan-transformatif) amat mustahil tanpa dahului kemampuan untuk berinovasi, menciptakan hal-hal baru yang didukung dari berbagai pihak dalam menjalin relasi (kerjasama).

Dalam keseluruhan dinamika gerak RIKAS KAS tersebut, putera-puteri Gereja St. Perawan Maria di Fatima Sragen sebagai bagian dari persekutuan umat Allah Keuskupan Agung Semarang dipanggil untuk terlibat dan berpartisipasi di dalamnya. Semangat transformatif yang berarti pula memiliki kemampuan, pengaruh untuk daya mengubah (situasi, kondisi) menuntut keberanian diri untuk berinovasi dan bekerjasama dengan berbagai pihak. Tidak mudah memang ketika berjumpa dengan hal-hal baru, peraturan baru dan gesekan yang mungkin terjadi ketika bergumul bersama dengan banyak orang tetapi setidaknya perlu memberi hati untuk mau terbuka dengan kemungkinan-kemungkinan baru, peluang-peluang baru yang akan menjadi hidup semakin lebih baik. Berani berubah menjadi sebuah langkah untuk melawan ke-bubrahan dari keadaan yang statis, beku dan kemandekan oleh karena terlalu nyaman dengan kondisi yang sudah ada. Berani berubah atau bubrah tergilas kemajuan perkembangan zaman.

 

Deo gratias
Laurentius Andika Bhyangkara, Pr

Related Posts

  • 92
    11 Februari 2010 Saudara-saudari terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-18  dirayakan di Basilika Vatikan pada tanggal 11 Februari  dengan liturgi peringatan Bunda Maria dari Lourdes. Selain bertepatan dengan ulang tahun ke-25 Lembaga Dewan Kepausan untuk Tenaga Pelayanan Kesehatan (DKTPK) alasan lain adalah untuk bersyukur kepada Tuhan atas pelayanan DKTPK selama ini di bidang pastoral pelayanan…
    Tags: yang, dan, untuk, dengan, dalam, di
  • 91
    Segenap umat Katolik yang terkasih, Konferensi Waligereja Indonesia menyelenggarakan sidang tahunan pada tanggal 6-16 November 2017 di Jakarta. Sidang dimulai dengan hari studi yang mengangkat tema Gereja Yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia. Tema tersebut diolah dengan mendengarkan masukan para narasumber, didalami dalam diskusi kelompok, dipaparkan dalam rapat pleno, dan dilengkapi dengan catatan…
    Tags: dan, yang, dengan, di, untuk, dalam
  • 88
    (23 Oktober 2016) GEREJA MISIONER, SAKSI KERAHIMAN Saudara dan saudari terkasih, Yubileum Agung Kerahiman, yang sedang kita rayakan, memberikan cahaya terang bagi Hari Minggu Misi Sedunia 2016: Ia mengajak kita untuk merenungkan misi ad gentes sebagai misi besar melalui karya kerahiman, baik rohani dan jasmani. Pada Hari Minggu Misi Sedunia ini, kita semua diundang untuk…
    Tags: dan, yang, untuk, dengan