Tumbuh, Berkembang dan Berbuah Bersama dalam Liturgi Gereja

liturgi

Kehidupan iman umat tidak hanya sebatas liturgi saja. Masih kegiatan lain yang bersifat rohani lainnya seperti devosi, ibadat Sabda, sakramentali dan juga kegiatan amal kasih atau karitatif, sosial kemasyarakatan, pewartaan iman dan sebagainya. Iman umat bertumbuh, berkembang dan akhirnya berbuahmelalui prosespenghayatan iman, pengungkapan iman dan akhirnya sampai pada perwujudan iman. Namun begitu, liturgi menjadi bagian dari kehidupan umat yang tidak bisa dipisahkan dari praktik beriman umat dan menjadi bagian penting. Mengapa dikatakan penting? “Sebab melalui liturgilah, terutama dalam Kurban Ilahi Ekaristi, terlaksanalah karya penebusan kita” (SC art.1). Liturgi merupakan upaya untuk membantu umat beriman dalam penghayatannya mengungkapkan Misteri Kristus serta hakikat asli Gereja. Terkait dengan usaha membantu umat beriman inilah, Gereja Keuskupan Agung Semarang melalui Komisi Liturginya berupaya memberikan pemahaman dengan memberikan katekese-katekese yang kita kenal sebagai Bulan Katekese Liturgi (BKL). Pada tahun 2019 ini, BKL memasuki tahun yang ke 20 dengan mengambil tema: Liturgi mengubah kehidupan (?). Katekese liturgi untuk umat sudah menjadi amanat para Bapa Konsili Vatikan II yang berkata bahwa para gembala jiwa mesti dengan tekun dan sabar mengusahakan pembinaan liturgi kaum beriman dan keikutsertaan mereka secara aktif, baik lahir maupun batin, sesuai dengan umur, situasi, corak hidup dan taraf perkembangan religius mereka (SC art. 19).

Hal yang perlu kita renungkan adalah bagian tanda tanya (?) dalam tema BKL. Apakah hal ini menjadi sebuah pertanyaan, Liturgi mengubah kehidupan umat? Atau ada hal lain yang perlu kita syukuri bahwa Liturgi memang sudah mengubah kehidupan umat beriman. Kita bisa memulainya dengan bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah melalui liturgi gereja hidupku sudah diubah? Jika sudah adakah hal yang patut aku syukuri ketika aku terlibat dalam kehidupan liturgi gereja?

Liturgi yang mengubah hidup tidaklah otomatis. Kita bisa merenungkan Sabda Tuhan tentang benih yang ditabur ke macam-macam jenis tanah (lih. Mrk 4:1-20). Sabda Tuhan itu akan tumbuh dan berkembang dan menghasilkan buahnya tergantung bagaimana kita menanggapinya. Demikian pula halnya dengan liturgi yang mengubah hidup bergantung dari masing-masing pribadi mau mendengarkan, merenungkan dan kemudian melaksanakan, atau tidak?

Kita perlu mengerti dahulu apa yang diajarkan Magisterium Gereja tentang liturgi. Liturgi merupakan puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja dan sumber kekuatan untuk kehidupan (SC art. 10). Dengan kata lain, semua kegiatan Gereja pada akhirnya mengarah pada perayaan liturgi dan dalam perayaan liturgi tersebut kita kemudian diutus untuk kembali ke kehidupan sehari-hari. Penghayatan perayaan liturgi pada akhirnya harus sampai pada perwujudan sikap dalam hidup sehari hari baik dalam keluarga maupun di tengah masyarakat. Perwujudan iman ini merupakan tugas dan tanggung jawabseluruh umat dan bukan hanya milik pribadi maupun kelompok tertentu. Mengapa? Karena beriman tidak hanya bersifat personal/perorangansaja tetapi juga komunal atau bersama. Sebagaimana perayaan iman dalam liturgi tidak pernah dilakukan sendiri tetapi bersama dengan umat yang lain maka, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin, suci-berdosa, semuanya harus terlibat aktif merayakan dan mempersiapkan liturgi. “Bunda Gereja sangat menginginkan, supaya semua orang beriman dibimbing ke arah keikutsertaan yang sepenuhnya, sadar dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi” (SC art. 14). Partisipasi atau keterlibatan seluruh umat untuk secara sadar dan aktif mengandung makna bahwa setiap umat mengerti dan memahami untuk apa hadir dalam perayaan liturgi. Setelah memiliki kesadaran dalam berliturgi harapannya setiap umat tidak hanya berhenti dalam tataran perasaan tenteram atau damai untuk dirinya sendiri karena mengalami perjumpaan dengan Tuhan tetapi dipanggil juga untuk membagikan kegembiraan perjumpaan tersebut dengan terlibat dalam perutusan Gereja, ite missa est, Pergilah kamu diutus. Dalam perayaan Ekaristi kita sudah disatukan dengan Tubuh Tuhan. Kini saatnya kita kembali ke hidup sehari-hari. Kita diutus untuk mewartakan kabar gembira kepada lingkungan hidup kita.

Bagaimana, agar dalam perayaan liturgi bisa berdaya guna dan berbuah dalam hidup kita? Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita perhatikan: 1). Kita perlu mempersiapkan hati kita dengan baik misalnya dengan datang lebih awal. Dengan datang lebih awal, kita memiliki waktu untuk hening untuk berdoa secara pribadi supaya dapat menghayati perayaan. 2). Para pelayan atau petugas liturgi perlu mempersiapkan diri dan tugas-tugasnya dengan baik. 3). Tata perayaan liturginya sendiri juga harus dipersiapkan. Jika ketiga hal tersebut dipersiapkan dengan baik, perayaan liturgi akan bermakna dan hidup sehari-hari umatpun akan dijiwai dan diberi kekuatan olehnya. Itulah daya guna perayaan liturgi Gereja yang membantu kita untuk berbuah dalam kehidupan. Buah-buah tersebut bisa dilihat antara lain dalam keterlibatan aktif di Gereja sebagai prodiakon, lektor, petugas koor, misdinar dan sebagainya, sehingga perayaan liturgi menjadi semakin hidup.Buah nyata lainnya adalah keterlibatan aktif di tengah masyarakat untuk membangun persaudaraan sejati, saling gotong royong dan membantu satu sama lain. Keterlibatan ini tidak hanya semata-mata merupakan bentuk keterlibatan sosial saja namun merupakan perwujudan iman dalam hidup harian.

Liturgi mengubah kehidupan? Pertanyaan ini kembali mengajak kita untuk merenungkan seberapa besar daya yang kita peroleh melalui perayaan-perayaan liturgi Gereja. Cara mengukur seberapa besar dayanya bagiku, kita bisa bertanya dengan jujur ke dalam hati kita apakah kita sudah mau terlibat dalam aneka kegiatan Gereja dan kemasyarakatan. Kita mungkin bisa menjawab, “Hidup saya sudah baik, ada damai dan ketenangan batin itu cukup.”. Mungkin memang cukup untuk kita sendiri atau keluarga kita, tetapi Tuhan memanggil kita untuk menjadi perpanjangaan atau meneruskan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus bagi dunia. Setiap orang yang terpanggil menjadi murid-muridNya diajak untuk tidak berhenti pada rasa kenyamanan diri bersama Tuhan.Akan tetapi, panggilan sebagai murid Tuhan juga menuntut kesiapsediaan kita diutus membagikan berkat, damai rasa tenteram itu bagi semakin banyak orang. Dari sinilah kita akan mampu melihat buah-buah iman kita jika semakin banyak orang menemukan sukacita dan kebahagiaan hidup yang sejati dalam hidupnya. Oleh karenanya untuk mencapai perubahan dalam hidup melalui liturgi Gereja, dibutuhkan ketekunan, pemahaman dan penghayatan terus menerus. Dalam rangka upaya inilah Gereja mengajar umatnya melalui bahan BKL supaya membantu iman umat menemukan kekuatan dan tugas perutusannya. Kita sadar perubahan ini tidak sekejab dan serta merta menjadikan kehidupan kita baru secara tiba-tiba. Bahan-bahan BKL seperti air yang menetes sedikit demi sedikit dan memberikan pencerahan bagi kita bagaimana kita dapat menghayati liturgi. Pelan-pelan hidup kita berubah. Perubahan dalam hidup kita pada akhirnya yang akan merubah kehidupan di sekitar kita. Maukah kita dibimbing dan dituntun dalam liturgi Gereja untuk berubah dan berbuah? Deo gratias. Berkah Dalem.

Laurentius Andika Bhayangkara, Pr

Related Posts

  • 76
    “PENGUATAN PANGAN BERBASIS KELUARGA” Dibacakan/diterangkan, Sabtu-Minggu, 15-16 Oktober 2016 Saudari-saudaraku yang terkasih Dua tahun terakhir ini, pembicaraan tentang keluarga menjadi salah satu pokok perhatian Gereja. Tahun 2014 dan 2015 diadakan sinode para uskup sedunia di Roma, membahas tentang keluarga. Sidang KWI November 2015 diawali dengan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) memberi perhatian tentang keluarga:…
    Tags: dan, yang, kita, gereja, untuk, dalam, dengan, hidup
  • 76
    Langkah 1: Mempersiapkan diri sebelumnya dan mengarahkan hati sewaktu mengikuti liturgi Untuk menghayati liturgi, kita harus sungguh mempersiapkan diri sebelum mengambil bagian di dalamnya. Contohnya ialah: membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci pada hari itu, hening di sepanjang jalan menuju ke gereja, datang lebih awal, berpuasa (1 jam sebelum menyambut Ekaristi dan terutama berpuasa sebelum…
    Tags: kita, yang, dan, liturgi, dengan, dalam
  • 74
    Saudari-saudara terkasih, Pada bulan Oktober yang akan datang, Sidang Umum Biasa ke-15 dari Sinode Para Uskup akan membahas tema kaum muda dan secara khusus hubungan antara kaum muda, iman, dan panggilan. Dalam sidang itu, kita akan memiliki kesempatan untuk merenungkan lebih mendalam, di pusat hidup kita, panggilan kepada sukacita yang Allah anugerahkan kepada kita dan…
    Tags: kita, dan, yang, untuk, dalam