Sejarah Bulir – Bulir Doa Rosario

Woman holding Holy Bible open with rosary and crucifix in hand.

Satu yang unik dalam Gereja Katolik adalah kekayaan iman berupa devosi melalui Doa Rosario. Devosi ini menjadi usaha Gereja untuk mengajak umat meneladan iman Bunda Maria. Gereja bahkan menetapkan bulan Mei dan Oktober sebagai Bulan Maria. Asal usul doa rosario tidak dapat ditentukan secara jelas secara histories, karena terbentuknya setahap demi setahap. Digunakannya ‘butir-butir’ sebagai alat bantu doa juga merupakan tradisi sejak jaman Gereja awal, atau bahkan sebelumnya. Pada abad pertengahan, butir-butir ini dipakai untuk menghitung doa Bapa Kami dan Salam Maria di biara-biara.

Sudah sejak awal Kristianitas ada tradisi doa dengan bulir-bulir, entah dengan batu ataupun gumpalan tali. Hal ini membantu pendoa mengingat doa-doa yang didaraskannya, hitungan dan urutannya. Mulanya doa-doa yang didaraskan lebih sering Doa Bapa Kami yang diulang-ulang. Pengulangan merupakan suatu proses pembatinan, peresapan makna akan kata-kata yang diucapkan. Bukan banyaknya kata, tetapi mencecapnya secara mendalam

Struktur doa rosario berkembang antara abad 12 dan 15. Pada waktu itu, 50 doa Salam Maria dihubungkan dengan ayat-ayat Mazmur, untuk memperingati kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Pada saat inilah doa ini dikenal sebagai “rosarium”/ rose garden. Pada abad ke 16, terbentuklah doa rosario yang terbagi menjadi 5 dekade dalam 3 misteri gembira, sedih dan mulia.

Dalam tradisi tersebut jumlah bulir-bulir yang dipakai ada 150, mengikuti tradisi kerahiban yang mendaraskan 150 Mazmur. Mazmur sudah sejak awal dikenal sebagai doa Gereja, sehingga Kitab Mazmur menjadi buku doa. Bagi mereka yang tidak berpendidikan, digulirkan doa-doa Bapa Kami, pertama-tama, dan kemudian Salam Maria sebanyak 150 kali dalam keikutsertaan dalam doa pendarasan 150 Mazmur.

Seiring waktu, 150 bulir doa itu dibagi menjadi tiga, masing-masing 50 Mazmur yang berarti 50 kali Bapa Kami atau Salam Maria. Perkembangan setelah itu, Salam Maria yang lebih didaraskan, mengingat kenyataannya figur Maria lebih dekat dan disayang umat sederhana. Devosi Maria, sebagai devosi populer umat, perlahan berkembang seiring dengan itu. Dikatakan Rosario, sebab dalam doa-doa beruntai secara berulang itu bagaikan untaian bunga mawar. Mulanya rangkaian doa tersebut membantu umat mengenal misteri hidup Yesus bersama Maria. Ini kemudian berkembang menelusuri misteri hidup Yesus yang lain. Kini kita mengenal empat peristiwa doa Rosario: Gembira, Terang, Duka, dan Mulia. Rosario adalah doa yang berpusat pada Kristus. Untaian doa Salam Maria membantu kita masuk ke dalam misteri hidup Yesus.

Dalam berbagai kisah, Santo Dominikus (abad ke-13), pendiri Ordo Pewarta (OP), dikenal sebagai Rasul Rosario. Memang bukan Santo Dominikus yang menemukan doa Rosario, karena doa itu sudah lama ada. Peran Santo Dominikus cukup besar dalam memperkenalkannya kepada umat. Ia sendiri adalah saksi hidup yang mendoakan doa rosario tersebut. Ia mendapatkan penampakan dari Maria yang memberinya pesan untuk menyebarkan dan mengembangkan doa Rosario sebagai doa yang berguna dalam menghadapi serangan kesesatan. Tujuan utama pendarasan doa rosario adalah untuk merenungkan misteri kehidupan Kristus. Namun doa tersebut dalam bentuknya seperti sekarang merupakan hasil pertumbuhan devosi yang terjadi beratus tahun setelah kematian Santo Dominikus.

Di sini kita tentu perlu mengingat akan apa yang dikatakan Santo Yohanes Paulus II tahun 2002; dengan mendoakan Rosario, kita menapaki inti dasar Injil yang menyingkapkan misteri hidup Yesus dan karya penyelamatan-Nya. Rosario bukanlah soal hitungan angka 50 atau 150, dalam kaitan dengan hitungan 150 Mazmur. Namun doa yang mengajak kita merenungkan misteri hidup Yesus. Kita berguru pada sekolah Maria: belajar menatap kemuliaan wajah Kristus dan mengalami kedalaman kasih-Nya. Doa sederhana itu bagi Santo Yohanes Paulus II adalah doa yang mendalam dan berdaya guna bagi kehidupan.

Setelah itu kita mengenal berbagai penampakan Bunda Maria seperti di Fatima (1917), Maria mendorong devosi kepadanya dengan doa Rosario. Nama yang disebut Paus Yohanes Paulus II tentang Rosario adalah Santo Louis Marie Grignon de Monfort.

Peristiwa penting yang menyertai sejarah dan tradisi ini adalah kemenangan di Leponto, kawasan Siprus sekarang, dari serangan pasukan Ottoman pada tahun 1571. Ketika itu, Paus Pius V menggerakkan seluruh umat berdoa Rosario, memohon kemenangan dalam pertempuran itu. Pada 7 Oktober 1571, Leponto dikuasai. Dari sinilah kita mengenal peringatan Maria, Ratu Rosario tanggal 7 Oktober.

Disarikan dari katolisitas.org & hidupkatolik.com

Related Posts

  • 76
    Oleh : Romo Yohanes Ari Purnomo, Pr - Pada kesempatan dan tempat tertentu, kita sering menjumpai umat yang berdoa Rosario. Secara khusus pada bulan Mei dan Oktober serta di tempat-tempat ziarah Gua Maria, kita sering menjumpai umat yang berdoa rosario, entah secara berkelompok atau pribadi. Bahkan di gereja-gereja, menjelang Misa atau selepas Misa, ada saja…
    Tags: doa, yang, rosario, dan, dalam, maria
  • 72
    Ngrawoh, LENTERA -  Kamis malam, (7/2) hari itu merupakan malam pertama novena Gua Maria Fatima Ngrawoh putaran kedua. Entah berkah apa yang dicurahkan pada malam itu. Setelah sekian hari tidak ada hujan…hari itu, sejak sore hujan deras mengguyur. Saking derasnya, banyak yang berpikir, khususnya panitia yang ada bahwa bagaimana kalau nanti hujan tidak berhenti juga…
    Tags: yang, maria, dan, dalam, doa, rosario
  • 72
    “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1 : 38) Pada suatu hari ketika Yesus sedang mengajar orang banyak, disitu ada juga seorang ibu yang sedang mendengarkan ajaran Yesus. Ia begitu tertarik oleh Yesus sehingga ia berteriak, “Berbahagialah ibu yang melahirkan Engkau!” Berbahagialah ibu yang mempunyai anak seperti Yesus. Yesus…
    Tags: maria, rosario, dan, yang, doa, dalam