Kita Indonesia, Kita Pancasila!

Pancasila

 

Ungkapan menjadi Gereja yang relevan dan signifikan sebenarnya bukanlah ungkapan yang baru. Dalam Arah Dasar Gereja Keuskupan Agung Semarang 2010-2015, kalimat ini menjadi semboyan yang kerap didengungkan. Lalu, bagaimana dengan Gereja Santa Perawan Maria di Fatima menghidupinya sampai sekarang. Menilik kembali makna signifikan dan relevan, kita bisa merenungkan sampai sejauh mana Gereja paroki kita memperjuangkannya. Signifikan berarti bernilai, memiliki harga atau mutu penting sehingga kehadiran dan gerak Gereja sungguh penting-diperhitungkan-memiliki nilai tinggi dalam diri warganyadan masyarakat. Relevan berarti sesuai atau gayut, memiliki kesesuaian, kegunaan, peran, pengaruh yang sambung dengan kehidupan konkrit warganya maupun masyarakat.

Dalam sidang tahunan KWI tanggal 6-8 September 2017, mengambil tema “Gereja yang Relevan dan Signifikan; Panggilan Gereja Menyucikan Dunia”. Tema ini senada dengan gerak langkah Gereja Keuskupan Agung Semarang beberapa tahun yang lalu. Pokok tema yang diangkat terkait dengan memahami persoalan-persoalan kebangsaan saat ini, memperkuat suara kenabian Gereja di tengah masyarakat, dan meningkatkan peran hierarki Gereja dalam mendampingi kaum awam yang dipanggil untuk membangun kehidupan berbangsa yang lebih bermartabat. Sidang KWI ini pada akhirnya melahirkan sebuah Nota Pastoral, “Panggilan Gereja dalam berbangsa: Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan” yang diterbitkan pada Mei 2018.

Tulisan ini dibuat pula dalam kerangka mencoba mengingat dan merenungkan kembali sejauh mana Gereja kita telah mengupayakan menjadi Gereja yang relevan dan signifikan dan harapannya dapat terus menerus mengusahakan Gereja yang berdaya guna bagi umat dan masyarakat Indonesia agar semakin terwujudnya peradaban kasih.

Mencermati Realitas Bangsa Indonesia
Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, Gereja perlu melihat dan peka dengan kondisi bangsa ini. Kenyataan persoalan-persoalan bangsa yang kerap terjadi; terkoyaknya kerukunan dan toleransi antarumat beragama yang menimbulkan kuatnya gerakan eksklusivisme agama, memandang agama dan kepercayaan lain sebagai musuh sehingga menimbulkan sikap curiga, berprasangka buruk, intoleransi. Hal ini melemahkan semangat kesatuan dan kebangsaan. Persoalan lainnya: menguatnya politik identitas yang berbasis pada suku dan golongan mengakibatkan masyarakat semakin terkotak-kotak dalam pilihan politik mereka. Adanya gerakan radikalisme yang diwarnai dengan tindakan kekerasan dan ketidakadilan di masyarakat dan masih ada lagi persoalan-persoalan lainnya yang semakin berkembang dengan cukup kuat terkait dengan adanya kemajuan teknologi dan informasi. Banyak berita-berita bohong hoax yang menyebarkan kebencian dan memecah belah masyarakat.

Hal-hal tersebut disinyalir disebabkan adanya kemunduran masyarakat di dalam menghayati semangat dasar, ideologi negara, Pancasila dan dasar hukum UUD 1945 serta semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika. Kita masing-masing perlu melihat kembali bagaimana negara ini terbentuk oleh The Founding Fathersdengan meletakkan dasar Pancasila yang menjadi pondasi berbangsa dalam menjaga kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka adalah 68 tokoh-tokoh yang berasal dari berbagai macam latar belakang pendidikan, agama, daerah, dan suku/etnis yang ada di Indonesia. Hilangnya kesadaran akan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945 dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadikan lemah pula sendi-sendi kehidupan berbangsa, maka tidak heran apabila muncul gerakan-gerakan radikal yang hendak menggantikan ideologi bangsa Pancasila dengan ideologi-ideologi lain yang berlawan dengan semangat dasar NKRI.

Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan
Gereja sebagai sakramen keselamatan menegaskan dirinya sebagai tanda dan sarana persatuan manusia dengan Allah dan sesamanya. Oleh karenanya Gereja dipanggil untuk sungguh-sungguh menghadirkan dan mewujudkan diri dalam upaya mempersatukan dan merangkul umat manusia serta membangun persaudaraan dan kerukunan sebagi anak bangsa. Gereja hadir ditengah dunia untuk mewartakan kebaikan dan berupaya agar nilai-nilai universal yang baik, yang diakui dan diterima semua manusia tetap terjaga, terpelihara, dan berbuah. Sadar akan peran dan kehadirannya di dunia, Gereja mau tidak mau harus membuka diri untuk bekerja sama dengan semua yang berkehendak baik. Dasar yang digunakan membangun kesatuan nilai-nilai yang selaras dengan perutusan Gereja.

Perutusan Gereja mewartakan Kabar Gembira Injil adalah kata lain dari mewartakan pembebasan. Kebebasan menjadi prasyarat dasar bagi terciptanya peluang mewujudkan dan memajukan kesejahteraan umum yang menjadi perhatian pokok Gereja. tidak ada pewartaan Injil jika perjuangan mewujudkan keadilan diabaikan Gereja. Gereja dalam melaksanakan tugas perutusannya memanggil para putera-puteriNya untuk turut serta terlibat dan mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus. Secara tegas hal tersebut dinyatakan dalam dokumen Lumen Gentium artikel 31, “Jadi tugas mereka yang istimewa, yakni menyinari dan mengatur semua hal fana, yang erat-erat melibatkan mereka sedemikian rupa, sehingga semua itu selalu terlaksana dan berkembang menurut kehendak Kristus, demi kemuliaan Sang Pencipta dan Penebus.” Hal ini menandaskan bahwa kaum awam diangkat oleh Kristus untuk menjadi saksiNya dan mereka dibekali dengan iman dan rahmat Sabda dalam hidup sehari-hari. Kaum awam menjadi ujung tombak dalam kerasulan Gereja di tengah dunia sehingga secara khusus mereka “didesak” untuk lebih terlibat dalam mewujudkan kesejahteraan umum, berjuang mengatasi berbagai macam pertentangan dalam masyarakat, serta melawan diskriminasi dengan mengembangkan kepdulian dan solidaritas. Melalui kiprahnya Gereja terutama kaum awam, kehadiran Gereja sebagai sakramen akan terasa relvan dan signifikan.

Apa yang bisa kita mulai lakukan?
Ada beberapa hal yang bisa kita cermati dan pelajari untuk sebelum kembali menghidupi semangat perutusan kita. Apa yang sudah dimulai sejak awal oleh Gereja sebagai sakramen kehadiran di tengah dunia, yakni pelayanan-pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan dan karitatif baik jika diupayakan agar lebih berdaya guna bagi umat dan masyarakat. Perlu memberdayakan lembaga pendidikan sebagai tempat untuk mencetak pribadi-pribadi yang cerdas dan berkualitas dalam pengetahuan, dewasa dalam iman, baik dalam kepribadian, toleran dalam hidup sosial, dan kuat dalam mencintai bangsa dan negara. Perlu disadari bahwa pembentukan kepribadian di lembaga pendidikan merupakan kelanjutan dari pendidikan yang telah terjadi dalam keluarga. Oleh karenanya, dalam keluarga-keluarga Katolik perlu diwariskan budaya penghormatan satu sama lain, jujur, disiplin dalam hidup dan mampu menyelesaikan setiap persoalan dengan cara-cara damai, bertanggung jawab dan adil bertindak. Perlu ditanamkan pula kepribadian yang Pancasilais yang dapat merawat, menjaga, dan mengembangkan jati diri bangsa ini.

Dalam kerasulan kesehatan, perlu memberdayakan lembaga pelayanan kesehatan sebagai sarana untuk memperkokoh kebersamaan.Peningkatan kualitas hidup masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, suku, budaya, dan kelas sosial. Meski pelayanan kesehatan berciri Katolik namun misi pelayanan tetap melibatkan tenaga dari berbagai kalangan masyarakat. Karya kesehatan dapat menjadi wujud “Indonesia kecil” dengan mempekerjakan pegawai dari agama dan suku yang berbeda serta menyediakan fasilitas untuk beribadah. Dalam pengelolaan lembaga kesehatan semua elemen yang terlibat dalam karya pelayanan kesehatan ini perlu untuk selalu mengedepankan karya kemanusiaan yang inklusif dan tidak diskriminatif. Dari sinilah penghayatan dan menghidupi kembali nilai-nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam kerasulan karitatif, Gereja memanggil setiap warganya untuk terlibat dalam kerjasama membangun dialog dan bekerja sama dalam penanganan-penangananmasalah sosial, pemanfaatan dana pengembangan sosial ekonomi dana papa miskin juga bantuan kepada para korban bencana alam. Dialog-dialog lain dengan saudara-saudari kita yang berkeyakinan lain menjadi salah satu usaha pula dalam mewujudkan kesatuan dan memperkokoh kebersamaan dan persaudaran antar anakbangsa. Bagi kaum muda, adanya kemajuan teknologi komunikasi perlu dibangun sikap untuk bermedia dengan bijak dan beretika. Hendaknya media sosial tidak digunakan untuk membangun kebencian dengan menggunggah, menyebarkan berita-berita, foto atau video yang menimbulkan efek memecah belah, mengadu domba tetapi sungguh media komunikasi menjadi sarana berbagi sukacita dan kegembiraan hidup yang memperat persaudaraan semesta.

Mari kita sebagai orang Katolik hendaknya senantiasa menyadari peran dan tugas sebagai terang dan garam dunia. Setiap pribadi dipanggil untuk menjadi saudara bagi yang lain. Mari kita mulai kembali menghayati dan menghidupi Pancasilasebagai prasyarat membangun kebebasan dan menuju kesejahteraan bersama. Kita Indonesia, Kita Pancasila mengajak untuk semakinsadar menjadi warga Gereja juga bertanggung jawab pula bagi kemajuan bangsa supaya kehadiran Gereja semakin bermakna dan berdaya guna.

 Laurentius Andika Bhayangkara, Pr

Related Posts

  • 90
    Segenap umat Katolik yang terkasih, Konferensi Waligereja Indonesia menyelenggarakan sidang tahunan pada tanggal 6-16 November 2017 di Jakarta. Sidang dimulai dengan hari studi yang mengangkat tema Gereja Yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia. Tema tersebut diolah dengan mendengarkan masukan para narasumber, didalami dalam diskusi kelompok, dipaparkan dalam rapat pleno, dan dilengkapi dengan catatan…
    Tags: dan, yang, dengan, dalam, gereja
  • 84
    Agaknya ada alasan yang cukup mendasar, mengapa LENTERA edisi Februari ini mengangkat tema: Melayani dengan Semangat Baru. Paling kurang alasan yang dapat disebutkan adalah: Pertama, adanya pembaruan personalia Dewan Pastoral Paroki SP Maria di Fatima Sragen. Yang kedua, datangnya Tahun Baru 2019. Melayani a la film Refleksi kita mengenai melayani dengan semangat baru, kita awali…
    Tags: yang, dan, dengan, dalam
  • 83
    APP 2017: MENJADI PELOPOR PERADABAN KASIH “Meski panas terik matahari menyengat, tak membuat para aktivis perdamaian dan persaudaraan lintas agama ini menyerah dalam menyampaikan niat dan amanat. Silih berganti mereka menyampaikan orasi damai. Lukas Awi Tristanto, misalnya, mengajak masyarakat untuk terus berjuang melawan setiap diskriminasi. Para hadirin dan masyarakat dibuat terpana penuh haru saat Ellen…
    Tags: dan, yang, dalam, dengan