Pendidikan Itu Berwawasan Multi Kultural, Itu Sajakah?

Multikultural

Masuk bulan Juli 2019 ini, salah satu perbincangan menarik di masyarakat adalah PPDB. Singkatnya, setelah ada kelulusan, anak harus mencari tempat pendidikan baru, jenjang yang lebih tinggi; sedangkan yang lain berlibur dan berkreasi membuat hari-harinya segar lagi (refreshing). Itu tentu baik.

Kondisi konkret
Bersamaan dengan hal itu, sebagian warga masyarakat yang anaknya harus menaikkan tingkat pendidikannya, sibuk dengan mencari sekolah baru. Hal ini makin ramai dan menjadi berita hangat dengan isu: zonasi. Sementara itu pula ada berita berhembus yang bernada miring; mengesankan di daerah tertentu pendidikan dikemas menjadi sebentuk sekolah eksklusif atau intoleran. Hanya saja, karena banyak yang berkomentar kontra, pihak terkait membuat koreksi. Sekedar contoh, lihat saja misalnya dalam artikel berikut: https://regional(dot)kompas(dot)com /read/2019/06/26/12275511/ meneteskan-air-mata-kepala-sekolah-cabut-surat-edaran-siswa-wajib-berbusana
Sementara peristiwa-peristiwa itu bergulir, masyarakat digiring untuk berbenah dan terus berubah, baiklah tulisan singkat ini disajikan dalam majalah kita di terbitan kali ini. Semoga tetap memberi tawaran gagasan bahwa pendidikan tetap harus berjalan di rel-nya.

Cita-cita bagi dunia pendidikan
Catatan para pendahulu kita, sebagai bentuk cita-cita bagi dunia pendidikan, dapat ditemukan antara lain dalam pembukaan UUD ’45 dan seruan para uskup atau bapa konsili, dalam Konsili Vatikan II. Yang pertama, pembukaan UUD. Dikatakan di sana bahwa, “ . . . Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.” Kata yang bergaris bawah perlu mendapat perhatian secara khusus. Dua hal disebut sekaligus, dan itu merupakan hal pokok dalam hidup bersama di tengah masyarakat: soal kesejahteraan umum dan hidup bangsa yang cerdas. Dalam hal ini pemerintah (dan tentu saja bersama pihak-pihak terkait) diamanatkan untuk membawa hidup bersama para warga mengarah kepada kesejahteraan dan hidup bangsa yang cerdas. Persis dua hal ini memang menjadi perhatian dunia pendidikan. Atau dengan perkataan lain kendaraan yang mesti dipakai menuju bentuk hidup seperti itu adalah pendidikan. Bahkan harus dikatakan bahwa pendidikan adalah prasyarat demi tercapainya kesejahteraan umum serta upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Bilamana dalam bagian ini isu multikultural harus diartikulasikan dengan lebih jelas, maka dapat dikatakan bahwa upaya mewujudkan kesejateraan umum mengandaikan semua warga beserta latar belakang budaya atau kultur mereka masing-masing harus menjadi sasaran terciptanya kesejahteraan itu atau yang menikmatinya, selanjutnya semua warga yang multikultural semestinya juga berperan di dalamnya. Tidak boleh ada yang hanya menjadi penonton. Demikian pula bagian upaya mencerdaskan kehidupan bangsa; ungkapan kehidupan bangsa yang dimaksud tentu bangsa Indonesia yang sejak dahulu adalah multikultural.
Berikutnya adalah pemikiran para bapa konsili. Dalam Gravissimum Educationis (Pernyataan bapa konsil mengenai pendidikan kristiani; selanjutnya disingkat “GE”), dikatakan bahwa . . Semua orang dari suku, kondisi atau usia manapun juga, berdasarkan martabat mereka selaku pribadi mempunyai hak yang tak dapat diganggu gugat atas pendidikan.” (GE no.2). Nampaklah secara benderang bahwa pendidikan ideal yang ditawarkan adalah bentuk yang memang terbuka atau inklusif terhadap aneka hal yang ada di masyarakat, juga terhadap beragamnya budaya. Lebih lanjut mengenai tujuan pendidikan diungkapkan: . . . Tujuan pendidikan dalam arti sesungguhnya ialah: mencapai pembinaan pribadi manusia dalam perspektif tujuan terakhirnya demi kesejahteraan. (GE. 2). Dengan demikian, melalui perumusan prinsip-prinsip yang diltakkan dan tujuan yang hendak dicapai, makin ketaralah bahwa tema pendidikan dalam masyarakat yang multikultural adalah sebuah keniscayaan hidup kita.

Penjabaran lanjut
Persis berkenaan dengan prinsip-prinsip yang diletakkan mengenai pendidikan, dan selanjutnya demi mencapai tujuannya, maka dari pihak kita sekarang, para insan pendidikan serta semua pihak yang terkait di dalamnya, mestilah bekerjasama demi:
1. Memastikan bahwa pendidikan yang dikelola/diselenggarakan terus berupaya berjalan di rel-nya.
2. Secara serius memanfaatkan aneka perubahan dan kemajuan zaman, sebagai unsur yang turut menyumbang bagi sarana-prasarana pendidikan, menjadi fasilitator memajukan dunia pendidikan. Bagi zaman kita, kemajuan dunia digital atau IT, adalah tema atau wilayah yang harus diperlajari secara lebih sungguh.
3. Pendidikan yang semakin toleran terhadap kondisi lingkungan; lebih dari itu, insan pendidikan bukan saja toleran, namun lebih dari itu, yakni BEREMPATI terhadap lingkungan, bahwa kepentingan sesama menjadi perhatianku, sedemikian rupa sehingga hal itu turut menyumbang bagi kesejahteraan umum.
4. Menjadikan masa pendidikan sebagai masa formasi, agar seseorang terampil dalam srawung dengan sesamanya; mampu menempatkan sesama sebagai fokus demi hidup bersaudara. Lebih tegasnya, bilamana yang terjadi adalah sebaliknya, yakni di dunia pendidikan itu yang disusupkan adalah kekerasan, intoleran, serta kebencian kepada sesamanya, maka sesungguhnya langkah tersebut sudah mencederai inti dan hakekat pendidikan itu sendiri.

Sekali lagi, demi mewujudkan pokok-pokok pikiran itu, semua insan pendidikan diandaikan terbuka untuk bekerjasama.

Sragen,
Hari Raya Hati Maha Kudus Tuhan Yesus 2019

M Sapta Margana

Related Posts

  • 75
    Berbicara tentang mengasuh dan mengasihi bisa dikaitkan dengan banyak hal, salah satunya dengan adanya kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga di mana keluarga melakukan aksi nyata untuk memberikan bentuk-bentuk pendidikan bagi anak mereka. Pendidikan tersebut berawal dari keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama, selanjutnya pendidikan formal di dalam lembaga pendidikan seperti sekolah formal, dan…
    Tags: yang, di, pendidikan, dan, dalam
  • 72
      Diterangkan/dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 28 – 29 April 2018 Saudari-saudara, Ibu-Bapak dan anak-anakku yang terkasih dalam Kristus, Berkah Dalem. Semoga berkat dan kasih karunia Tuhan senantiasa menyertai kita. Setiap tanggal 2 Mei bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tanggal tersebut dipilih bertepatan dengan peristiwa lahirnya Ki Hajar Dewantara yang dijadikan Bapak Pendidikan Nasional. Beliau…
    Tags: dan, pendidikan, yang, dalam, di
  • 67
    “Satu hati bagi bangsa mewujudkan Peradaban Kasih di Indonesia” Dibacakan/diterangkan pada Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga; Sabtu-Minggu, 13 - 14 Agustus 2016   Saudara-saudariku umat Katolik Keuskupan Agung Semarang, Para Pejuang Senior, Veteran, dan sahabat-sahabat muda yang penuh semangat: SALAM BAHAGIA, karena kasih dan kemerdekaan yang Tuhan berikan bagi kita. SALAM PERJUANGAN…
    Tags: dan, yang, dalam