Hikmat Allah Bagi Kita Mengubah Cara Hidup

birth_of_jesus

Mengingat bahwa setiap menjelang perayaan Natal para pimpinan Gereja Indonesia memberikan pesan pastoral, pesan mereka itu hendak dijadikan perhatian kita. Memperhatikan seluruh teks yang aku dapat mengenai Pesan Natal KWI – PGI 2018, ada satu hal yang hendak kita jadikan pokok permenungan: Kedatangan Tuhan Yesus menawarkan hikmat agar kita hormat pada martabat hidup sesama.

Dari Zaman Paulus Sampai ke Zaman Ini
Teks ini mengutip pegajaran/nasehat St. Paulus dalam 1 Korintus 1: 24. Dalam perikop yang lebih panjang (1: 10-31) ini, Paulus memberikan nasehat kepada umat mengingat kondisi hidup mereka yang tidak baik, yakni adanya perselisihan (ay.11) atau hendaknya menghindari perpecahan (ay.10). Sebaliknya yang dikehendaki Paulus – dan hal ini memang merupakan cita-cita hidup men-jemaat – yakni hidup dalam persatuan; dalam nama Tuhan Yesus (umat) hidup seia sekata (ay.10) bersatu dan bersaudara. Hidup dalam batas-batas kelompok atas dasar:
1. Batas/kategori guru Injil yang sama (ada golongan Apolos, golongan Paulus, dan golongan kefas)
2. Olah akal budi (ada golongan ber-hikmat dan golongan bodoh)
3. Suku (ada golongan Yahudi dan golongan Yunani)

Hidup dalam batas-batasan tertentu atau suatu golongan saja dan menganggap dirinya atau golongannya sudah baik, sementara golongan lain (atau bukan golonganku) itu tidak baik atau bahkan dianggap musuh, oleh Paulus DITOLAK. Lantas yang dikehendaki? Yang diminta dihidupi oleh Paulus yakni agar umat hidup dalam iman pada Tuhan Yesus; umat hidup dalam hikmat yang adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri sebagai hikmat Allah (ay.24).

Menarik sekali bahwa pimpinan Gereja (KWI-PGI) pada tahun 2018 ini menyampaikan pesannya, dengan mengutip 1 Korintus bab 1 ayat 30 dan mengaitkan “Kristus-sebagai-hikmat-Allah” dengan isu HAM. Dalam pesan tersebut, kondisi hidup dalam kaitannya dengan HAM beberapa kali disebut, misalnya: “. .. . persoalan HAM masih terjadi di sejumlah tempat. Pelanggaran HAM berat di masa lalu belum selesai secara tuntas.” Di alinea berikutnya tertulis, “ . . . Tindakan koruptif sering berhubungan dengan pelanggaran HAM. Untuk itu kita membutuhkan pemimpin yang penuh hikmat.”

Dari keterangan singkat itu, kiranya menjadi semakin jelas bahwa bagi zaman sekarang, salah satu hal penting hidup dalam hikmat adalah bahwa kita hormat pada hak asasi sesama. Dengan perkataan lain, berhikmat adalah hormat pada martabat hidup sesama ciptaan.

Hikmat Peristiwa Natal Bagi Kita
Kedatangan Tuhan Yesus dalam wujud bayi atau “Sang Timur” yang terlahir dari Perawan Maria, diyakini sebagai hikmat Allah bagi kita. Sebab kedatangan-Nya dimaksudkan untuk memulihkan martabat ciptaan sebagai yang diberi hidup oleh Allah dan sekaligus (khususnya untuk manusia) martabatnya sebagai anak Allah pun dipulihkan. Selanjutnya dalam pesan tersebut, oleh para pemimpin Gereja dikatakan bahwa yang pantas disyukuri bukan saja kelahiran-NYA namun keseluruhan “hidup-NYA (yang) penuh hikmat”. Ia memberi teguran, dan bukan hujatan; Ia memberi kata-kata nasehat dan ajakan dan bukan ungkapan yang me-ninabobok-kan.

Bertolak dari pemahaman tersebut, semakin jelas bahwa “hikmat” yang dianugerahkan bagi kita, membuka ladang-perjuangan yang sungguh luas juga untuk kehidupan kita di zaman ini. Betapa tidak. Menghidup sikap hormat pada martabat sesama itu berarti, yang pertama adalah mengambil prinsip hidup bahwa kita semua bersaudara. Dalam ungkapan kontrasnya, jangan lagi hidup dalam semangat yang dikecam (atau yang ditolak oleh Paulus) (lihat 1 Kor 1). Golonganku adalah kelompok yang benar dan golongan lain adalah musuh. No, tidak bisa. Kita yang hidup di tahun politik dan tidak lama lagi ada pemilu, dan kita kerap terseret dalam arus tersebut. Mari kita semua waspada.

.
Yang kedua, memberi keleluasaan para difabel dalam berekspresi dan ambil peran dalam hidup bersama. Kaum difabel adalah mereka yang mempunyai cara dan kemampuan berekspresi yang berbeda dengan kita; mereka pun tetap harus mendapat kesempatan dan tempat dalam hidup bersama untuk ambil peran. Siapa saja mereka itu? Yang cacat, yang lumpuh, buta, tuli, dan miskin? Itu benar, hanya saja bukan hanya mereka itu saja. Kiranya umat yang jompo pun boleh dimasukkan dalam kategori ini. Bisa jadi yang lansia harus ditambahkan, sebab tidak jarang yang lansia dan jompo secara fisik telah mengalami banyak keterbatasan. Sebagai akibatnya besar kemungkinan mereka pun mulai tersisih dari pergaulan dan percaturan hidup bersama. Mereka ini kerap kali tidak jauh dari lingkup hidupku sehari-hari.

Oleh karena itu, memaknai pesan Natal PGI – KWI 2018 ini, hikmat yang ditawarkan bagi kita adalah bahwa kita bertekun dalam menghidupi semangat persaudaraan di tengah masyarakat; dan memberi perhatian lebih kepada yang yang difabel; dengan catatan mereka yang jompo dan lansia pun agaknya adalah juga yang pantas didahulukan karena mereka tidak jauh dari aku. Demikian itu kiranya boleh menjadi perwujudan serta tindakan konkret dari hormat pada HAM sebagaimana dinasehatkan oleh pimpinan Gereja Indonesia.

Selamat bertekun dalam hidup bersaudara; dan selamat bergiat dalam agenda Adven paroki.

Pesta St. Andreas Rasul
30 November 2018
Oleh M Sapt Margana, Pr

Related Posts

  • 82
    “Diutus Menjadi Garam dan Terang Bagi Masyarakat” Dibacakan/diterangkan pada hari Sabtu-Minggu, 6-7 Februari 2016     Saudara-saudariku yang terkasih Memasuki tahun 2016, umat Allah KAS telah memiliki ARDAS VII untuk periode 2016-2020. Dalam semangat ARDAS yang baru ini, kita ingin menapaki peziarahan iman, dengan bergotong royong memperjuangkan Peradaban Kasih melalui hidup bersama yang sejahtera, bermartabat…
    Tags: dan, yang, kita, dalam
  • 77
    Saudari-saudara terkasih, Pada bulan Oktober yang akan datang, Sidang Umum Biasa ke-15 dari Sinode Para Uskup akan membahas tema kaum muda dan secara khusus hubungan antara kaum muda, iman, dan panggilan. Dalam sidang itu, kita akan memiliki kesempatan untuk merenungkan lebih mendalam, di pusat hidup kita, panggilan kepada sukacita yang Allah anugerahkan kepada kita dan…
    Tags: kita, dan, yang, dalam
  • 77
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita