Pribadi baru yang transformatif dan berdaya ubah

berubah

Ada yang bilang bahwa sekarang ini ‘jaman bungkus’. Apa-apa mesti dibungkus. Bahkan dalam hal bungkus ini, sangat menyita pikiran dan energi. Sebab yang ingin dibungkus tidak hanya yang kasat mata seperti benda, tapi juga hal-hal yang tidak nampak pun ingin dibungkus.

Bungkus tidak hanya dipahami sebatas kemasan atau packaging, yang terdiri dari kertas, plastik atau bahan lainnya, tetapi kadang lebih dari itu. Makna bungkus telah melebar menjadi aksi atau tindakan. Fungsi bungkus pun tidak lagi konvensional, yaitu untuk melindungi isi agar tidak rusak, sehingga kualitasnya tetap terjaga, tetapi terkadang merupakan kamuflase untuk mengecoh, dan menutupi isinya yang tidak bagus.

Selain itu, bungkus memiliki fungsi yang mendekati pencitraan, sehingga mesti ada perencanaan, skenario, juga sandiwara. Berbagai desain bungkus dan berbagai model aksi membungkus makin memperkarya khazanah pemikiran kita.

Nah, hidup ini akan sangat melelahkan, sia-sia, dan menjemukan bila kita hanya mengurus bungkusnya saja dan mengabaikan isinya. Penampilan, kecantikan atau ketampanan, hanyalah bungkus dan dengan itu kita mudah dikenali, bahkan dipuji. Isi dari penampilan adalah kepribadian dan hati yang tulus. Namun, kadang kala antara bungkus dan isi sering tidak sama.

Setiap bungkus tentu ada isinya, dan tentu saja setiap isi ada bungkusnya. Buku itu bungkusnya, isinya pengetahuan. Jabatan itu bungkus, pengabdian dan pelayanan itu isinya. Pergi ke tempat ibadah itu bungkusnya, isinya melakukan ajaran agama. Karisma itu bungkusnya, isinya karakter.

Hidup kita kadang sering terjebak pada bungkus semata yaitu upacara, seremonial, pesta, atau penampilan. Bila kita melupakan isi, maka bungkus itu pun akan kehilangan makna. Mana yang lebih penting, bungkus atau isi?

Seperti halnya sebuah survey, bahwa ada sebagian orang percaya dan mengalami penggenapan janji Tuhan, tetapi yang lain jtidak mengalaminya. Mengapa itu bisa terjadi? Faktanya bahwa mereka sama-sama mendengarkan kebenaran sabda Tuhan.

Satu rahasia di balik fenomena tersebut yaitu orang-orang yang mengalami janji Tuhan yaitu karena mereka mau meneliti hukum yang sempurna, dan memerdekakan, yaitu sabda Tuhan sendiri. Bukan sampai di situ, mereka bertekun di dalamnya. Jadi, mereka tidak sekadar mendengarkan sabda-Nya lalu melupakannya. Mereka melakukan prinsip kebenaran yang terkandung dalam sabda Tuhan dengan sikap hati yang sungguh- sungguh dan menghidupi kebenaran sabda Tuhan. Orang-orang tersebut akan berbahagia oleh perbuatannya (bdk. Yak 1:25).

Bagaimana dengan kita? Sejauh mana kita berpengharapan untuk mendapatkan ‘kehidupan’ dari sabda Tuhan yang kita terima? Mendapatkan sabda Tuhan artinya sabda Tuhan telah menjadi rhema dalam kehidupan kita, dan bukan sekedar sebagai logos atau pengetahuan otak saja. Kebenaran sabda Tuhan dilakukan dalam kehidupan.

Sejauh mana sabda Tuhan yang kita baca bisa berdampak maksimal dan mendatangkan ‘kehidupan’ bagi kita? Miliki telinga yang mendengar (bdk. Ams4:20). Arahkan telinga kita hanya untuk mendengar apa yang Tuhan katakan. Milikilah fokus untuk mendengar sabda-Nya. Milikilah mata yang hanya melihat janji Tuhan. Milikilah hati yang menyimpan. Jadikan hati kita menjadi tanah yang subur untuk sabda Tuhan, sehingga sabda-Nya itu bisa berbuah lebat dan mendatangkan kehidupan rohani yang berkualitas. Konkretnya, kita tidak sekedar mendengar untuk kemudian melupakan sabda-Nya tetapi melakukan kebenaran sabda-Nya dalam kehidupan harian.

Untuk memperoleh sabda-Nya yang menghidupkan itu, kita harus memliki waktu pribadi dengan Allah. Ini tentang komitmen kita untuk merenungkan sabda Tuhan setiap hari, sehingga hari demi hari yang kita jalani senantiasa di dalam rencana-Nya. Kebenaran sabda-Nya akan senantiasa mewarnai setiap tindakan dan keputusan yang kita lakukan.

Selanjutnya, ketika kita senatiasa membaca sabda-Nya, kita memiliki kerinduan yang dalam untuk berjumpa dengan Tuhan secara teratur. Saat itu kehidupan kita pasti di ubah oleh Tuhan! Kita menjadi pribadi yang dirindukan oleh Tuhan untuk menjadi pelaku sabda dan kepanjangan-Nya. Kita menjadi agen perubahan. Kita menjadi pribadi baru yang tranformatif dan berdaya ubah yang menghadirkan Kerajaan Allah di muka bumi.

Setelah kita merenungkan serta melakukan sabda-Nya, kebenaran yang kita peroleh jangan lupa dibagikan kepada orang-orang di sekitar kita. Ketika kita mempertahankan sabda-Nya di hadapan orang lain, kita akan semakin bertumbuh dan kebenaran di dalam diri kita semakin dilipat gandakan oleh Tuhan. Akhir kata, selamat merenungkan dan melakukan sabda Tuhan. Berkah Dalem.

Ani Rahayu Candi Asri 1 Sragen

Related Posts

  • 75
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 75
    PESAN BAPA SUCI FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SEDUNIA 24 Januari 2018 “Kebenaran itu akan Memerdekakan Kamu” (Yoh 8:32) Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian . Saudara dan Saudari yang terkasih, KOMUNIKASI adalah bagian dari rencana Allah bagi kita dan jalan utama untuk menjalin persahabatan. Sebagai manusia kita diciptakan seturut gambar dan rupa Sang Pencipta, dan karenanya…
    Tags: yang, dan, kita, untuk
  • 74
    ROH TUHAN GERAKKAN MISI Saudara-saudari terkasih, Tahun lalu, kita telah merenungkan dua aspek panggilan Kristiani: seruan “keluar dari diri kita sendiri” untuk mendengarkan panggilan Tuhan, dan pentingnya komunitas gerejawi sebagai tempat istimewa di mana panggilan Tuhan lahir, tumbuh dan berkembang. Sekarang, pada Hari Doa Panggilan Sedunia ke-54 ini, saya ingin merenungkan dimensi misioner panggilan Kristiani.…
    Tags: dan, yang, kita, untuk, tuhan