Para Kudus dan Pembangunan Jemaat

PAra Kudus

Mengingat Gereja adalah persekutuan hidup, kelompok demikian kendati tiap anggotanya mempunyai kepentingannya sendiri-sendiri merekapun tumbuh dalam kekerabatan sebagai orang Katolik, dalam suka-duka hidup setiap hari. Jadi hidup Gereja dalam hal ini tetap memberi perhatian bagi kebutuhan iman sampai dengan kebutuhan sehari-hari umatnya. Bagaimanakah roda kehidupan ini digulirkan?Kiranya kita semua tahu bahwa dalam banyak hal kebutuhan umat turut dikelola oleh pengurusnya. Kenyataan demikian tentu bukan merupakan temuan bagus zaman dan periode ini saja. Tentu tidak. Sudah sejak awal berdirinya himpunan jemaat, pengurus lingkungan telah memperhatikannya.

Berkenaan dengan tema para kudus yang memang menjadi perhatian Gereja pada bulan November ini, maka dua pokok pemikiran ini hendak dimunculkan secara bersama. Dengan perkataan lain, pokok bahasan dalam dibatasi dengan satu pertanyaan ini: Bagaimana usaha para kudus mengambil peran dalam pembangunan jemaat?

Sesungguhnya amat banyak contoh yang dapat diketengahkan dalam hal ini, sebab hampir semua imam yang dinyatakan kudus perjuangannya yang amat besar ditujukan kepada pembinaan umatnya. Namun demikian sekedasebagai contoh saja, untuk kali ini yang diambil tidak banyak. Cukup dua saja. Orang kudus yang dimasud adalah Andreas Kim Taegon dan Paulus Chong Hasang; martir dari Korea.

Kendati tradisi tulisan yang dapat ditemukan tidak banyak, ternyata keterangan singkat itu pun cukup. Selanjutnya mengenai seorang imam pertama yang berasal dari Korea (Selatan) antara lain dikisahkan demikian: Andreas Kim Taegon (seorang imam dan martir Korea). Setelah mendapat pembinaan untuk menjai seorang imam di daratan China, beliau kembali ke negara asalnya. Di banyak tempat ia berkotbah dan mewartakan Injil. Akan tetapi, setelah lima atau enam tahun telah memasuki Gereja Suci Korea, ia ditangkap oleh pengguasa setempat. Sebab? Kala itumenjadi Kristen atau menyebarkan agama Kristen adalah suatu tindakan terlarang di Korea yang saat itu yang sangat kental Konfusianisme-nya.Lebih dari itu, ia menderita karena kepatuhan iman berulang-ulang. Namun, ingatlah cinta Tuhan kepada kita. Seperti yang dikatakan Kitab Suci, “Tuhan memelihara kita sampai setiap helai rambut kita.” Dan, memang benar, dia terus merawat kami dan tahu semua yang terjadi pada kami.

Ketika tahu bahwa hidup Gereja di Korea waktu itu sungguh sulit, dia menulis, “Saat ini, kami hanya berjumlah 20 orang yang hidup sendirian, tetapi terima kasih kepada Tuhan. Kami masih dalam kondisi baik. Jika seseorang terbunuh lagi, saya mohon, jangan lupakan keluarganya. Saat ini, kami berjuang untuk iman kami, dan saya akan terus bersama Anda dalam doa sehingga ketika nanti kita bertemu di surga, kita dapat saling tersenyum. Aku akan selalu mencintaimu.”
Ungkapan ini bukan saja menjadi peneguh bagi kesaksian yang harus dijalaninya. Ternyata tulisan dan perjuangannya tersebut menginspirasi banyak umat, sehingga dalam kurun waktu puluhan tahun setelah Andreas Kim T menjadi martir (tahun 1846), ada ribuan orang Korea, umat awam, yang juga mengalami akhir hidup seperti itu. Salah satu dari umat awam itu adalah Paulus Chong Hasang.

Tidah sulit membayangkan bagaimana kondisi Gereja dalam masapengania¬yaan itu. Pastilah banyak umat yang lari dan terpencar-pencar. Paul Chong Hasang-lah yang tampil maju dan berusaha mengumpulkan para anggota Katolik Korea yang terpencar-pencar itu dan menyulut hati mereka dengan kobaran api iman. Selain itu, ia mengatur kembali struktur dan kegiatan gereja Katolik Korea dan memulai gerakan untuk Gereja Katolik Korea. Dan yang amat khas dari Gereja (Katolik) Korea adalah bahwa soko guru hidup Gereja waktu itu adalah para awam.

Akhirnya, seraya kita mengenang jasa para orang kudus, yang dirayakan pada tanggal 1 November, mari sejenak kita membawa ucapan syukur kepada Allah Bapa yang penuh perhatian menjaga dan menyertai hidup umatNya. Mereka pun kini terus memelihara himpunan umat Allah ini dengan doa-doa mereka. Amin.

Sragen, 29 Oktober 2019
M Sapta Margana

Related Posts

  • 75
      Ungkapan menjadi Gereja yang relevan dan signifikan sebenarnya bukanlah ungkapan yang baru. Dalam Arah Dasar Gereja Keuskupan Agung Semarang 2010-2015, kalimat ini menjadi semboyan yang kerap didengungkan. Lalu, bagaimana dengan Gereja Santa Perawan Maria di Fatima menghidupinya sampai sekarang. Menilik kembali makna signifikan dan relevan, kita bisa merenungkan sampai sejauh mana Gereja paroki kita memperjuangkannya.…
    Tags: dan, yang, gereja, dalam, dengan
  • 74
    Hari Minggu ke-33 di Masa Biasa 19 November 2017 Marilah kita mencintai, bukan dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan 1. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yoh 3:18), Kata-kata rasul Yohanes ini menyuarakan perintah yang tidak boleh diabaikan oleh orang Kristen manapun. Kesungguhan dalam perintah…
    Tags: dan, yang, kita, dalam, ini, dengan
  • 71
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita