Kristus yang Bangkit Menawarkan Makanan Merupakan Tata Hidup Baru Demi Kesejahteraan Masyarakat

Perjamuan Kudus

Pengantar
Sejak membuka masa prapaskah, Gereja telah mengajak para putra-putrinya untuk menjadi penyalur berkat: “Semakin Tergerak Menjadi Berkat”. Menjadi berkat bagi sesama dan kemudian dikaitkan dengan tekat mewujudkan kesejahteraan masyarakat atau kesejahteraan umum hendak kita jadikan tempat kita men-syukuri rahmat kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus; dengan perkataan lain Perayaan Agung Paskah. Lebih lanjut secara ringkas, agaknya harus dikatakan bahwa Paskah Tuhan kita Yesus Kristus merupakan tata hidup baru mengenai kesejahteraan umum.

Catatan awal yang perlu dikatakan di sini bahwa ungkapan kesejahteraan umum adalah senada dengan kemuliaan sejati yang didambakan manusia; dan itu setali tiga uang dengan penyempurnaan hidup bersama yang dibangun di tengah masyarakat.

Pasca Kebangkitan
Penginjil mengumpulkan kisah-kisah inspiratif di sekitar kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Salah satunya adalah Lukas (lihat pasal 24:25 – 28). Bagian awal yang dikisahkan adalah pemahaman para murid dikoreksi terlebih dahulu oleh Tuhan Yesus: “Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?”

Nomer satu, sabda tersebut merupakan koreksi total terhadap pemahaman para murid selama ini. Bagaimana kelanjutannya dan isi pemahaman baru yang mereka miliki? Pertanyaan demikian ini, untuk kali ini disimpan dulu. Mari kita lihat apa yang kemudian dikisahkan oleh Lukas setelah nomer satu itu. Disebutkan bahwa, “ . . . , katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Ungkapan ramah dari murid Emaus ini merupakan keterbukaan diri menjadikan aku – teman-bagi – sesama. Sikap ini menjadi kunci dan sekaligus tanda adanya perubahan sikap dalam diri para murid setelah Paskah.

Tawaran bersahabat ini tentu bukan sekedar basa-basi (yang dalam bahasa Jawa disebut ngampirake), pasti lebih dari itu. Ajakan untuk singgah adalah keterbukaan orang memberi tumpangan dan pasti juga memberi makan; dan sikap hati lain yang harus ditambahkan adalah kesediaan memberi rasa aman kepada sesama. Bayangkan, di padang gurun, sore atau menjelang malam orang masih dalam perjalanan adalah kondisi yang penuh bahaya. Salah satunya yakni kemungkinan diserang binatang buas, dan pasti kedinginan. Maka, memberi tumpangan berarti memberi rasa aman kepada sesama.

Nomer tiga, adalah Tuhan Yesus (sang tamu) yang justru menyiapkan bahan perjamuan dan mengajak mereka makan malam. Lukas mencatat: “…Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. (ayat 30). Justru Tuhan Yesuslah yang menjadi tuan rumah dan memberi para murid makan. Hal inilah semangat Paskah yang persis membahas dan merupakan perwujudan hidup yang (makin) sejahtera itu. Tuhan Yesus dalam hidup muliaNya tetap menyapa manusia dengan bahasa yang lugas dan simpatik: “Mari kita makan”.

Paskah Adalah Tawaran Tata Hidup Baru Demi Kesejahteraan Umum
Dengan demikian minimal ada dua hal pokok yang persis menjadi isi pokok peristiwa Paskah; yakni papan dan suasana akrab-bersahabat, serta makan. Dua hal pokok ini pun menjadi isi dari upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Mengenai soal makan ini masih beberapa kali muncul dalam kisah kebangkitan Tuhan Yesus (lihat Yohanes 21:5). Oleh karenanya merayakan Paskah tidak boleh lepas dari niat dan kehendak kita entah dengan rumus “menjadi berkat bagi sesama”, ataupun mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam kerangka pikir yang diutarakan di atas itulah maka mari kita jadikan momen Paskah sebagai masa dan kesempatan yang penuh antusias untuk mewujudkan kesejahtreaan hidup bersama di masyarakat. Sekali lagi Selamat Hari Raya Paskah.

Sragen, 25 Maret 2019
Sapta Margana, M

Related Posts

  • 72
    ROH TUHAN GERAKKAN MISI Saudara-saudari terkasih, Tahun lalu, kita telah merenungkan dua aspek panggilan Kristiani: seruan “keluar dari diri kita sendiri” untuk mendengarkan panggilan Tuhan, dan pentingnya komunitas gerejawi sebagai tempat istimewa di mana panggilan Tuhan lahir, tumbuh dan berkembang. Sekarang, pada Hari Doa Panggilan Sedunia ke-54 ini, saya ingin merenungkan dimensi misioner panggilan Kristiani.…
    Tags: dan, yang, kita, untuk, dengan, ini, tuhan
  • 69
    Hari Minggu ke-33 di Masa Biasa 19 November 2017 Marilah kita mencintai, bukan dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan 1. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yoh 3:18), Kata-kata rasul Yohanes ini menyuarakan perintah yang tidak boleh diabaikan oleh orang Kristen manapun. Kesungguhan dalam perintah…
    Tags: dan, yang, kita, dalam, ini, dengan
  • 68
    Dibacakan/diterangkan pada Malam Tirakatan atau Hari Raya Kemerdekaan Indonesia Rabu - Kamis, 16 - 17 Agustus 2017 “MENGEMBANGKAN SEMANGAT KEBANGSAAN DAN KE-BHINNEKA TUNGGAL IKA-AN” Para sahabat muda, anak-anak dan remaja; para Saudari-saudara, Ibu, dan Bapak; serta para Rama, Bruder, Suster, Frater yang terkasih. Baru saja kita akhiri perhelatan besar Keuskupan Agung Semarang sebagai tuan rumah…
    Tags: dan, yang, kita, dengan, di, dalam