Garam dan Terang Dunia

Tahun Politik

Selamat Tahun Baru 2019, saudara-saudari pembaca LENTERA yang budiman. Semoga tahun, ini adalah tahun yang penuh dengan berkah sehingga kita bisa memberikan segala kemampuan kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan lewat panggilan hidup bakti kita.

Tahun 2019 adalah tahun politik, sudah saudara-saudari ketahui bahwa tahun ini akan ada suksesi pemerintahan secara serentak. Dalam suksesi pemerintahan tersebut sering terjadi gesekan di sana dan sini yang disebabkan karena adanya perbedaan pandangan. Hal yang sebelumnya bukanlah isu yang sensitif untuk dibahas, bahkan hal yang sangat lumrah untuk dibicarakan, menjadi isu yang sangat panas dan menjadi suatu alat untuk menyebabkan perpecahan.

Pada 17 April 2019, kita akan melaksanakan Pesta Demokrasi di Indonesia, kita akan memilih calon anggota legislatif pusat, propinsi, kabupaten/kota, pemilihan presiden dan wakil presiden. Ini adalah pemilihan serentak pertama yang dilakukan oleh Negara Indonesia.

Pemilihan serentak yang dilakukan di satu waktu yang sama. Ini menggantikan sistem pemilu sebelumnya, yang dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama pemilihan anggota legistatif, tahap kedua yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden setelah mengetahui ambang batas kursi di parlemen. Pada pemilihan saat ini, ambang batas minimal di parlemen dihilangkan.

Pemilihan umum nanti akan sukses atau tidak, semuannya ada di tangan saudara-saudari pembaca. Kita harus mendukungnya dengan menggunakan hak pilih kita. Dukungan itu juga harus kita berikan dengan menjaga persatuan dan kesatuan, dan terutama ketertiban di masyarakat.

Kita dapat melihat ada nya pihak-pihak yang ingin membuat suasana menjadi gaduh di dalam pemilu. Masih hangat di dalam berita media massa bagaimana muncul berita bohong, atau sering disebut hoax, yang menghebohkan yaitu tentang bagaimana tujuh kontainer surat suara telah dicoblos. Berita bohong ini juga menimbulkan ketidakpercayaan terhadap penyelenggara pemilu yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu.

Mungkin akan ada berita-berita bohong yang akan timbul dalam perjalanan sebelum pemilu dilaksanakan. Tugas kita adalah yaitu janganlah kita menjadi agen penyebaran berita bohong tersebut. Kita harus tahu mana yang fakta mana yang berita bohong. Kita harus waspada dengan berita-berita bohong yang sengaja diwartakan di masyarakat. Berita bohong itu memang sengaja diwartakan dengan tujuan agar menimbulkan keresahan di masyarakat, dan terutama punya tujuan untuk menjatuhkan calon pemimpin. Apa jadinya kalau hanya karena satu berita bohong yang sebarkan melalui media sosial dapat menimbulkan perpecahan di antara masyarakat? Lantas siapa yang untung dalam hal ini? Yang untung adalah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang memanfaatkan situasi kisruh hanya untuk mencari keuntungan pribadi.

Pilihan boleh berbeda, partai yang kita dukung pun boleh tidak sama, tetapi persatuan dan kesatuan tetap nomor satu. Pilihan kita jangan merusak persaudaraan telah terjalin. Pilihan kita adalah pilihan yang bebas, tanpa paksaan dari pihak manapun. Yang terpenting adalah bagaimana pilihan tersebut harus didasari. Pilihan tersebut harus dilakukan dengan penilaian yang matang akan mutu calon pemimpin dan wakil rakyat yang akan kita pilih. Yang terpenting adalah bagaimana pemimpin dan wakil rakyat tersebut harus punya rekam jejak yang baik, tidak “punya beban sejarah” di masa lalu. Calon wakil pemimpin yang akan kita pilih itu harus dapat menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan berlandaskan Undang-undang Dasar 1945, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika.

Masih ada waktu untuk mempelajari calon pemimpin kita. Silahkah saudara-saudari mencari informasi sebanyak mungkin, tentunya dari sumber yang tepat dan terpercaya. Tidak menutup kemungkinan timbul diskusi dalam menentukan pilihan. Kita harus menjadi pemilih yang cerdas. Jangan sampai kita salah memilih hanya karena adanya politik uang. Pilihan yang bijak menentukan demi kemajuan Bangsa dan Negara Indonesia di masa depan. Akhirnya, apa yang kita lakukan harus kita sadari bahwa peran kita sebagai garam dan terang yang memberi rasa dan menyinari sekitar kita. Memberikan cahaya di tengah situasi yang gelap gulita.

Redaksi Lentera

Related Posts

  • 92
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 88
    PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) DAN KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) Tahun2016 "HARI INI TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT, YAITU KRISTUS, TUHAN, DI KOTA DAUD" (Lukas 2:ll)   Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia, Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita.…
    Tags: kita, dan, yang
  • 84
      Mencermati wajah-wajah perempuan Indonesia saat ini, sungguh boleh dibilang cukup membanggakan. Pola pikir dan kreatifitas para wanitapun sekarang sudah semakin maju, berkembang sejalan dengan perputaran roda kehidupan dalam era globalisasi yang semakin hari semakin meningkat. Jendela dunia kian terbuka lebar, memberikan berbagai macam ilmu pengetahuan serta mampu menjanjikan harapan baru bagi siapapun yang ingin…
    Tags: dan, yang, kita, harus