“Memaknai Makam Kosong” Sebuah Refleksi Injil Yohanes” (Yoh 20:1-10)

Suster Marietta, SFS

Masa “retret agung” bagi umat Katolik selama 40 hari sudah selesai. Setiap pribadi, keluarga, komunitas dan lingkungan membuat tekad dan berkomitmen untuk menindak lanjuti buah permenungan selama masa pertobatan di masa Prapaska dengan komitmen untuk menjadi berkat bagi orang lain di lingkungan tempat kita berada.

Sebagaimana ajakan Romo Laurentius Andika Bhayangkara Pr, dalam tulisannya di LENTERA terbitan bulan Maret 2019: “…membangun komunitas kasih yang merengkuh semua orang serta menyadari betapa pentingnya menghidupi sikap hidup yang penuh kemurahan hati, mengupayakan kekudusan hidup setiap hari dan penuh belas kasih…”

Lalu apa kaitannya dengan tema Paskah dalam tulisan ini? Saya mengaitkan “makam kosong” sebagai suatu fakta bahwa Yesus dari Nasaret yang wafat disalib dan dimakamkan dalam kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang (bdk.Yoh.19:41) bangkit. Yesus bangkit setelah hari ketiga, pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutup telah diambil dari kubur (Yoh.20:1). Yesus sudah tidak ada di dalamnya, makam itu kosong, apa yang terjadi. Di mana Yesus sekarang?

Demikian kiranya pertanyaan yang muncul di antara murid Yesus. Maka, gemparlah mereka atas kejadian ini. Maria Magdalena berlari-lari mencari dan memberi tahukan kejadian ini kepada Simon Petrus dan murid yang lain. Petrus dan murid yang lain bergegas berlari bersama pergi ke kubur. Mereka menjenguk dan melihat ke dalam, di dalam kubur mereka tidak menemukan Yesus selain melihat kain kafan dan kain peluh terletak di tanah sudah tergulung, Murid yang lain juga masuk, melihat dan percaya; selama ini mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati..makam itu sudah kosong.

Makam kosong
Fakta bahwa Yesus sudah tidak ada di dalam kubur menimbulkan pertanyaan: “Di mana Dia sekarang?” Pertanyaan ini bisa terjawab dalam kisah selanjutnya pada Injil Yohanes (Yoh20:11-29), yaitu penampakan Yesus kepada Maria Magdalena, kepada para murid-Nya, kepada Thomas; kepada mereka Yesus berkenan menampakkan Diri dan memberi “sapaan damai” serta mengutus para murid-Nya untuk mewartakan kebangkitan-Nya.

Yesus sudah bangkit dan tidak berada di dalam makam lagi. Perjumpaan Yesus dengan para murid setelah Ia wafat dan bangkit membawa sukacita yang memberanikan mereka untuk terus mewartakan “keberadaanNya” kepada semakin banyak orang. Sukacita dan keselamatan dibagikan kepada mereka yang percaya bahwa Yesus yang sudah mengalami sengsara dan yang wafat disalib itu bangkit. Keyakinan ini menjadikan para murid berani keluar dari “persembunyian” karena ketakutan kepada orang-orang yang telah menyiksa dan membunuh Yesus Sang Guru.

Makna makam kosong bagi diri dan kehidupan kita..
Kita umat katolik yang sudah dibabtis, dipanggil untuk menjadi kudus. Hal ini telah diingatkan oleh bapa Paus Fransiskus melalui tulisan “Gaudete et Exultate”. Dalam hal ini “makam kosong” dapat dimaknai: seseorang yang berani menjadi diri pribadi, memberi ruang luas dan leluasa bagi Tuhan Yesus yang telah bangkit.

Yesus tidak lagi berada di dalam kuburNya tetapi berkenan tinggal di relung hati pribadi yang mempercayaiNya. Pribadi tersebut akan memiliki kebebasan batin dan senantiasa bersukacita di dalam hidup dan kehidupannya karena ia meyakini hidupnya bukan untuk dirinya sendiri, “…bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku…” (Gal.2:20).

Kalau Kristus yang hidup dalam diriku, maka aku harus berusaha untuk hidup seperti Kristus hidup. Menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus. Mengosongkan diri mengambil rupa seorang hamba (Bdk Fil.2:1-11). Pribadi yang rendah hati seperti ini akan mengalami sukacita karena ruang hatinya diisi KASIH yang siap dibagikan kepada orang lain dengan penuh syukur.

Hidup yang dihidupi dengan semangat KASIH akan berdaya dampak di dalam hidup dan kehidupan seseorang di mana pun dia berada; keutamaan dan kesalehan yang mengalir dari KASIH KRISTUS memungkinkan dirinya untuk berkembang dan memekarkan nilai-nilai Kasih yang telah dihidupinya.

Di mana pun dia berada, dalam keluarga, komunitas, lingkungan, masyarakat, maupun gereja, di sana akan terbangun dan terwujud suatu “communio” yang teraliri oleh nilai-nilai KASIH. Komunitas ini akan menjadi komunitas KASIH yang saling menyempurnakan, yang kurang akan digenapi yang punya lebih akan rela berbagi.

Komunitas yang terbangun seperti ini, akan menjadi BERKAT bagi banyak orang, mereka akan menjadi SAKSI kehadiran Tuhan yang menyelamatkan dan memberi kehidupan; saksi Perdamaian yang menyatukan aneka perbedaan, dengan demikian komunitas ini juga dapat menjadi BERKAT untuk siapa saja dan di mana saja.

“Keluasan dan keleluasaan” membawa dan berbagi KASIH itulah makna “makam kosong” karena Yesus Kristus sudah bangkit dan berkenan hadir serta tinggal di dalam relung hati kita masing-masing sebagai murid-muridNya yang siap diutus dan bergegas mewartakan kebangkitanNya, itulah PASKAH kita. Akhirnya, kita patut bersyukur karena Kebangkitan Kristus membangkitkan semangat kita sebagai murid-muridNya yang siap sedia diutus dimanapun kita berada sesuai dengan peran kita ditengah masyarakat, jaminan atas kerelaan kita menjadi utusan ini adalah “namamu terdaftar di Surga” (bdk.Lukas.10:20). Selamat Paskah..

Sr.Marietta SFS.

Related Posts

  • 79
    Saudara-saudara terkasih di dalam Yesus Kristus, 1. Kita patut menaikkan syukur ke hadirat Allah dalam Yesus Kristus, sebab atas anugerah-Nya bangsa dan negara kita dapat mengukir karya di tengah sejarah, khususnya dalam upaya untuk bangkit kembali serta membebaskan diri dari berbagai krisis yang mendera sejak beberapa tahun terakhir ini. Anugerah, penyertaan dan bimbingan Tuhan bagi…
    Tags: dan, yang, dalam
  • 79
    “Satu hati bagi bangsa mewujudkan Peradaban Kasih di Indonesia” Dibacakan/diterangkan pada Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga; Sabtu-Minggu, 13 - 14 Agustus 2016   Saudara-saudariku umat Katolik Keuskupan Agung Semarang, Para Pejuang Senior, Veteran, dan sahabat-sahabat muda yang penuh semangat: SALAM BAHAGIA, karena kasih dan kemerdekaan yang Tuhan berikan bagi kita. SALAM PERJUANGAN…
    Tags: dan, yang, dalam
  • 77
    Melayani. Kata kerja ini sudah tidak asing bagi kita umat Kristiani. Kata yang mempunyai membantu mengurus apa yang diperlukan seseorang ini tidak asing bagi hidup orang Kristiani dan telah menjadi bagian dari kehidupan misalnya dalam Liturgi dan peribadatan maupun dalam kegiatan gereja maupun di masyarakat. Kata melayani ini pula diangkat menjadi tema Bulan Kitab Suci…
    Tags: yang, dan, di