Komunitas Real Dunia dan Komunitas Maya Dunia, itulah Gereja

kom

Demi ambil bagian dalam merenungkan tema Hari Minggu Komsos ke-53, Kami adalah sesama anggota: dari komunitas maya ke komunitas nyata, diturunkan artikel ini. Sebagian dari sisi penting keberadaan komunitas Gerejawi dipilih dan direnungkan lebih lanjut. Apa sajakah sisi penting itu? Mari kita lihat bersama.

Sebuah contoh
Kita memulai dari kejadian “nyata” yang berkisah perjumpaan seorang warga dengan sesamanya, dengan melewati kontak di “komunitas” maya kemudian berlanjut ke komunitas nyata. Berikut ini salah satu contoh dari banyak kejadian. Seseorang (sudah umum disebut Agan di med-sos), yang ketemu jodoh via internet.

“Cerita orang yang ketemu jodoh lewat jejaring sosial kayak FB, Twitter, CF dll itu gimana agan?? Dijawab, kebetulan ane dan temen ane dapet jodoh via jejaring sosial.. ane ketemu suami ane via fb.. ane di Bangka.. dia di Pekanbaru… temen ane malah lebih dahsyat gan.. dia dapet istri orang Thailand, sedangkan dia sendiri tinggal di Bandung, mereka ketemu di CF agan, sekarang malah punya anak satu.”

Selanjutnya ada komentar pembaca:
* : Jodoh itu memang ngggak mengenal tempat dan waktu ya gan… bahkan Dunia Maya sekalipun.. Kuasa Tuhan memang luar biasa
(kisah di atas bersumber: https://www.kaskus.co.id/thread/50fd336c542acf8954000008/ketemu-jodoh-via-jejaring-sosial/)

Kejadian tersebut (dan bersama dengan banyak pengalaman lain senada) agaknya layak menjadi titik berangkat permenungan kita lebih lanjut mengenai bagaimanakah komunitas hidup kita ini dikelola? Manakah pilar-pilar penyangga yang diperlukan agar komunitas semakin memfasilitasi warganya menggapai cita-cita hidup damai – sejahtera?

Dari dahulu ke sekarang
Sejak awal salah satu perhatian khusus Gereja memang kepada komunitas. Suatu komunitas baru yang dipilih atau dikehendaki. Tindakan Tuhan Yesus memilih para rasul kiranya dapat menjadi contohnya. Daripadanya, di hari kemudian, komunitas tersebut bukan saja komunitas yang hanya menaruh minat pada soal iman dan pengalaman batin mengenai Tuhan Yesus yang bangkit (lihat Kisah Rasul 2: 24; 3: 13-14) ; namun juga memberi perhatian pada kebutuhan jasmani para anggotanya.Lihat Kisah Rasul 2 : 45 dst..) Kebutuhan jasmani harian memang penting. Lebih dari itu, komunitas ini amat besar minatnya mengembangkan iman dan pengharapannya. Komunitas yang nyatanya serba ber-dualitas berkembang dan terus berkembang. Memiliki kenyataan dualitas, artinya: bersifat rohani dan jasmani; perlu tata sosial (dan bahkan organisasi) dan sekaligus tata rohani (dengan Tuhan Yesus K sebagai kepalanya;serta memiliki relasi dengan himpunan para kudus).

Dalam kesempatan ini, telaah kita dikhususkan pada sisi “sosial – jasmaniahnya” saja dari bentuk komunitas yang dimaksud. Itu pun diungkap secara sekilas serta ringkas, tidak bisa panjang lebar.Yang pertama, sebagaimana telah dialami dalam keluarga kita masing-masing, komunitas gerejawi ini menghidupi sisi organisatoris yang tegas, dan sekaligus menerima sisi spontanitas. Mengingat komunitas Gerejawi ini bersifat ilahi dan sekaligus insani, dalam arti bermaksud hadir di tengah suaka-duka dunia.

Mengenai aturan yang tegas di dunia maya, kiranya jelas. Contohnya, pemerintah dan penyelenggara jejaring sosial (Fb, WA dsb.) secara tegas dapat menutup (blokir) akun yang menebarkan kebencian, sikap intoleran dan sebagainya. Sebaliknya aneka ekspresi warga yang serba spontan yang mampu mengembangkan nilai persaudaraan, mengedepankan empati (terlebih ketika ada bencana), mendorong para warga memperkuat sikap solider terhadap sesama, bahkan yang lucu dan mnghibur; semua itu boleh dimunculkan dan mendapat tanggapan yang positif pula dari semua pihak yang dapat menonton atau melihat.

Yang kedua, pilar yang harus ditegakkan adalah, komunitas yang inklusif, terbuka pada aneka hal baru (dan baik). Hal ini menjadi amat penting sebab komunitas yang tercipta terbuka menerima masuknya anggota dari aneka macam budaya, sosial, serta kepentingan. Persis dalam hal ini internet (baca komunitas maya) bukan saja menawarkan banyak hal baru. Jauh lebih dahsyat lagi. Internet membuka pintu lebar sehingga masuklah banjir perubahan. Maka hati yang inklusif diandaikan dihayati oleh setiap penggunanya.

Yang ketiga, komunitas ini, anggotanya dipilihkan, atau aku tinggal menerimanya. Jadi dalam hal ini aku tidak memilih siapa orang-orang yang berada dalam se-komunitas Gerejawi dengan aku. Tetapi ada pihak yang sudah menetapkan atau mengaturkan. Lebih jelanya bukan seperti pasangan suami-istri yang memilih serta merancang sendiri siapa pasanganku dan bagaimana bentuk komunitas yang kuinginkan. Lainlah dengan komunitas Gereja yang kita hidupi, di dalamnya selalu seseorang masuk komunitas yang sudah tercipta.

Yang keempat, komunitas ini bermaksud merangkul / memberi perhatian lebih kepada yang KLMTD. Pilar keempat ini mempunyai dasar sabda Tuhan Yesus dalam Kitab Suci (dan ini sudah tidak asing bagi kita), lihat Mat. 25: 31-46). Gereja sejak zaman para rasul pun bermaksud mempraktekkannya, lihat Kis. 6. Kendati nilai hidup demikian ini bukan Gereja sebagai satu-satunya yang mempraktekkan, namun kerap kali nilai ini menjadi penanda penting akan komitmen komunitas gerejawi.

Yang kelima, secara nyata komunitas sebagai himpunan maupun setiap anggotanya, mempunyai waktu untuk berdoa. Yang ditentukan di sini adalah soal adanya waktu berkontak dengan Dia yang menjadi kepala dan pemilik komunitas. Jadi ada tindakan lahir dan ditangkap oleh mata, bahwa warga Gereja berdoa kepada Tuhannya. Bahkan pada saatnya harus dikatakan bahwa pilar kelima ini menjadi sumber kekuatan Gereja untuk menjalankan tugasnya serta mengembangkan keberadaannya.

Kedepan?
Itulah pilar-pilar penting yang mesti terus kita hidupi, persis di saat komunitas maya dengan media sosialnya, semakin semarak dan memberikan peluang bagisemuapihakuntukmenggapai kesejahteraan hidup bersama.Dari kita semua pengguna internet diandaikan masih terus dan terus belajar. Sebab bagi semua pihak internet adalah selalu merupakan hal baru dan terus saja menawarkan perubahan.

Sragen, 21 Mei 2019
M. Sapta Margana, Pr

Related Posts

  • 83
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 76
    Selamat Tahun Baru 2019, saudara-saudari pembaca LENTERA yang budiman. Semoga tahun, ini adalah tahun yang penuh dengan berkah sehingga kita bisa memberikan segala kemampuan kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan lewat panggilan hidup bakti kita. Tahun 2019 adalah tahun politik, sudah saudara-saudari ketahui bahwa tahun ini akan ada suksesi pemerintahan secara serentak. Dalam suksesi pemerintahan…
    Tags: yang, kita, dan, di
  • 76
    “JANGAN TAKUT, AKU BESERTAMU: KOMUNIKASIKAN HARAPAN DAN IMAN” Akses yang mudah dan terbuka pada media komunikasi—berkat kemajuan teknologi—memungkinkan banyak orang berbagi berita secara langsung dan menyebarkannya secara luas.Berita yang disebarkan ini bisa baik atau buruk, benar atau salah (hoax). Umat Kristen awal membandingkan pikiran manusia seperti mesin penggiling; terserah si pekerja mau menggiling apa: entah…
    Tags: yang, dan, kita, ini