Pendidikan yang berwawasan Multikultural

Multikultural

Berbicara tentang pendidikan khususnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tentu tidak bisa lepas dari peraturan perundangan tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Sementara Wawasan adalah cara pandang.

Pengertian Pendidikan Multikultural.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Multikultural berarti beranekaragam kebudayaan. Sedangkang multikulturalisme secara sederhana dapat diartikan sebagai pengakuan atas pluralisme budaya. Akar dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Dalam konteks pembangunan bangsa, istilah multikultural ini telah membentuk suatu ideologi (paham) yang disebut multikulturalisme.

Multikulturalisme adalah berbagai pengalaman yang membentuk persepsi umum terhadap usia, gender, agama, status sosial ekonomi, jenis identitas budaya, bahasa, ras, dan berkebutuhan khusus.

Dilihat dari kedua pengertian diatas, pendidikan multikultural adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian didalam dan diluar sekolah yang mempelajari tentang berbagai macam status sosial, ras, suku, agama agar tercipta kepribadian yang cerdas dalam menghadapi masalah-masalah keberagaman budaya.

Dengan demikian bahwa pendidikan yang berwawasan multikultural bukan hanya diperuntukkan bagi siswa dan guru di sekolah, mahasiswa dan dosen di kampus. Tetapi untuk kita semua, seluruh warga negara kesatuan republik Indonesia. Siapapun yang secara sadar mengupayakan, mengembangkan kepribadian baik di sekolah maupun di luar sekolah / masyarakat mempelajari tentang berbagai macam hal sehingga tercipta kepribadian yang cerdas dalam menghadapi masalah – masalah keberagaman budaya, itulah pelaku pendidikan yang berwawasan multikultural. Sudahkah kita ikut berperan, atau sudahkah kita ikut ambil bagian..??

Pendidikan yang berwawasan multikultural sejalan dengan ajaran Gereja tentang Inkarnasi dan Inkulturasi. Inkarnasi pengajaran termurninya tercantum dalam Yohanes 1:14: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.”

Inkulturasi sesuai arti katanya berarti in, “masuk ke dalam” dan cultural, “budaya”. Bagi Gereja Katolik, inkarnasi berarti Allah menyapa dan membangun relasi dengan manusia. Supaya sapaan Allah ini bermakna bagi manusia, Allah menggunakan bahasa manusia dan manusia menjawabnya dengan bahasa dan kebudayaannya. Dengan demikian, inkulturasi itu terjadi ketika orang-orang dalam lingkup bahasa dan kebudayaan tertentu menerima sapaan Allah melalui bahasa dan kebudayaan yang dihayati oleh mereka. Proses inkulturasi ini hanya terjadi bila ada kedewasaan iman dan ada pula penyortiran atas unsur-unsur budaya lokal. Tidak semua unsur-unsur budaya sejalan dengan iman dan ajaran kristiani. Karena itu, hanya unsur-unsur yang sejalan saja yang kemudian dipraktekkan. Dalam arti inilah iman dihayati dalam kebudayaan tertentu dan senantiasa mendapat bentuk yang baru. Bagi Gereja Katolik, kebudayaan dalam zaman tertentu adalah lahan dimana Tuhan telah mempersiapkan orang-orang setempat bagi penerimaan akan Yesus Kristus. Di sini berlaku prinsip teologi gratia supponit naturami yang artinya rahmat Allah bekerja melalui bakat-bakat dan proses alamiah yang tersedia dalam diri setiap orang dan di dalam setiap kebudayaan. Dengan demikian kebudayaan adalah juga buah karya Allah yang melaluinya, orang dimampukan untuk menerima Kristus dan menghayati amanat Injil. Ibaratnya, kebudayaan terkadang seperti Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan orang menyambut Kristus.

Amin..!! (semoga demikian) Berkah Dalem.

Oleh: Petrus Widodo

Related Posts

  • 75
    PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI HARI MINGGU DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-46 3 Mei 2009 PANGGILAN : INISIATIF ALLAH DAN JAWABAN MANUSIA Saudara-saudariku terkasih, Bertepatan dengan Hari Doa untuk Panggilan Sedunia yang akan berlangsung pada Hari Minggu ke-4 Masa Paska, tanggal 3 Mei 2009, izinkanlah saya mengajak seluruh umat kristiani untuk merenungkan tema: Panggilan, Inisiatif Allah dan…
    Tags: yang, dan, dalam, allah, manusia, dengan
  • 74
    Berbicara tentang mengasuh dan mengasihi bisa dikaitkan dengan banyak hal, salah satunya dengan adanya kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga di mana keluarga melakukan aksi nyata untuk memberikan bentuk-bentuk pendidikan bagi anak mereka. Pendidikan tersebut berawal dari keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama, selanjutnya pendidikan formal di dalam lembaga pendidikan seperti sekolah formal, dan…
    Tags: yang, di, pendidikan, dan, dalam, dengan
  • 72
    Dalam sejarah peradaban manusia, pendidikan merupakan salah satu bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan keberlangsungan eksistensi mereka (Francis Wahono, 2001: iii). Oleh karena itu pendidikan dan budaya tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan masyarakat dan manusia. Manusia, masyarakat dan pendidikan pada hakikatnya memiliki hubungan fungsional yang cukup berarti. Manusia dan masyarakat akan berarti apabila…
    Tags: dan, yang, pendidikan, manusia, dengan, dalam