Kaum Muda Bentara Peradaban Kasih

OMK

Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) yang diluncurkan tanggal 8 Desember 2015, tanpa terasa sudah kita perjuangkan lebih dari 2 tahun . Namun, mungkin kita masih kurang akrab dengan kata RIKAS.

Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang adalah suatu perjalanan pastoral umat Allah menuju Yubelium ter-Agung tahun 2033 dengan beriman cerdas, tangguh, misioner, dan dialogis. Mengapa tahun 2033 menjadi penting? Pada tahun itu kita memperingati 2000 tahun karya keselamatan Allah lewat sengsara, wafat, dan bangkit Yesus Kristus. Dalam peringatan tersebut, kita diajak untuk mewujudkan peradaban kasih. Lantas, untuk siapa konsep iman, cerdas, tangguh, misioner, dialogis harus dilaksanakan? Tentunya, untuk seluruh umat.

Yubelium ter-agung itu akan terjadi 15 tahun lagi. Kalau kita yang sekarang berumur 60 tahun, lima belas tahun lagi kita sudah berumur 75 tahun. Saat itu kita, mungkin tinggal menikmati hasil benih-benih iman yang kita tanam kepada anak cucu kita. Lalu siapa yang perlu kita persiapkan?

Jawabannya adalah anak-anak kita yang pada saat ini masih lari-lari di halaman gereja, dan menangis kalau tidak dikasih jajan oleh orang tuanya. Mereka yang saat ini belum tahu apa-apa, pada 15 tahun yang akan datang (mungkin usianya kira-kira 20 tahun) yang akan mewarnai gereja kita dalam menyambut Yubelium ter-agung dengan karya-karya mereka.

Bagaimana mempersiapkan generasi masa depan gereja? Untuk anak-anak yang masih balita, pengenalan tentang tradisi Katolik dapat dilakukan oleh orang tua mulai dari dini. Orang tua mulai membiasakan diri dengan tradisi hidup doa misalnya dengan mengikuti perayaan Ekaristi yang baik , misalnya tradisi membaca Kitab Suci, sehingga mereka dapat meniru orang tuanya.

Untuk orang muda Katolik, tampaknya kita harus mulai memberikan peran kepada kaum muda dalam hal pendampingan iman. Biar kaum muda – dengan gayanya – mulai menjadi pewarta iman Katolik. Mereka diberi kesempatan untuk mewartakan iman dengan menjadi pendamping. Kita mungkin beranggapan bahwa pendamping haruslah orang yang sudah tua dan punya pengalaman iman dan pernah mengalami pengalaman rohani yang dalam. Namun, dari pengalaman gereja Katolik, banyak santo-santa yang dalam usia mudanya dipanggil Tuhan untuk menjadi pewarta Kerajaan Allah. Contohnya adalah Santo Tarsisius pelindung putra-putri altar, Santo Dominikus Savio pelindung kaum muda, Santo Aloysius Gonzaga pelindung kemurnian hidup kaum muda.

Kalau orang muda mendapatkan peran menjadi pewarta dan pendamping iman untuk anak atau remaja niscaya pengalaman tersebut akan menambahkan pengalaman iman dari kaum muda tersebut. Bagaimana itu terjadi? Ketika seorang ingin mengajarkan sesuatu tentang iman, tentunya orang tersebut harus belajar tentang iman, baru kemudian dapat mengajarkan kepada orang lain. Dengan belajar dan kemudian mengajarkannya, kaum muda ini dapat mengenal ajaran iman Katolik dengan lebih mendalam. Dari pola pendampingan yang demikian kaum muda kita bukan menjadi objek dari pendampingan melainkan menjadi subyek pendampingan. Mereka dibimbing, diarahkan sebagai pribadi yang mencari kehendak Tuhan karena di dalam diri kaum muda sudah muncul keinginan untuk menanggapi panggilan Tuhan, kemudian tugas kita sebagai orang tua yaitu mengarahkan mereka untuk menemukan Tuhan. Mereka adalah subyek yang mempunyai cipta, rasa, karsa dari Tuhan.

Di Paroki Sragen, perjuangan untuk mewujudkan pribadi yang mempunyai iman mendalam dan tangguh sudah diperjuangkan dalam kurang lebih 15 tahun terakhir dengan mulai melibatkan anak-anak muda dalam pendampingan iman. Mereka diberikan kesempatan untuk mengajari tentang ajaran iman Katolik dengan kreativitas yang mereka miliki tentunya dengan pendampingan yang intensif. Apa yang mereka ajarkan adalah ajaran iman Katolik hanya caranya saja yang berbeda, bukan dengan cara yang kaku melainkan dengan cara yang menyenangkan.

Dalam suatu acara pendampingan, seorang Bapak Katekis berharap agar dalam 5 sampai sepuluh tahun ke depan, anak-anak yang berkumpul di hadapannya menggantikan dirinya sebagai seorang katekis. Harapan ini dapat terwujud kalau pada masa sekarang kita sebagai orang tua dengan legawa mau memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk ikut bertanggungjawab dalam karya pewartaan, misalnya menjadi katekis, dan bukan hanya melibatkan mereka. Kalau tidak kita lakukan sekarang, benih-benih yang ditaburkan Tuhan itu akan tidak akan mengakar.

Redaksi LENTERA

Related Posts

  • 74
    Hari Minggu ke-33 di Masa Biasa 19 November 2017 Marilah kita mencintai, bukan dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan 1. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yoh 3:18), Kata-kata rasul Yohanes ini menyuarakan perintah yang tidak boleh diabaikan oleh orang Kristen manapun. Kesungguhan dalam perintah…
    Tags: dan, yang, kita, orang, dalam, dengan
  • 71
    Saudari-saudara terkasih, Pada bulan Oktober yang akan datang, Sidang Umum Biasa ke-15 dari Sinode Para Uskup akan membahas tema kaum muda dan secara khusus hubungan antara kaum muda, iman, dan panggilan. Dalam sidang itu, kita akan memiliki kesempatan untuk merenungkan lebih mendalam, di pusat hidup kita, panggilan kepada sukacita yang Allah anugerahkan kepada kita dan…
    Tags: kita, dan, yang, untuk, dalam
  • 69
    SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018 KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG Diterangkan/dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 10-11 Februari 2018 “MENGASIHI DENGAN KATA DAN PERBUATAN”. Yang sangat saya kasihi Anak-anak, Remaja, Kaum Muda, Ibu, Bapak, Frater, Suster, Bruder, dan para Rama. Berkah Dalem. Kita akan memasuki masa empat puluh hari sebelum Paskah (quadragesima) yang kita namakan Masa Puasa dan Pantang dalam…
    Tags: dan, yang, kita, dengan, dalam, tahun