Orangtuaku – Superheroku

family-dw

Sewaktu kecil, saya senang sekali melihat film-film action di televisi. Beberapa serial tidak pernah absen untuk menontonnya seperti: MacGyver, Zorro, Robin Hood, Superman, Knight Rider, Satria Baja Hitam dan masih banyak lagi lainya. Dari film-film tadi, saya terkadang bermimpi menjadi seperti mereka atau memerankan salah satu tokoh superhero tersebut. Saya ambil sarung milik Bapak lalu ujungnya saya ikatkan pada leher dan berlari lagaknya seperti Superman yang sedang terbang dengan sarung yang berkibar-kibar. Berimaginasi menjadi sosok superhero, jagoan (lakon dalam film), atau pahlawan, mungkin Anda mengalaminya ketika masih kecil. Sosok-sosok tersebut menjadi inspirasi diri kita untuk membantu yang lemah atau melawan yang jahat dan akhirnya tercipta keadaan aman dan damai.Suatu inspirasi untuk menjadi seorang pahlawan.

Berbicara tentang pahlawan, saya membuat questioner (angket) sederhana kepada beberapa anak Rekat (Remaja Katolik) mengenai arti pahlawan dan superhero yang diidolakan. Dari hasil angket singkat ini, mereka merespon bahwa pahlawan adalah seseorang yang rela berjuang untuk sebuah kehormatan dan kekuasaan, ada pula yang mengatakan pahlawan adalah orang yang berharga bagi kepentingan banyak orang,pahlawan adalah pejuang yang gagah berani, orang yang dikaruniai kekuatan di atas kemampuan manusia biasa. Adapula yang mengatakan pahlawan adalah orang yang selalu berani berjuang, berkorban untuk orang lain. Ada pula yang mengatakan seorang pahlawan adalah orang yang sadar untuk berubah menjadi lebih baik.

Dari angket tentangsuperhero yang menjadi idola mereka, jawabannyapun bermacam-macam, ada Superman, Batman, Hulk, Deadpool, Wonderwoman. Ada pula jawaban yang mengatakan bahwa tokoh superhero yang diidolakan adalah papa atau mamanya. Saya tertarik dengan jawaban terakhir ini. Lalu, lebih lanjut saya menanyakan mengapa papa kamu jadikan tokoh idola superheromu? Dari sharing,anak tadimengatakan bagaimana orangtuanya berjuang untuk membiayai hidup keluarga, pendidikan dan menyediakan tempat yang layak keluarganya bahkan dengan usaha dan jerih lelahnya sendiri. Papa dengan sikap kemandirian dan semangat juang berupaya menjadi orangtua yang baik bagi anaknya dan menjadi teladan bagi anaknya. Papa mengajarkan sikap untuk yakin dan berusaha tidak bergantung pada orang lain. Inilah yang membuat anak tersebut merasa bangga memiliki orangtua dan menjadikannya superhero idolanya.

Adapula anak yang membagikan pengalaman bahwa ibu adalah seorang Wonderwoman, pejuang yang tangguh dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya seorang diri. Ibu mampu menyembunyikan air mata perjuangannya agar anak-anaknya tidak mudah menyerah. Ibu juga kerap kali membangun anak-anaknya untuk berdoa ataupun ke gereja. Bahkan di tengah kelelahannya, pada waktu tengah malam, ia bangun untuk mendoakan anak-anaknya agar mimpinya dan cita-citanya tercapai. Ibu juga pribadi yang peduli dengan saudara-saudarinya yang kesusahan. Ia mengajarkan untuk selalu mencintai dan memberikan diri, membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan. Meski terkadang tubuh terasa lelah tetapi tetap diupayakannya untuk selalu membantu orang lain. Oleh karenanya, anak ini menyebut ibunya sebagai Wonderwoman, perempuan yang kuat, strong dan luar biasa.

Pahlawan bagi anak-anak
Dalam psikologi perkembangan anak dikatakan anak adalah seroang peniru yang ulung. Setiap saat anak selalu mengamati dengan matanya, telinganya menyimak dan pikirannya mencerna apapun yang dilakukan orang di sekitarnya. Perilaku orangtua atau orang yang kerap kali ada di sekitar anak turut membentuk pola perilakunya. Oleh karenanya sering kali kita jumpai sifat-sifat kita juga ada di dalam anak-anak kita. Sejak lahir hingga usia 18 bulan anak belajar lewat meniru ekpresi wajah: tersenyum, menjulurkan lidah, tertawa, berbicara semua akan ditirukan. Pada usia 3 tahun anak mulai belajar meniru tentang perilaku, sopan satun dan tata bahasa orangtua. Lalu pada tahap perkembangan berikutnya, perjumpaan dengan lingkup yang lebih luas, lingkungan misalnya: (sekolah, tetangga, teman bermain) turut mempengaruhi pembentukan karakter dan kepribadiannya.

Dari penjelasan tersebut sebenarnya hendak dikatakan bahwa orangtua atau keluarga menjadi pondasi atau dasar dari pembentukan karakter anak-anak. Tidak bisa dipungkuri bahwa orangtua atau keluarga menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anak mereka (bdk. GE art 3). Orangtua dan keluarga menjadi model bagi perkembangan kepribadian anak-anak. Respon jawaban anak-anak di atas kiranya bisa menjadi contoh sederhanauntuk kita renungkan bersama. Semasa kecil tontonan (apa yang dilihat anak) secara otomatis menjadi apa yang dipikirkan anak pula. Hal ini turut mempengaruhi apa yang akan dilakukannya pula. Oleh karena pendampingan orangtua bagi anak-anaknya menjadi faktor penting yang tidak bisa dilupakan atau abaikan. Perjumpaan dan obrolan dalam keluarga, cerita tentang perjuangan orangtua bisa menjadi sarana menanamkan nilai-nilai dasar keutamaan dalam hidup bagi anak-anaknya. Maka nampak pula dari tanggapan anak-anak yang akhirnya menemukan sosok orangtuanya menjadi sosok yang diidolakan, sebagai model dan panutan dalam hidupnya. Mereka juga tidak segan menyebut orangtua mereka sebagai pahlawan, orang yang telah berjuang dan berkorban bagi hidup mereka.

Keluarga Kristiani sebagai Pahlawan Kasih
Santo Paus Yohanes Paulus II dalam Seruan Apostoliknya, Familiaris Consortio () tanggal 22 November 1981 menjelaskan pisisi resmi Gereja Katolik mengenai arti dan peran perkawinan dan keluarga. Seruan Bapa Paus ini membahas tentang kewajiban dan harapan keluarga atas pendidikan anak-anaknya juga akan harapan keluarga terhadap masyarakat luas. Santo Paus Yohanes Paulus II bermaksud membantu keluarga-keluarga Kristiani untuk mencapai kesejahteraan dan membantu kaum muda menemukan keindahan dan keagungan panggilan untuk mencintai, terlebih dalam menghadapi situasi hidup berkeluarga di dunia modern yang banyak diwarnai dengan beragam permasalahan.

Dalam tulisannya Santo Paus Yohanes Paulus IImenegaskan kembali bahwa Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kej 1:26), artinya adalah Tuhan menciptakan manusia melalui kasih, dan Ia memanggil manusia untuk kasih, (lih. FC 11), karena Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8). Oleh rencana Allah inilah, maka pada dasarnya manusia mempunyai kemampuan dan tanggungjawab untuk mengasihi dan untuk hidup di dalam persekutuan kasih. Jadi panggilan untuk mengasihi adalah panggilan yang mendasar dan tertanam dalam setiap manusia. (bdk. FC art. 11). Dalam mengasihi dituntut bukan hanya sekedar pngetahuan atau pemahaman tetapi seluruh dari hidup manusia untuk sendiri. Mengasihi juga berarti pemberian diri, dalam kehidupan keluarga ataupun selibat, sifatnya menyeluruh dan menyangkut komitmen seumur hidup, sebab jika tidak, namanya bukan cinta yang total.

Persekutuan cinta yang total merupakan unsur yang harus ada dalam perkawinan Kristiani. Sebagaimana Kristus secara total mencintai GerejaNya, demikian pula hubungan antara seorang pria dan seorang wanita dalam perkawinan Kristiani menuntut mencintai total pasangan dan keluarganya. (bdk. FC art. 13). Dalam cinta yang total juga terkandung makna kebersamaan seluruh hidup dalam suka dan duka. Melalui perkawinan, Allah memanggil mereka untuk turut serta di dalam kuasa dan kasih-Nya sebagai Pencipta dan Bapa, melalui kerjasama yang bebas dan bertanggung jawab dalam meneruskan karunia kehidupan manusia: Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu…” (Kej 1:28, bdk. FC art. 28). Dengan demikian tugas yang mendasar dari sebuah keluarga adalah untuk melayani kehidupan. (FC art. 28).

Dalam perkawinan orangtua diikutsertakan Tuhan dalam proses penciptaan anak- anak mereka, maka selanjutnya orang tua juga mempunyai tugas untuk mendidik mereka. Maka orang tua menjadi “pendidik pertama dan utama bagi anak- anak mereka” (KGK 1653, FC art. 36), dan peran ini tidak dapat digantikan dan tidak dapat sepenuhnya didelegasikan kepada orang lain. (FC art. 36). Orangtua bertugas menciptakan suasana rumah tangga yang penuh kasih dan menghormati Tuhan dan orang lain, dan keluargalah yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anak untuk mengajarkan bagaimana caranya hidup menjadi orang yang baik. Dasar utama seluruh kegiatan pendidikan di dalam keluarga adalah cinta kasih orangtua, dan tujuannya adalah agar anak bisa lebih ‘pandai’ mengasihi.

Lalu, bagaimana agar anak- anak perlu dididik apa supaya lebih pandai mengasihi? Santo Paus Yohanes Paulus II menjelaskan bahwa setiap orangtua harus mengajarkan kepada anak- anaknya tentang nilai-nilai dasar kehidupan manusia. Anak- anak perlu diajari sikap untuk menghargai setiap orang sebagai pribadi. Perlu pula diajari tentang nilai- nilai keadilan dan kasih yakni dengan belajar dari orangtuanya yang rela berbagi dengan suka cita. Orangtua perlu pula memupuk sikap untuk rela berkorban demi kebahagiaan orang lain.

Akhirnya, kita perlu melihat kembali dan merenungkan hidup keluarga kita masing-masing. Sudahkah kita menjadi pahlawan dalam keluarga kita? Sudahkan kita menyiapkan lahirnya pahlawan-pahlawan baru dalam keluarga nantinya? Ketika saya merenungkannya pula, saya diajak pula untuk belajar memiliki sifat-sifat diri sebagai pahlawan sebagaimana makna pahlawan dari jawaban anak-anak dalam angket. Ada banyak pahlawan yang saya temukan, orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup saya. Salah satunya adalah keluarga. Dari keluarga saya mengenal bagaimana cara mencintai, berani untuk bertanggung jawab, kerja keras, sikap peduli dan empati, kerelaan diri untuk berkorban. Dari keluarga yang disediakan Allah ini, pada akhirnya saya bersyukur boleh hidup bersama mereka. Keluarga berperan besar pula dalam membentuk karakter dan kepribadian diri, sehingga pada akhirnya saya diajak untuk pula untuk berani melanjutkan perjuangan dan nilai-nilai luhur keluarga dalam hidup bersama. Mari bersama kita berjuang untuk menciptakan pahlawan-pahlawan baru dalam keluarga kita yang berguna bagi Gereja, masyarakat, bangsa dan negara. Mari kita menjadi pahlawan kasih bagi keluarga dan sesama. Deo gratias

Rm. L Andika Bhayangkara, Pr

Related Posts

  • 77
    BERJUMPA DENGAN ALLAH DALAM KELUARGA “Mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu” (Luk 2:16) Dalam perayaan Natal tahun ini, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk menyadari kehadiran Allah di dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan. Putera Allah menjadi manusia. Dialah Sang Imanuel; Tuhan menyertai kita. Ia hadir…
    Tags: dan, keluarga, yang, dalam, untuk, menjadi
  • 76
    Keluarga Katolik menjadi tanda kehadiran Tuhan yang nyata, mewujudkan Sakramentalitas Perkawinan di tengah-tengah masyarakat atau warga. Ada cara bertindak tertentu yang menunjukkan identitas Kekatolikan hingga keluarga-keluarga Katolik menjadi Minortitas Mistik (doa dan iman kepercayaan Katolik menjadi landasan hidup harian). Kita harus membuat gerakan baru dalam keluarga-keluarga di lingkungan untuk meluangkan waktu 10 – 30 menit…
    Tags: keluarga, yang, dan, dalam, untuk
  • 73
    “KELUARGA SEBAGAI KOMUNITAS BERBAGI PANGAN”   Saudari-Saudara, umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang yang terkasih. Setiap tanggal 16 Oktober, sejak tahun 1982, Gereja Katolik turut serta memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS). Pada peringatan ke-36 ini, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak seluruh umat katolik di Indonesia untuk merenungkan tema: “Keluarga sebagai Komunitas Berbagi Pangan”. Semangat berbagi…
    Tags: dan, yang, untuk, dalam, orang, keluarga