Proses Jadi Pemimpin

Triduum Komuni I (6)

Dalam suatu pertemuan remaja yang dilaksanakan di bawah pohon mangga yang rindang, seorang pendamping, membuka pertemuan dengan mengungkapkan sepatah dua patah kata. Ketika pendamping tersebut sedang berbicara, tidak ada yang memperhatikan pendamping tersebut. Ada anak ramai berbicara dengan temannya. Ada yang bermain lempar-lemparan kerikil, ada yang bermain dengan alat komunikasinya secara sembunyi-sembunyi dengan menutupi telpon selularnya dengan tas, dan masih banyak aktivitas lainnya. Suasana riuh rendah seperti di pasar tersebut sekejap berubah menjadi sangat hening ketika pendamping tersebut melontarkan suatu pertanyaan. Situasi saat ini sangat kontras dengan keadaan di awal. Pertanyaan apa yang membuat suasana menjadi sangat hening? Pertanyaan cukup sederhana,”Siapa yang mau memimpin doa pembuka?” Semua anak tertunduk. Tidak ada yang berani menatap pendamping yang menanyai mereka. Keadaan tersebut berlangsung cukup lama. Hingga kegiatan rapat itu selesai tidak ada seorangpun yang memimpin doa, kecuali pendampingnya.

Untunglah hal di atas hanyalah ilustrasi semata saja. Namun, keadaan itu terjadi bisa saja terjadi terutama dalam paguyuban remaja, dan kaum muda. Apa yang terjadi? Mengapa hanya perkara memimpin doa saja tidak ada yang berani? Mungkin, sedang ada suatu kondisi krisis jiwa kepemimpinan.

Jiwa kepemimpinan atau sering disebut dengan leadership merupakan suatu elemen yang penting dalam tumbuh kembang anak. Dalam kepemimpinan itu sendiri, ada unsur fokus untuk mencapai tujuan tertentu, apakah itu jangka panjang maupun jangka pendek. Untuk mencapai tujuan tertentu, seorang pemimpin juga harus punya tujuan. Untuk itu pemimpin juga harus dapat memimpin dirinya sendiri. Ketika seorang dapat memimpin dirinya sendiri, sudah dapat dipastikan orang tersebut punya tujuan dan tidak ikut arus jaman.

Mari kita fokus pasa sisi memimpin diri sendiri. Sadar atau tidak sadar kita kehidupan ini dipenuhi dengan pelbagai macam tawaran. Dari segala tawaran-tawaran itu terkadang secara tidak sadar kita digiring pada suatu pilihan yang sebenarnya merupakan hal yang tidak kita butuhkan. Misalnya, kita sebenarnya tidak membutuhkan wajan yang baru namun karena pengaruh terpaan media, terutama iklan di televisi, kita akhirnya secara tidak sadar membeli wajan baru padahal masak pun tidak pernah.

Nah di sinilah, letak poin menemukan kembali tujuan hidup menjadi sangat penting. Kalau kita fokus pada tujuannya, godaan apapun yang menghalangi tujuan akan dilawan. Seseorang yang punya tujuan hidup tidak akan mensia-siakan sumber daya yang dimilikinya untuk hal-hal yang tidak berguna.

Memimpin diri sendiri itu membutuhkan proses yang panjang. Perlu adanya suatu pembelajaran sedari kecil. Tidak ada yang instan untuk menjadi pemimpin. Suatu tindakan yang sederhana misalnya dapat membuat anak mempunyai rasa untuk memimpin dirinya sendiri yaitu makan sendiri sedari kecil. Kebiasaan ini akan mendorong anak memiliki kemandirian sedari dini. Setelah anak mandiri dengan makan sendiri, tanggung jawab ditingkatkan dengan melakukan kewajiban-kewajiban kecil seperti mencuci baju, melakukan pekerjaan rumah: menyapu, mengepel. Selanjutnya anak diberi tanggung jawab yang lebih berat tergantung umur dan jenjang pendidikan.

Dalam paguyuban jiwa kepemimpinan akan memberikan warna yaitu bagaimana tiap-tiap pribadi memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, dan yang paling penting punya inisiatif. Inisiatif ini menjadi sangat langka pada saat ini karena mungkin dunia pendidikan kita membuat anak menjadi hanya ikut petunjuk praktis yang diberikan pimpinan atau ketua, atau yang lebih tua.
Pendampingan-pendampingan anak, remaja, orang muda alangkah baiknya mulai mendorong anak untuk mempunyai jiwa kepemimpinan. Rancangan program kerja yang dibuat bukan hanya dibuat hanya meneruskan program tahun sebelumnya melainkan harus dapat menjawab keprihatinan-keprihatinan yang ada, tentunya berdasarkan hasil analisis data.

Misalnya ada keprihatinan bahwa anak-anak jarang membaca kitab suci. Keprihatinan ini harus dianalisis apa yang membuatnya demikian. Anak tidak tertarik kitab suci karena isinya hanya tulisan. Kalau penyebabnya demikian anak dikenalkan bahwa di kitab suci banyak kisah-kisah menarik dan heroik jika dibandingkan dengan cerita-cerita kartun dan komik, atau superhero. Misalnya kisah Musa memimpin bangsa Israel melewati Laut Merah, Daud melawan Goliat.

Setelahnya anak akrab, kemudian pendamping membuat suatu program lomba mendongeng anak berdasarkan kisah Alkitab. Dengan demikian, anak dapat diasah jiwa kepemimpinannya dengan berani bicara di depan umum. Di lain sisi orang tua yang menjadi mentor anaknya akan menjadi lebih akrab dengan anaknya. Menang kalah tidak menjadi soal, yang terpenting proses belajar tersebut dapat mengembangkan orang tua dan anak. Ini hanya sekedar ilustrasi saja. Demikian usulan singkat kami semoga menjadi inspirasi.
Litbang Dewan Paroki Sragen

Related Posts

  • 64
    Baru-baru ini di media masa ada seorang musisi yang dijebloskan ke dalam penjara karena terbukti menyebarkan ujaran kebencian. Apakah yang dilakukan musisi itu adalah sebuah 'nyinyiran' yang keterlaluan sehingga menimbulkan rasa benci kepada orang lain. Sebelum kita membahasnya lebih lanjut, mari kita telusuri apakah arti kata nyinyir itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nyinyir…
    Tags: yang, di, tidak, menjadi
  • 59
    Acara yang sedianya dimulai pukul 18.00 wib, mundur satu jam karena turun hujan yang sangat lebat, sampai tenda yang dibuat panitia harus dibongkar lagi karena tidak mampu menahan curah hujan yang deras sekali. Beralaskan tikar dan beratapkan langit, akhirnya jadi juga acara ini digelar dihalaman gereja, setelah hujan reda. Dengan iringan orgen dan nyanyian ”Engkau…
    Tags: yang, anak, dengan
  • 56
    Ngrawoh (LENTERA) - Kamis (27/7), malam Jumat Wage, umat Paroki Sragen mengadakan Novena di Taman Doa Santa Perawan Maria Fatima Ngrawoh. Novena kelima, putaran VII, tersebut mengangkat tema renungan “Menabur Benih-benih Peradaban Kasih di Tengah-tengah Dunia”. Wilayah Tanon menjadi Petugas Liturgi dan paduan suara dalam Perayaan Ekaristi yang dimulai pada pukul 18.00. Romo Fransiskus Xaverius…
    Tags: yang, tidak, di, menjadi, ada, dengan