Panggilan Gereja Dalam Hidup Berbangsa – Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan

bendera

Ada rumusan yang sangat baik yaitu: “Negara harus hadir mengatasi segala golongan, dengan regulasi yang pro rakyat dan bonnum commune. Negara mendorong untuk menjadikan Pancasila sebagai habitus berbangsa dan bernegara.”

Dalam hal ini Gereja sangat mendukung kebijakan yg telah diambil pemerintah dalam hal pembinaan ideologi Pancasila. Penetapan UU No 2 tahun 2017 tentang Ormas, pembangunan di berbagai bidang mulai dari pinggiran, dan berbagai upaya mencegah meluas dan menjalarnya ujaran kebencian, paham radikalisme dan intoleran, termasuk melalui pemblokiran situs-situsnya.

Demikian juga Gereja diutus untuk menjadi promotor utama memajukan pemahaman dan penghayatan Pancasila secara baik dan benar. Gereja harus hadir di tengah bangsa Indonesia, harus menggiatkan lingkungan sebagai pusat hidup beriman yang semakin terbuka, mampu berdialog dengan semua golongan dan lapisan masyarakat, dan membawa perubahan baru dalam masyarakat, tak terkesan eksklusif, tetapi hadir dalam gerakan afirmatif melalui aksi sosial yang nyata dalam menciptakan rumah bersama Indonesia yang layak huni dan ekologis.

Kita sangat perlu memberi perhatian (anggaran yang cukup). Dengan demikian Gereja mengupayakan semua orang untuk semakin sejahtera, bermartabat dan beriman sesuai dengan nilai Pancasila.

Tentang persoalan lingkungan hidup, menyitir kembali Ensiklik Paus Fransiskus, Laudato Si, no. 49: “Kita tak dapat tidak harus mengakui bahwa pendekatan ekologis yang sejati selalu menjadi pendekatan sosial, yang harus mengintegrasikan soal keadilan dalam diskusi lingkungan hidup, untuk mendengarkan baik jeritan bumi maupun jeritan kaum miskin.”

Di sini, Gereja diutus untuk menjadi garam dan terang dunia di tengah hidup berbangsa seperti ini agar sungguh-sungguh menjadi Gereja yang relevan (selaras / sesuai zaman) dan signifikan (kehadirannya mengubah dan menggerakkan perubahan ke arah yg lebih baik, sejahtera dan beradab). Agar semua orang dapat hidup bersama dan bersaudara, merajut kesatuan, kerukunan dan perdamaian, serta bekerja keras demi terwujudnyaIi cita-cita kesejahteraan umum.

Bagi kita ajaran Yesus tentang hukum kasih (Luk. 10 : 25 – 37) sejalan dengan Pancasila yang menjadi pedoman hidup bersama. Dalam Pancasila, kita diajak untuk mengimani, mencintai dan mengabdi Tuhan, sambil juga menghormati keyakinan yang berbeda (kadang ada yang tidak mau dibantu karena beda keyakinan) sekalipun ketika kita membantu tidak membedakan keyakinan.

Kasih kepada Tuhan itu terungkap dalam kasih kepada sesama, yang diwujudkan dengan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah demi keadilan dan kesejahteraan seluruh masyarakat. Pancasila tidak pernah memberi ruang untuk membenci, bertindak tidak adil, bersikap intoleran dan berbuat yang merugikan sesama dan memecahbelah kehidupan bangsa.

Untuk mewujudnyatakan itu semua tentu akan banyak tantangan, dan kita mesti harus pandai menangkap peluang. Kita sadari bahwa Gereja memang juga sudah melaksanakan kaderisasi, tetapi kaderisasi yang berjalan / disiapkan adalah kader pengurus (dalam tembok Gereja), bukan kader di luar tembok gereja, sehingga yang bergerak di luar tembok gereja sangatlah minim, atau bahkan yang bergerak diluar tembok gerejapun kadang mendapatkan pernyataan bukan aktivis Gereja.

Selanjutnya ketika di luar tembok gereja mereka mendapatkan tekanan, tantangan, bahkan ancaman kita tidak segera merespon untuk membackup sehingga mereka mampu bertahan, dan bahkan mampu melanjutkan panggilan pergerakan untuk hidup berbangsa dan bernegara di tengah-tengah masyarakat, sesuai bidangnya masing-masing. Setiap peluang yang ada sebaiknya kita ambil, seperti menjadi ketua RT, RW. (Pekerja sosial kemasyarakatan), pengurus ormas, komite-komite, komisi-komisi, badan-badan, Forum-forum dan lembaga lainnya, demi menjadikan Gereja yang relevan dan signifikan.

.

Oleh: Petrus Widodo

Related Posts

  • 90
    Saudari-saudara terkasih, Pada bulan Oktober yang akan datang, Sidang Umum Biasa ke-15 dari Sinode Para Uskup akan membahas tema kaum muda dan secara khusus hubungan antara kaum muda, iman, dan panggilan. Dalam sidang itu, kita akan memiliki kesempatan untuk merenungkan lebih mendalam, di pusat hidup kita, panggilan kepada sukacita yang Allah anugerahkan kepada kita dan…
    Tags: kita, dan, yang, untuk, dalam
  • 86
    “Diutus Menjadi Garam dan Terang Bagi Masyarakat” Dibacakan/diterangkan pada hari Sabtu-Minggu, 6-7 Februari 2016     Saudara-saudariku yang terkasih Memasuki tahun 2016, umat Allah KAS telah memiliki ARDAS VII untuk periode 2016-2020. Dalam semangat ARDAS yang baru ini, kita ingin menapaki peziarahan iman, dengan bergotong royong memperjuangkan Peradaban Kasih melalui hidup bersama yang sejahtera, bermartabat…
    Tags: dan, yang, kita, dalam
  • 86
    Segenap umat Katolik yang terkasih, Konferensi Waligereja Indonesia menyelenggarakan sidang tahunan pada tanggal 6-16 November 2017 di Jakarta. Sidang dimulai dengan hari studi yang mengangkat tema Gereja Yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia. Tema tersebut diolah dengan mendengarkan masukan para narasumber, didalami dalam diskusi kelompok, dipaparkan dalam rapat pleno, dan dilengkapi dengan catatan…
    Tags: dan, yang, di, untuk, dalam, gereja