Mencari Pemimpin di Masa Depan

pemimpin masa depan

Dalam suatu kegiatan rapat akbar. Seorang tua yang sudah berumur, menjadi pusat perhatian pertemuan tersebut. Orang tersebut bisa dikatakan sebagai sesepuh kelompok yang sedang melakukan rapat. Orang yang hadir dalam rapat tersebut ada yang masih anak-anak, ada yang remaja, ada bapak-bapak, ada ibu-ibu, bahkan ada yang sudah lanjut usia.

Sesepuh yang tersebut berkata kepada kayalak yang hadir: “Bapak-bapak, Ibu-ibu, Anak-anak, saya di sini ditunjuk untuk menjadi pemimpin rapat menwakili Bapak A.” Sesepuh tersebut diam sejenak, menghela nafasnya kemudian melanjutkan, “Bapak A ini sudah lima periode menjabat sebagai ketua lingkungan, dan menurut anjuran dari paroki, ketua lingkungan yang sudah menjabat lebih dari 3 periode harus diganti. Menurut pengamatan saya ada tiga orang yang layak dan pantas untuk menggantikan, yaitu Bapak B, Bapak C, dan Bapak D.”

Bapak B menjawab dengan lantang, “Kalau saya sebenarnya tidak menolak, tetapi saya sekarang ini sering dinas ke luar kota. Jadi kalau saya dijadikan ketua lingkungan mungkin akan sangat kerepotan. Saya lebih merekomendasikan Bapak C. Beliau sudah pensiun dan punya banyak waktu untuk melayani umat lingkungan.”

Bapak C kemudian menjawab, “Bapak B, kegiatan lingkungan, akan saya dukung dengan sepenuh hati, namun untuk menjadi seorang pemimpin, apakah saya punya potongan yang cocok untuk itu. Mungkin Bapak D lebih punya jiwa kepemimpinan.”

Bapak D menjawab, “Saya sebenarnya mau-mau saja untuk menjadi ketua lingkungan, tetapi saya sudah menjadi anggota dewan, bahkan saya memegang dua tim kerja, nanti bagaimana komentar orang-orang kalau saya jadi ketua lingkungan?”

Sampai cerita ini selesai, masih terjadi interaksi antara satu orang dengan orang yang lain, baik dari sesepuh lingkungan, kandidat ketua lingkungan dan umat yang hadir. Namun, tidak ditemukan jalan terang dari pembicaraan tersebut. Untungnya rapat tersebut hanya fiktif belaka tidak terjadi di dunia nyata.

Kejadian fiktif di atas mungkin juga terjadi di komunitas kita, di lingkungan kita, di paguyuban kita. Mengapa mencari pemimpin sekarang ini sangat sulit? Jawabannya (bisa jadi), menjadi pemimpin mungkin adalah sesuatu yang menakutkan. Pemimpin harus melayani; harus berkorban ini dan itu.

Kepemimpinan bukan menjadi sesuatu yang melekat di dalam cara pikir kita, cara bertidak kita. Kita lebih suka dipimpin daripada menjadi pemimpin. Bahkan hanya untuk sekadar memimpin doa saja, terkadang kita menunjuk orang lain untuk melakukannya.

Dalam kegiatan Revitalisasi Program Kerja Dewan Pastoral Paroki Sragen, Romo Fransiskus Asisi Purwanto, SCJ, memberi suatu masukan yang sangat bagus untuk mengatasi permasalahan di atas. Romo mengatakan bahwa untuk mempersiapkan calon pemimpin di masa depan anak-anak diajari untuk menjadi lektor. Setelah diberi kesempatan untuk menjadi lektor, anak diberi kesempatan untuk memimpin doa, seperti Doa Rosario, baik dalam kelompok kecil maupun dalam paguyuban (lingkungan, wilayah, stasi, kring).

Dalam kegiatan yang sederhana yang bernafaskan rohani tersebut anak dilatih untuk memilik jiwa kepemimpinan sedari kecil. Tentunya, harus membutuhkan pendampingan dari orang yang lebih tua. Pasti ada kesalahan kecil di sini dan di sana. Itu sangat wajar. Kalau anak-anak mempunyai jiwa kepemimpinan sedari kecil, mungkin kita tidak akan kekurangan pemimpin-pemimpin di masa depan.

Hal yang senada juga dikatakan oleh Romo FX. Sukendar, Pr, dalam homili di salah satu lingkungan, yaitu bahwa anak itu haru diajari dekat dengan kegiatan gereja baik dalam hal liturgi maupun dalam doa harian. Romo Kendar mengatakan bahwa orang tua (setidaknya yang lebih tua) jangan sampai punya pikiran bahwa anak-anak itu mengganggu kegiatan liturgi peribadatan karena keaktifan mereka (bisa dikatakan ramai). Seharusnya anak diajari dan dilibatkan dalam liturgi peribadatan.

Dari dua masukan Romo tersebut, mari kita menyimpulkan bahwa kehidupan suatu paguyuban umat beriman di dalam Kristus (Gereja) membutuhkan jiwa kepemimpinan (leadership) yang melayani. Untuk mendapatkan pemimpin-pemimpin di masa depan (setidaknya 15-20 tahun lagi) membutuhkan upaya mulai dari sekarang yaitu lebih memperhatikan anak-anak dengan memberikan kesempatan untuk belajar memimpin setidaknya untuk memimpin dirinya sendiri.

Widjanarko Yustinus

Related Posts

  • 72
    KITA ADALAH SESAMA:  BERAWAL DARI KOMUNITAS JEJARING SOSIAL MENUJU KOMUNITAS INSANI Saudara dan Saudari yang terkasih, Sejak adanya internet, Gereja selalu berupaya mendorong pemanfaatannya untuk melayani perjumpaan dan membangun solidaritas antarpribadi. Saya sekali lagi ingin mengajak Anda untuk merenungkan fondasi dan makna mendasar tentang keberadaan kita yang terbentuk melalui relasi. Dalam konteks komunikasi dewasa ini yang…
    Tags: yang, dan, kita, untuk, dari, dalam, di, menjadi
  • 67
    Saudari-saudara terkasih, Pada bulan Oktober yang akan datang, Sidang Umum Biasa ke-15 dari Sinode Para Uskup akan membahas tema kaum muda dan secara khusus hubungan antara kaum muda, iman, dan panggilan. Dalam sidang itu, kita akan memiliki kesempatan untuk merenungkan lebih mendalam, di pusat hidup kita, panggilan kepada sukacita yang Allah anugerahkan kepada kita dan…
    Tags: kita, dan, yang, untuk, dalam
  • 64
    Hari Minggu ke-33 di Masa Biasa 19 November 2017 Marilah kita mencintai, bukan dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan 1. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yoh 3:18), Kata-kata rasul Yohanes ini menyuarakan perintah yang tidak boleh diabaikan oleh orang Kristen manapun. Kesungguhan dalam perintah…
    Tags: dan, yang, kita, orang, dalam