Bertobat dan Pengampunan

bertobat

Hai, para pemerhati Lentera. Hari-hari kita sudah makin dekat hari Rabu Abu. Itu pulalah masa awal PRAPASKAH. Oleh karenanya dua hal pasti dapat dikatakan mengenai hal ini: Menyiapkan perayaan Paskah dan (sekaligus sebagai konsekuensinya) membina semangat tobat. Untuk tahun 2018 ini seruan yang dihadapakan kepada kita adalah: “Bertobat, Tidak Hanya dalam Kata-Kata tetapi Juga dengan Perbuatan.”

Berpantang dan berpuasa pun menyertai dinamika kita, umat Katolik, selama masa itu. Bahwa masa itu mesti dilewati dengan suatu rangkaian perbuatan; telah disepakati bersama dengan menamai rangkaian usaha itu sebagai Aksi Puasa Pembangunan. Dalam benak-pikiranku, wujud tobat sudah memberi perhatian yang lebih pada perbuatan; dan tidak sekedar lancar dalam ucapan. Harapanku Anda sekalian pun demikian. Betapa tidak, lewat gagasan yang ditawarkan, pertobatan memang dimaksudkan lebih memberi perhatian pada perubahan tingkah laku: berpuasa, berpantang, menambah waktu berdoa dan ber-APP. Semua istilah yang dipakai adalah kata kerja! Kurang apa? Oleh karenanya Saya menawarkan gagasan ini yang semoga menjadi pendorong bagi aneka usaha kita demi menghayati rahmat pertobatan – atau agaknya lebih tepat disebut rahmat pengampunan Allah – selama masa puasa yang sudah di depan mata kita.

Bagi Anda sekalian para orang muda, generasi milenial, generasi paling modern. Bro. . . zaman yang Anda genggam dan nikmati adalah kondisi masyarakat yang ditandai oleh situasi: “Ketakutan akan kesepian dan kerinduan akan kesetiaan, serta stabilitas yang ada bersama-sama dengan tumbuhnya rasa takut atas relasi yang membuat orang merasa terkurung, sehingga dapat menghambat orang untuk meraih tujuan hidup pribadinya”. Dikiranya relasi yang mengandaikan adanya kesetiaan yang tulus, itu akan justru mengungkung seorang pribadi, sehingga dia akan terhambat dalam meraih cita-citanya. Itulah kenyataan hidup yang penuh paradoks dan bahkan suatu saat membingungkan.

Lebih lanjut, harapanku kenyataan hidup itu membantu kita untuk tidak mengajak kita membangun gagasan makna hidup yang artifisial dan terlalu abstrak, jauh dari situasi konkret dan dari apa yang dapat dicapai. Sementara kita paham bahwa relasi atau komunikasi yang dialami oleh generasi muda modern ini pun mestinya tetap terbuka terhadap “dinamika pertumbuhan pribadi menuju kepada kepenuhan”. Tidaklah mungkin “hanya dengan menekankan aspek-aspek doktrinal, moral dan bioetika, tanpa mendorong mereka untuk terbuka terhadap rahmat Allah”.

Apakah kaitannya dengan masa prapaskah nanti? Persis dalam masa prapaskah atau puasa tersebut dua aspek yang menjadi prasyarat tetap harus bersedia berjalan bersama. Artinya dinamika pribadi menuju kepada kepenuhan (bersama – dengan – sesamanya) terus terbuka bagi rahmat Allah; yang dalam masa puasa ini kerap disebut sebagai rahmat pengampunan.

Selanjutnya apa itu pengampunan? Sabda Allah yang akan Anda sekalian dengarkan lewat peribatan selama masa puasa nanti akan banyak menawarkan gagasan bagus yang sudah berlangsung sejak Perjanjian Lama (PL). Salah satunya demikian: dari PL kita mendapatkan penegasan bahwa Allah bukanlah pihak yang berkeras kepada penghutang (pendosa) yang akan memaksakan agar semuanya beres akan tetapi Allah adalah pencipta yang baik hati yang akan memulihkan kembali manusia ke dalam keadaan semula yang dikasihi Allah dan akan memperbaiki kerusakan yang terjadi dalam alam semesta.

Sebagai contoh, baca Mikha 7: 19, “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita. . . .” Pengampunan Allah pun menghapus hukuman yang menjadi konsekuensi atas dosa manusia. “Tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu – ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah – perintah – Ku.” Pengampunan Allah mengakhiri segala macam hukuman (Yesaya 40: 1). Pengampunan dari Allah pada zaman Tuhan Yesus diperbarui dan mendapat jaminan yang kokoh-abadi. Itulah yang kita lihat dalam Perjanjian Baru.

Pertama pengampunan oleh Tuhan Yesus itu menghilangkan batas antara Allah dengan manusia sehingga akhirnya Allah bersama dengan kita, Immanuel (Mat 1:22-23). Tuhan Yesus itu tidak berdosa dan Dialah yang menghapus halangan yang memisahkan Allah dengan manusia dan sekaligus memperbaharui persatuan kita dengan Allah.

Yang kedua, pada Tuhan Yesus justru ditunjukkan bahwa jati diriNya adalah Allah yang berkuasa mengampuni dosa. (Mat 9:6) Tuhan Yesus mengundang pemungut pajak dan pendosa untuk makan bersama denganNya.

Akhirnya, maksud hati Allah meng-anugerahi pengampunan ialah karena cinta kepada manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini” sehingga Ia telah mengaruniakan Anak – Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada – Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Satu hal terakhir: Mengampuni itu bagaimana? Robert Enright seorang Psikolog Katolik, mengatakan, “Pengampunan menyangkut orang yang dilukai secara tidak adil yang secara sukarela menghentikan dendam, kemarahan , kebencian, dan sakit hatinya kepada orang yang telah bersalah kepadanya dalam konteks luka yang mendalam, personal, dan tidak adil.”

Bilamana Anda sekalian cermati, pemahaman yang ditawarkan membimbing kita untuk membuat perubahan dari hati yang dibuat secara sadar dan sengaja, suatu hasil yang sukses dari usaha keras yang dibuat secara aktif untuk menggantikan pikiran-pikiran yang buruk dengan yang baik, kegetiran dan kemarahan digan¬tikan dengan belas kasih dan afeksi, berusaha keras untuk melihat si pendosa tersebut dengan belas kasih, kemurahan hati dan cinta kasih.

Mengampuni itu berarti tidak memperhitungkan lagi pengalaman buruk itu dalam membangun relasi antar persona. Mengampuni, brarti tidak memperhitungkan lagi. Bisa terjadi bahwa kesalahan itu sendiri masih ada tetapi tidak diperhitungkan lagi dalam menjalin relasi antar persona. Dasar dan tujuan pengampunan adalah damba hendak meng-kasih-i.

Selamat menghayatinya seraya ber-PUASA. BD.

Sragen, 30 Januari
M. Sapta Margana, Pr

Related Posts

  • 93
      Pembaca LENTERA terkasih, bagaimana kabar anda hari ini ? Semoga semuanya terasa indah dalam naungan dan berkat Tuhan, setiap usaha dan rencana senantiasa berjalan lancar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Nah ngomong ngomong nih, apakah anda suka berjalan-jalan ke tepi pantai, memandang birunya laut dengan ombak putih yang berkejaran disertai sejuknya semilir angin…
    Tags: kita, dan, yang, dengan
  • 91
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 88
      Salam damai Kristus, Menyadari betapa besar cinta kasih Allah kepada kita, umat-Nya yang lemah dan sarat akan dosa sungguh merupakan sebuah refleksi manusiawi yang sangat mendasar dan tak akan pernah terhayati sampai kapanpun. Sebagai umat ciptaan-Nya, kadang kita tak mampu mengucap rasa syukur atas segala kasih karunia-Nya yang sudah kita terima dan kita alami…
    Tags: kita, yang, dan, dengan