Ayo Jadi Duta Nyinyir ?

nyinyir

Baru-baru ini di media masa ada seorang musisi yang dijebloskan ke dalam penjara karena terbukti menyebarkan ujaran kebencian. Apakah yang dilakukan musisi itu adalah sebuah ‘nyinyiran’ yang keterlaluan sehingga menimbulkan rasa benci kepada orang lain.

Sebelum kita membahasnya lebih lanjut, mari kita telusuri apakah arti kata nyinyir itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nyinyir itu adalah kata sifat yang mempunyai arti mengulang-ulang perintah atau permohonan, nyenyeh, cerewet. Namun, oleh generasi milenial, kata nyinyir sendiri mengalami pergeseran makna yang sangat jauh dari makna aslinya yaitu menjadi suatu kegiatan menggunjing, menyindir, mengkritik.

Entah makna itu digeser atau memang karena tidak tahu arti sebenarnya muncullah istilah itu di media sosial. Sekarang kita, abaikan bahasa baku untuk sesaat. Kita kembali memakai makna nyinyir sebagai kegiatan menggunjing.

Mungkin apa yang dilakukan oleh musisi tersebut adalah suatu proses nyinyir yang karena tidak suka dengan seseorang. Nyinyirannya itu mungkin diamini oleh sebagian orang, tetapi jika diperhatikan kata-kata yang diucapkan bukanlah kata-kata yang sopan jika diucapkan di ranah publik.

Pada masa di mana alat komunikasi semakin canggih dan segala hal informasi dapat dengan mudah didapatkan pada masa sekarang, hal baik dan hal buruk batasnya sangat tipis. Dengan adanya alat komunikasi manusia dapat mengungkapkan ide, gagasan, pendapatnya. Ada yang sopan, ada yang kebablasan hingga menimbulkan ujaran kebencian kepada orang lain.

.
Sadar atau tidak sadar kita juga sering menggunjing orang lain yang tidak sepaham dengan kita. Kalau bisa mencari kelemahan orang yang tidak kita sukai. Ketika level ‘nyinyir’ nya semakin tinggi, apapun yang ‘saingan’ lakukan mungkin tidak ada yang baik di mata kita. Kita terkadang akan membahas keburukan orang yang tidak kita suka sampai kita puas.

“Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan,” (Amsal 13:3), kitab Amsal mengingatkan kita bahwa apa yang kita katakan dapat membuat kita hidup atau binasa. Untuk, masa sekarang mungkin lebih tepat siapa yang menjaga jari-jari dari godaan untuk menggunjing, menyindir di media sosial memelihara nyawanya.

Peringatan ini mungkin sangat bermakna untuk saat-saat ini, karena kita akan menghadapi Pemilihan umum. Mulai dari tahun 2018, kita dapat merasakan bahwa tensi politik semakin tinggi, banyak ujaran-unjaran yang disengaja untuk menimbulkan tumbuhnya kebencian terhadap seseorang. Ucapan yang tidak sebenarnya di bawa ke ranah publik, menjadi konsumsi publik. Akhirnya terjadilah seperti di kasus musisi yang terlibat kasus hukum ujaran kebencian tadi.

Panggilan kita adalah menjadi bentara peradaban kasih yaitu dengan mengabarkan kabar gembira kepada semua orang. Tugas murid-murid Kristus adalah kita berani bersaksi mengatakan suatu hal yang baik, sehigga kehadiran kita menjadi berkah bagi sesama. Jika kehadiran kita malah menimbulkan perpecahan, kita pantas bertanya kepada diri sendiri apakah saya sudah menjadi murid Kristus?

Semangat menyebarkan kasih menjadi modal kita dalam membangun paguyuban terutama di dalam kehidupan menggereja. Di Paroki Sragen, sedang ada perubahan struktur organisasi dari lingkup lingkungan, wilayah, stasi, juga di Dewan Pastoral (Dewan Paroki).

Yang perlu kita bina adalah bagaimana menjaga komunikasi yang terbuka, dan tidak ada sesuatu yang ditutup-tutupi, atau mungkin main belakang. Di depan baik di belakang ngrasani. Komunikasi yang terbuka, tulus inilah yang akan membentuk paguyuban menjadi kuat. Mungkin, bertemu bertatap muka, berdiskusi dengan terbuka dan rendah hati menerima hal yang baik maupun yang buruk, untuk kemudian mencari solusi bersama demi berkembangnya paguyuban umat beriman.

Pertanyaannya adalah apakah saudara-saudari mau menjadi bentara peradaban kasih dengan mau meninggalkan ego diri. Atau apakah atau menjadi duta nyinyir yang hanya mencari kesalahan orang lain? Silahkan tanyakan pada hati kecil saudara-saudari.

 

Redaksi LENTERA

Related Posts

  • 77
    “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” - Mat 5:39 - . Kalau kita berbicara tentang kata 'merdeka' tentu kita akan selalu teringat akan beliau Bapak Ir. Soekarno dan Bapak Dr. H. Mohammad Hatta yang telah menghantar kita membuka…
    Tags: kita, yang, di, tidak
  • 76
    Selamat Tahun Baru 2019, saudara-saudari pembaca LENTERA yang budiman. Semoga tahun, ini adalah tahun yang penuh dengan berkah sehingga kita bisa memberikan segala kemampuan kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan lewat panggilan hidup bakti kita. Tahun 2019 adalah tahun politik, sudah saudara-saudari ketahui bahwa tahun ini akan ada suksesi pemerintahan secara serentak. Dalam suksesi pemerintahan…
    Tags: yang, kita, di
  • 74
    Tapi, slow down baby, tidak usah buru buru kebakaran jenggot dan menuduh bahwa itu pertanyaan yang berbau bidaah dari aliran sesat. Atau buru buru meng¬hindar dengan mengatakan, Ah, pertanya¬an semacam itu sudah ada sejak dulu. Itu kan tidak menjawab pertanyaan, dan secara tidak langsung mengatakan bahwa kita tidak menguasai masalah. Harap diingat bahwa pertanyaan tersebut…
    Tags: kita, yang, tidak