Hidup untuk menjadi berkat

Menjadi berkat

Ada cuplikan bagian lirik lagu yang dinyanyikan seorang anak SD tunanetra yang cukup viral meski tidak sesuai dengan lirik aslinya ciptaan Pdt. Willhelmus Latumahina namun lagu ini sungguh inspiratif, demikian liriknya:

Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri
Hidup ini hanya sementara
Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat

Terlepas dari benar atau salahnya lirik ini dengan versi aslinya, setidaknya kita semua bisa belajar bagaimana semestinya menggunakan hidup yang diberikan Tuhan dengan tidak menyia-nyiakannya. Kita semua dipanggil untuk hidup dan menjadi berkat bagi yang lain. Bagaimana caranya hidup menjadi berkat bagi yang lain itu? Akan banyak jawaban dari kita ketika pertanyaan ini dilontarkan. Kita bisa menjawab dengan berkata, “Dengan mengasihi sesama, menolong sesama, bhakti sosial bagi yan kecil, lemah miskin dan tersingkir dan lain sebagainya.” Kesemuanya itu adalah jawaban yang baik dan benar adanya. Lalu, pertanyaan berikutnya apakah sungguhnya hidup yang menjadi berkat sudah menjadi gaya hidup kita setiap hari atau dalam bahasa rohaninya menjadi spiritualitas kita. Dengan kata lain, hendak dikatakan jangan-jangan hidup kita terjebak dalam situasi tertentu atau moment-moment khusus saja menjadi berkat bagi yang lain.

Kalau kita ingat kembali tema APP tahun yang lalu, “Mengasihi dengan Kata dan Perbuatan” tentunya tidak hanya berhenti selama masa prapaskah saja kita mengasihi dengan kata dan perbuatan tetap harapannya setiap hari setiap waktu dimana kita berada dan setiap hari kita hendaknya mengasihi dengan kata dan perbuatanyang nyata. Demikian pula dengan tema APP tahun ini, “Makin Tergerak untuk Berbagi Berkat” sebagai lanjutan dan kesinambungan dengan tema tahun lalu, harapannya tidak berhenti pula hanya selama masa prapaskah 2019 ini saja tetapi juga setahun ke depan menjadi habitus, kebiasaan hidup atau spiritualitas (gaya hidup) kita setiap hari.

Lebih lanjut dalam merenungkan tema, “Makin Tergerak untuk Berbagi Berkat” ini, semangat dasar yang ingin kita hidupi adalah kesadaran bahwa masa prapaskah menjadi kesempatan bagi kita untuk olah rohani, retret agung selama 40 hari. Konstitusi tentang Liturgi Suci menyebutkan bahwa dalam liturgi maupun katekese liturgis hendaknya ditampilkan dua corak khas masa empat puluh hari, yakni mengenangkan atau menyiapkan baptis dan membina pertobatan. Dalam masa ini mengajak umat untuk lebih intensif mendengarkan Sabda Allah dan berdoa guna menyiapkan batin umat merayakan misteri Paska (bdk. SC art. 109).

Mengenangkan baptis dan menyiapkan baptis dapat dimaknai sebagai upaya untuk melihat kembali makna hidup baru di dalam Kristus. Dari sini kita diajak untuk mensyukuri karunia penebusan Kristus atau kedosaan kita. Hidup baru di dalam Tuhan ini menuntut sebuah konsekuensi bahwa kita masih diberi kesempatan dan hendaknya tidak menyiakan-nyiakan waktu, ingatlah bahwa hidup di dunia ada batasnya waktunya. Sikap membina pertobatan dijelaskan dengan lebih intensif membangun relasi dengan Tuhan melalui Sabda dan hidup doa. Namun pada sisi yang lain dapat dimaknai pula bahwa membina pertobatan berarti kesadaran diri untuk hidup dengan tidak lagi bagi dirinya sendiri (manusia lama) tetapi bergerak maju menjadi kesadaran bahwa hidup bagi yang lainnya pula (manusia baru). Dengan demikian semakin jelaslah bahwa dalam kesadaran sebagai manusia yang baru (rahmat baptis) kita meninggalkan kemanusiaan lama kita dan diperbarui untuk hidup sebagai manusia baru, manusia berkat bagi yang lain.

Tema “Makin Tergerak untuk Berbagi Berkat” mengajak para murid-murid Kristus untuk terus membangun komunitas kasih yang merengkuh semua orang serta menyadari betapa pentingnya menghidupi sikap hidup yang penuh kemurahan hati, mengupayakan kekudusan hidup setiap hari dan penuh belas kasih. Pada masa prapaskah tahun ini, umat diajak untuk semakin membentuk gerakan saling berbagi berkat. Harapannya melalui gerakan ini, umat semakin mampu mensyukuri rahmat belas kasih Allah yang senantiasa tercurah bagi semua orang agar siapa pun dan apapun saling menjadi berkat.

Dalam rahmat belas kasih ini, Allah merangkul semua orang agar menemukan kembali damai sejahtera (syaloom) berkat karya penebusan Yesus kristus yang telah bersolidaritas/peduli dengan nasib manusia. Panggilan kita sebagai paguyuban murid-murid Kristus tetap sama yakni berpihak kepada mereka yang kecil, lemah miskin dan tersingkir sembari mewujudkan terciptanya keadilan sosial, perjuangan terhadap keadilan, kedamaian, kesejahteraan dan terpeliharanya keutuhan alam ciptaan.

Bagaimana mengupayakan agar gerakan berbagi berkat tersebut semakin nyata dan terwujud? Kita tidak harus membuat gerakan atau usaha-usaha yang baru, sekiranya ada itu baik, tetapi kita bersama sebenarnya semakin mengoptimalkan gerakan-gerakan sosial atau karitatif yang sudah kita dimulai. Sebagai contoh misalnya ada gerakan Padre Pio, Peduli pendidikan Asih Putra, Legio Marie, Kerasulan Kitab Suci, CFC, misdinar, OMK, Rekat, FKPK, WKRI dan lain-lain. Kesemuanya itu baik namun mari kita tingkatkan kembali peran aktif kita, dengan lebih semangat menghidupinya kembali.

Sederhananya demikian, kehadiran kita dalam sebuah pertemuan atau kegiatan sudah menjadi wujud berbagi berkat bagi yang lain, karena ada sikap kerelaan mengorbankan waktu, biaya, kepentingan lain untuk datang. Dalam kebersamaan penuh persaudaraan inilah mengalir pula berkat bagi lainya. Dari sini pula kita bisa merancang aneka kegiatan, usul gagasan, program, bersama untuk membagikan rahmat Allah secara lebih luas bagi saudara-saudari kita yang lainnya.

Sebuah kisah inspirasi suatu gerakan bernama Focolare mungkin bisa menjadi kesadaran kita bersama. Gerakan Focolare (artinya: tungku perapian) awalnya dimulai dengan sebuah pertemuan membaca Sabda Allah di depan tungku perapian (tempat mengobrol dan memberikan kehangatan) dan mencoba menghidupinya dalam hidup harian. Dari pertemuan sharing Sabda Allah (Sabda Kehidupan) mereka membagikan pengalaman masing-masing selama menghidupi Sabda Allah. Masing-masing lalu dikuatkan satu sama lain.

Ketika pecah perang dunia II, gerakan Focolare ini disemangati oleh Sabda Allah tergerak dan dipanggil untuk menolong korban perang. Kasih menjadi spiritualitas gerakan ini, karena tidak ada suatu kekuatan di dunia ini mampu menghancurkan kasih. Mereka percaya kasih dapat mempersatukan dunia, meski berbeda latar belakang budaya, ekomoni, sosial, agama bangsa, suku dan keyakinannya. Lambat laut gerakan ini semakin mendunia. Vatikan memberi nama gerakan Focolare ini dengan sebutan, “Karya Bunda Maria”.

Kini gerakan ini berkarya diberbagai bidang kehidupan manusia, salah satu upaya untuk membangun kesatuan dunia di dalam kasih dan menjadi berkat bagi semua umat manusia. Semoga kita semua semakin tergerak untuk berbagi berkat. Deo gratias. Berkah Dalem.

Rm. Laurentius  Andika Bhayangkara, Pr

Related Posts

  • 73
    ROH TUHAN GERAKKAN MISI Saudara-saudari terkasih, Tahun lalu, kita telah merenungkan dua aspek panggilan Kristiani: seruan “keluar dari diri kita sendiri” untuk mendengarkan panggilan Tuhan, dan pentingnya komunitas gerejawi sebagai tempat istimewa di mana panggilan Tuhan lahir, tumbuh dan berkembang. Sekarang, pada Hari Doa Panggilan Sedunia ke-54 ini, saya ingin merenungkan dimensi misioner panggilan Kristiani.…
    Tags: dan, yang, kita, untuk, dengan, ini
  • 73
    Ngrawoh, Sragen (LENTERA) - Denting suara siter dan hentakan gendang dari Wilayah Santo Andreas Sragen yang bertugas, menambah kesyahduan situasi Ekaristi Novena III di Gua Maria Fatima Ngrawoh. Sungguh malam hari itu, Ekaristi berjalan dengan “semuwa”. Novena IV diadakan pada Kamis (05/05). Seperti biasa, novena pada kesempatan kali ini dihadiri oleh 400-500 umat. Yang lebih…
    Tags: kita, yang, dan, hidup, untuk, ini, dalam, dengan
  • 73
    “MAKIN TERGERAK UNTUK BERBAGI BERKAT” Para Ibu, Bapak, Orang Muda, Remaja, dan Anak-anak; para Romo, Bruder, Frater, dan Suster yang terkasih dalam Kritus, Pada hari Rabu Abu, 6 Maret 2019, kita akan memulai masa Prapaskah yang akan berlangsung selama 40 hari (Latin: quadragesima) sampai dengan tanggal 19 April 2019. Masa Prapaska ini dimaksudkan untuk mempersiapkan…
    Tags: yang, dan, dalam, kita, ini, dengan, untuk