Mari Ikut Membangun

hut 74 republik indonesia

Menuju Indonesia Unggul adalah tema Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74. Tema ini diangkat dari pidato Presiden Joko Widodo tentang prioritas pembangunan bangsa Indonesia adalah pembangunan sumber daya manusia. Pembangunan SDM dilakukan setelah serangkaian pembangunan infrasruktur yang dilakukan sebelumnya. Pembangunan kualitas SDM diwujudkan dengan pendidikan yang berfokus untuk siap menghadapi revolusi industry 4.0. Selain dalam pendidikan, hal kesehatan juga merupakan prioritas pembangunan yang mendukung peningkatan kualitas SDM. Negara ingin meningkatkan kesehatan warganya semenjak dari kandungan, masa pertumbuhan, hinggal masa tua.

Gereja Katolik di Keuskupan Agung Semarang memiliki fokus pastoral untuk mengusahakan kesejahteraan di dalam masyarakat multikultural. Sejahtera dalam hal ini adalah sejahtera dalam hal sandang, papan, pendidikan, kesehatan, hidup sosial. Masyarakat dikatakan sejahtera ketika kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut tercukupi.

Apakah kedua fokus pembangunan – Negara Republik Indonesia dengan Gereja, khususnya Keuskupan Agung Semarang – bertolak belakang? Tentunya tidak, kedua fokus pembangunan ini saling mendukung satu dengan yang lain. Pembangunan bangsa tidak akan berjalan dengan baik ketika warganya masih kekurangan kebutuhan dasar: sandang, pangan, papan, kesehatan. Kalau demikian, jika kita ikut serta dalam pemenuhan kebutuhan dasar warga di sekitar kita, baik dalam upaya karitatif, maupun pemberdayaan masyarakat, kita juga ikut serta mensukseskan pembangunan bangsa, terutama pembangunan sumber daya manusia.

Pembangunan itu tidak dapat berdiri sendiri. Pembangunan juga bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, kita warga Negara Indonesia juga harus punya andil dalam pembangunan negara. Kalau negara kita maju, unggul dalam segala bidang, siapakah yang diuntungkan? Siapa lagi kalau bukan kita.

Butuh semangat yang sama untuk membangun Negara Indonesia. Kita butuh kesatuan dan persatuan untuk membangun Negara tercinta ini. Kita juga bersyukur bahwa persatuan dan kesatuan dapat terjalin lagi setelah kurang lebih enam bulan negara terbagi menjadi kubu-kubu yang saling bersaing merebutkan suata dalam pemilu. Kita bersyukur

Kita dapat memberikan apa yang kita punyai untuk membangun negara kita. Walaupun apa yang kita berikan itu kecil. Walaupun apa yang kita berikan sangat sederhana, akan tetapi kalau itu merupakan gerakan bersama, gerakan itu akan menjadi sesuatu yang besar. Bisa kita bayangkan jika kita mengumpulkan satu demi satu jimpit ­beras dari rumah ke rumah di dalam satu RT, niscaya beras yang terkumpul tersebut sudah cukup untuk memberi makan satu keluarga yang sangat-sangat kekurangan.

Spiritualitas persembahan janda miskin itulah yang menjadi semangat kita dalam membangun. Dalam Injil Lukas Yesus memuji seorang janda yang miskin yang memberi persembahannya dengan setulus hati: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya” (Luk21:3-4). Jadi memberi tidak harus menunggu saat memiliki harta yang melimpah. Apa yang kita punya dapat kita persembahkan. Kisah janda miskin memberikan keteladanan bahwa setiap orang mepunyai andil dalam pembangunan, walaupun apa yang dimilikinya mungkin sangat kecil jika dibandingkan dengan orang lain.

Seperti contoh jimpitan beras di atas bisa menjadi model pemberian kita. Yang mempunyai lebih bisa memberikan satu-dua jimpitan, kalau yang sedang kekurangan bisa hanya satu jimpitan. Kalau tidak memiliki materi (harta benda) kita dapat menyumbangkan waktu dan tenaga. Apa yang kita lakukan dengan setulus hati akan memberikan suatu hal yang berarti bagi masyakat di sekitar kita.***

 

Redaksi LENTERA

Related Posts

  • 65
    Langkah 1: Mempersiapkan diri sebelumnya dan mengarahkan hati sewaktu mengikuti liturgi Untuk menghayati liturgi, kita harus sungguh mempersiapkan diri sebelum mengambil bagian di dalamnya. Contohnya ialah: membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci pada hari itu, hening di sepanjang jalan menuju ke gereja, datang lebih awal, berpuasa (1 jam sebelum menyambut Ekaristi dan terutama berpuasa sebelum…
    Tags: kita, yang, di, dengan, dalam
  • 65
    ‘Pertobatan’ mungkin merupakan salah satu aspek kehidupan orang Kristiani yang paling gencar dipromosikan, tetapi paling sedikit dipraktekkan. Ada banyak faktor yang menjadi penyebap mengapa orang tidak rutin untuk ‘bertobat’. Ada faktor kemalasan. Ada yang beralasan terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Ada juga yang bahkan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang harus dilakukan. Sangat disayangkan, karena pada…
    Tags: kita, yang, untuk, dalam, dengan
  • 63
    “MAKIN TERGERAK UNTUK BERBAGI BERKAT” Para Ibu, Bapak, Orang Muda, Remaja, dan Anak-anak; para Romo, Bruder, Frater, dan Suster yang terkasih dalam Kritus, Pada hari Rabu Abu, 6 Maret 2019, kita akan memulai masa Prapaskah yang akan berlangsung selama 40 hari (Latin: quadragesima) sampai dengan tanggal 19 April 2019. Masa Prapaska ini dimaksudkan untuk mempersiapkan…
    Tags: yang, dalam, kita, ini, dengan, untuk