Pelayanan Yang Diperbarui

pastoralia feb

Agaknya ada alasan yang cukup mendasar, mengapa LENTERA edisi Februari ini mengangkat tema: Melayani dengan Semangat Baru. Paling kurang alasan yang dapat disebutkan adalah: Pertama, adanya pembaruan personalia Dewan Pastoral Paroki SP Maria di Fatima Sragen. Yang kedua, datangnya Tahun Baru 2019.

Melayani a la film
Refleksi kita mengenai melayani dengan semangat baru, kita awali dengan mengapreasiasi sekilas Film Keluarga Cemara, yang selain dahulu di tahun 1990-an muncul di TV, juga di awal tahun 2019 ditayangkan di layar lebar/ bioskop. Kendatipun film ini tidak bermaksud memberi paparan tentang pelayanan, namun kiranya terdapat semangat yang senada dengan itu. Dari cerita Keluarga Cemara versi film, ada penggalan cerita yang kiranya baik dimunculkan di sini.

Pada bagian tertentu, Si Abah menyatakan bahwa dirinya berjuang (keras) atau mengusahakan agar si Emak, Euis dan Ara mengalami hidup yang terbaik. Abah bersuara keras dan bernada marah mengakui bahwa keluarga mengalami kondisi yang buruk dan jatuh miskin, itu karena tindakannya yang keliru. Maka ia minta maaf. Namun demikian, sekali lagi Abah meminta pengertian Emak dan anak-anaknya, sebab sesungguhnya dengan caranya Abah pun telah “melayani” keluarganya ini, serta mengusahakan yang terbaik bagi keluarga.Maka sang Abah pun kemudian rela kalau harus “pindah rumah lagi” dan hijrah ke Jakarta demi mereka. . . . dan seterusnya dan serterusnya. Selengkapnya, silakan melihat filmnya.

Para pembaca, yang budiman, bilamana sikap dan tindakan dari Abah yang bersedia berjuang bagi keluarga, istilah ini diganti dengan “melayani” maka kiranya tidak ada pengurangan atau penghilangan makna. Bahwa si Abah berjuang yang terbaik bagi keluarga adalah cara dia MELAYANI keluarga.

Bahkan dapat dicatat Abah telah “melayani dengan cara baru”, yakni: Pertama-tama kebaruannya adalah Abah menjalankannya dengan penuh semangat, sepenuh hati. Sebagai tindakan seorang ayah atau kepala keluarga, ia bersedia bekerja dalam bentuk apapun, entah sebagai kuli bangunan; dan ketika itu sudah sulit dikerjakan ia beralih kerja, jadi anggota Go-Jek alias ojek on-line.

Dalam hal ini kita boleh yakin banyak bapak yang pernah mengalami jatuh-bangun mencari kerja dan me-lakon-i kerja apapun. Nah, sisi sikap inilah yang agaknya membedakan dan sekaligus menujuk ke-BARU-annya.Ia melakoni dengan sepenuh hati dan sepenuh dedikasi.

Yang kedua adalah ketika sepertinya semua anggota keluarga kurang berkenan pada pilihannya atau keputusannya hendak menjual rumah, ia sadar bahwa putusan ini tidak tepat, bukan pilihan tindak yang langsung menjawab persoalan. Oleh karenanya ia bersedia MINTA MAAF.Dua sikap inilah yang dapat kita catat dan sekaligus dua butir makna yang dapat diserap dari keluarga Cemara.

Melayani a la Kitab Suci
Dari film Keluarga Cemara, kita telah mendapatkan butir-butir yang diperlukan demi dapat melayani dengan semangat baru. Lantas bagaimanakah Kitab Suci memberi pengajaran kepada kita? Dalam hal ini tulisan Santo Paulus memberi petunjuk bagus. Di-idealkan oleh St .Paulus bahwa seseorang yang menjadi pimpinan jemaat serta hendak melayani mereka, mestilah pribadi yang ber-integritas tinggi. Pemimpin demikian dicirikan oleh nilai hidup: beriman yang mendalam (alias saleh), bijaksana dan dapat menguasai diri. Selanjutnya simak Titus 1: 5-9. Sifat-sifat pribadi yang disebutkan St. Paulus selain dimungkinkan dimiliki oleh pemimpin pada umumnya, yang barangkali dapat ditemukan di masyarakat, ada nilai khas yang masih kehendaki oleh St. Paulus, yakni bahwa seorang pemimpin mestilah mendapatkan tuntunan Roh Kudus.“. . sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.”

Benar bahwa teks ini tidak menunjuk secara khusus bagi pemimpin atau pelayan jemaat, tetapi ditujukan bagi jemaat pada umumnya setelah dibaptis dan diselamatkan dalam Tuhan Yesus Kristus. Namun, demikian mengingat nilai atau keutamaan demikian dihayati sungguh oleh St. Paulus dan betapa beliau pun mau agar (semua) para murid Kristus dijiwai oleh Roh Kudus, kiranya hal ini mesti dimasukkan dalam kriteria seorang pemimpin yang diidealkan. Perhatikan nasihat Paulus dalam Filipi 3: 15-17. Maka peran Roh Kudus memang menjadi amat penting dalam bahasan semangat pelayanan.

.
Pada gilirannya, semangat dari Roh Kudus ini menjadi penting, bukan saja karena IA adalah anugerah yang ditawarkan bagi semua pengikut Tuhan Yesus Kristus, namun juga karena dari pihak manusia (baca: pelayan) diandaikan ia menyanggupkan diri membina relasi yang intens dengan-NYA. Tuntutan demikian merupakan hal yang sewajarnya ada, sebab sang pelayanan harus melayani siapa? Pertanyaan lanjutan: Siapa yang harus diikuti agar pelayanan bagi jemaat berjalan dengan baik? Demi menjawab serta agar mampu bertindak sebagaimana dikehendaki, sang pelayan mesti bertanya atau membina relasi yang dekat dengan Allah, yang adalah pemilik jemaat; selanjutnya juga membina relasi dengan Roh KudusNya. Roh inilah yang akan menjamin sang pelayan bertindak seturut dengan maksud – rencana Allah sendiri.

Oleh karenanya, dari uraian singkat di atas, dapat kita kumpulkan beberapa butir permenungan kita, berkenaan dengan pelayanan dengan semangat baru.
1. Dedikasi. Sang pelayanan dalam proses pengabdiannya itu, kemudian berani menyanggupan diri menjalani tugas/tanggung jawabnya yang diterimanya dengan tulus.
2. Merupakan pribadi yang berintegritas; atau yang bersedia untuk semakin berintegritas,
3. Tidak kebal kritik. Sadar bahwa perbuatan salah dapat terjadi dimana dan kapanpun jua, maka dia pun selayaknya siap minta maaf, siap dikoreksi.
4. Dibimbing oleh Roh Kudus. Relasi pelayan dengan Roh Kudus tercipta sedemikian rupa sehingga berkenaan dengan tugas-pengabdiannya ini, ia selalu ada kesempatan untuk membuat penegasan dalam Roh (discernment of the spirit)

Dalam tataran praktisnya (misalnya saja) itu berarti, tanda bahwa si pelayan menghayati semangat baru, dia bertindak sedemikian rupa sehingga:
1. Bilamana mengikuti rapat, dia bukan saja siap serta serius beradu argument dan teguh memegang prinsip, tetapi juga bersedia “mendengarkan”.
2. Bilamana bertugas dalam lingkup pewartaan, dia bukan saja siap mentransfer aneka kumpulan gagasan dalam pikirannya lantas dituang dalam benak sesamanya; tetapi dia menyampaikan warta baik dan gembira. Mudahnya, bagaikan guru bukan hanya siap menuang ilmu miliknya ke dalam pikiran sang murid, tetapi didorong oleh Roh, ia menyampaikan hal baik yang telah diyakininya.
3. Bilamana ia mengunjungi tetangga atau bertandang ke keluarga lain, ia bukan sedang menjalankan supervisi, tetapi ingin mendengarkan cerita beriman dari keluarga yang dikunjunginya.
4. Bilamana ia mengikuti kegiatan/pertemuan di Lingkungan, ia tidak berpuas diri karena sudah menampilkan diri, tetapi karena sadar bahwa dia adalah bagian dari Lingkungan tersebut (sense of belonging). Atau kegiatannya itu dihayati sebagai buah tangan yang hendak dipersembahkan kepada Allah.
5. Bilamana ia sedang membaca firman, ia bukan saja hendak bertugas sebagai lektor, tetapi karena ia rela dan berbahagia Allah berkenan menyatakan sabda bagi jemaatNya.
6. dst..

Semangat baru seperti itulah yang hendak dihayati oleh mereka yang diberi kesempatan masuk dalam jajaran Dewan Pastoral Paroki Sragen. Semoga.

Sragen, 24 Jan 2019
Peringatan Sanfrades.
M Sapta Margana

Related Posts

  • 85
    APP 2017: MENJADI PELOPOR PERADABAN KASIH “Meski panas terik matahari menyengat, tak membuat para aktivis perdamaian dan persaudaraan lintas agama ini menyerah dalam menyampaikan niat dan amanat. Silih berganti mereka menyampaikan orasi damai. Lukas Awi Tristanto, misalnya, mengajak masyarakat untuk terus berjuang melawan setiap diskriminasi. Para hadirin dan masyarakat dibuat terpana penuh haru saat Ellen…
    Tags: dan, yang, dalam, dengan
  • 85
    Saudara-saudara terkasih di dalam Yesus Kristus, 1. Kita patut menaikkan syukur ke hadirat Allah dalam Yesus Kristus, sebab atas anugerah-Nya bangsa dan negara kita dapat mengukir karya di tengah sejarah, khususnya dalam upaya untuk bangkit kembali serta membebaskan diri dari berbagai krisis yang mendera sejak beberapa tahun terakhir ini. Anugerah, penyertaan dan bimbingan Tuhan bagi…
    Tags: dan, yang, dalam
  • 84
    “Satu hati bagi bangsa mewujudkan Peradaban Kasih di Indonesia” Dibacakan/diterangkan pada Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga; Sabtu-Minggu, 13 - 14 Agustus 2016   Saudara-saudariku umat Katolik Keuskupan Agung Semarang, Para Pejuang Senior, Veteran, dan sahabat-sahabat muda yang penuh semangat: SALAM BAHAGIA, karena kasih dan kemerdekaan yang Tuhan berikan bagi kita. SALAM PERJUANGAN…
    Tags: dan, yang, dalam