Robertus Hardiyanta, Pr

HardiyantaPembaca LENTERA yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, “Beli mentimun di pasar malem, kula nuwun Berkah Dalem!” Biasanya umat itu “niteni” kata-kata atau sesuatu yang menjadi kekhasan seorang Rama yang berkarya di parokinya. Dua ungkapan di atas adalah salah satu ciri khas ketika Rama HAR, begitu panggilan akrab untuk saya, memulai homili atau khotbah. Ya, ungkapan “yang dikasihi dan mengasihi Tuhan” adalah jati diri kita sebagai murid Kristus, sementara “Berkah Dalem” diawali dengan sebuah parikan adalah sapaan antar kita murid Kristus dalam Gereja Katolik, terkhusus Umat Allah Keuskupan Agung Semarang.

Mengawali karya di paroki Santa Maria Di Fatima Sragen ini, saya sebetulnya sudah beberapa kali memperkenalkan diri. Pertama ketika acara ‘pisah-sambut’ tanggal 25 Agustus 2011 yll. Kedua, ketika saya diantar oleh Dewan Paroki dan umat paroki Santa Maria Kartasura tanggal 25 September 2011 yll. Dan ketiga, ketika acara ‘serah-terima’ jabatan pastor kepala paroki tanggal 27 September 2011 yll. Terlahir sebagai anak sulung dari 6 (enam) bersaudara 26 Mei 1958 saya adalah putra paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta dan dibaptis beberapa hari sesudahnya di gereja tersebut. Di paroki itulah mendiang Mgr. Alb. Soegijapranata, SJ. mencetuskan gagasan mengenai “pastoral lingkungan” yang hingga kini menjadi acuan berpastoral di Keuskupan Agung Semarang ini.

.
Saya dibesarkan bersama kelima adik saya (tiga laki-laki dua perempuan) dalam keluarga sederhana. Ayah saya: Paulus Suhardjana Praptahardjana adalah pensiunan kepala sekolah SD Kanisius (kini berusia 84 tahun) dan ibu saya: Lucia Indrati Susilawati adalah mantan perawat kesehatan (kini berusia 80 tahun).Bersama Rama Antonius Hari Kustono, Pr. yang juga pernah bertugas di paroki ini, 25 tahun yang lalu saya menerima tahbisan imamat dari tangan Bapak Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ., yakni pada tanggal 16 Agustus 1986.

Sebelum saya pindah di paroki ini, umat paroki Santa Maria Kartasura merayakan pesta perak imamat saya bersamaan dengan ulang tahun ke 40 paroki itu. Saya sungguh sangat bersyukur bisa merayakan pesta perak imamat dihadiri oleh kedua orang tua yang sudah lanjut usia namun mereka masih diberi kesehatan yang cukup baik. Selama 25 tahun menjadi imam diosesan Keuskupan Agung Semarang, saya telah bertugas di beberapa paroki dan juga di Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan. Adapun riwayat karya yang pernah saya jalani adalah sbb.

Riwayat karya:
Pastor Pembantu di Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta: 16 Agustus 1986 s.d. 31 Desember 1989.
Pamong dan guru di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang: 1 Januari 1990 s.d. 31 Agustus 1992.
Pastor Kepala di Paroki Santo Inigo Dirjodipuran, Surakarta: 1 September 1992 s.d 31 Agustus 1997
Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang: 1 September 1992 s.d. 31 Juli 1997
Pastor Pembantu di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, Yogyakarta: 1 September 1997 s.d. 31 Juli 2002
Pemulihan kesehatan di Pastoran Katedral Randusari, Semarang: 1 Agustus 2002 s.d. 31 April 2003
Pastor Pembantu sementara di Paroki Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Katedral Randusari, Semarang: 1 Mei 2003 s.d. 31 Agustus 2003
Pastor Pembantu di Paroki Santa Maria Assumpta, Klaten: 1 September 2003 s.d. 14 Juli 2007
Pastor Kepala di Paroki Santa Maria, Kartasura: 15 Juli 2007 s.d 14 Juli 201110.
Pastor Kepala di Paroki Santa Maria Fatima, Sragen: 15 Juli 2011 –sekarang

.
Tentu saja selama 25 tahun menjadi imam ada begitu banyak suka maupun duka, begitu banyak rekan imam yang menjadi partner kerja dan begitu banyak umat yang saya kenal dan mengenal saya. Semua pengalaman itu semoga menjadi bekal yang lebih dari cukup untuk mengemban tugas penggembalaan di paroki Santa Maria Di Fatima Sragen ini. Namun saya juga menyadari bahwa saya pun mempunyai cukup banyak kekurangan, selain juga usia yang makin tua juga akan berpengaruh dalam melaksanakan karya penggembalaan.Motto tahbisan imamat kami “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Kor 12:9).

Imamat kami sadari bukan pertama-tama sebagai prestasi atau puncak keberhasilan dalam studi di Seminari Tinggi, melainkan melulu sebagai karunia Allah yang diberikan kepada Gereja-Nya melalui kami yang rapuh dan lemah. Karya dan kuasa Allah justru nampak ketika kami menyadari diri sebagai pribadi yang tidak sempurna. Keyakinan itulah yang menjadikan kami mantap menjawab pertanyaan Bapak Kardinal pada saat penahbisan: “Dengan bantuan Allah, kami bersedia”Sebagai pribadi saya suka bernyanyi dan suka musik terutama musik klasik, musik keroncong dan gamelan Jawa dan tentu saja musik liturgi; dan juga bermain musik. Beberapa lagu liturgi yang saya ciptakan masuk dalam buku Kidung Panglimbang lan Kidung Cecala tahun A, B maupun C, dan belakangan ini saya juga menciptakan lagu-lagu liturgi dalam irama langgam keroncong maupun gaya Jawa (pentatonis). Beberapa kali saya diminta untuk menjadi pengamat maupun juri lomba paduan suara tingkat paroki maupun kevikepan di Keuskupan Agung Semarang ini, juga menjadi narasumber untuk pembinaan paduan suara gerejawi, bahkan waktu berkarya di paroki Santo Inigo Dirjodipuran, saya menjadi pembina paduan suara Universitas Slamet Riyadi (UNISRI), Surakarta.Mengakhiri perkenalan singkat ini saya kutipkan salah satu bagian refleksi 25 tahun imamat saya yang dimuat dalam Majalah UNIO Imam-imam Diosesan, Keuskupan Agung Semarang dan juga dimuat dalam Buku Kenangan 25 tahun imamat saya.

Jangan Menjadi Keledai yang “GE-ER”
Merenungkan perjalanan imamat selama 25 tahun, saya teringat ketika salah seorang Rama yang sekarang sudah almarhum merayakan pesta imamatnya. Beliau berkisah tentang seekor keledai. Pada waktu Yesus memasuki kota Yerusalem, Ia naik seekor keledai. Ketika khalayak mengelu-elukan Yesus dan berseru: “Hosanna! Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan!” ternyata yang senyum-senyum adalah si keledai itu. Keledai itu bangga karena pikirnya orang-orang itu menyambut dan mengelu-elukan dia.Kata Rama itu, “seorang imam itu tak jauh berbeda dengan keledai yang ditunggangi Yesus.” Kalau imam itu “dipahargya” dan “dihormati” karena dan sejauh ia membawa dan menghadirkan Yesus. Jadi tanpa Yesus seorang imam itu ibarat seekor keledai saja.Merayakan 25 tahun imamat itu bukan merayakan sebuah prestasi, tetapi mensyukuri suatu karunia, memuliakan kesetiaan Tuhan, karena Dia yang memanggil hamba-Nya untuk menjadi imam adalah setia. Berkah Dalem.***

Related Posts

  • 80
    ROMO ROBERTUS HARDIYANTA, PR Pembaca LENTERA yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, “Beli mentimun di pasar malem, kula nuwun Berkah Dalem!” Biasanya umat itu “niteni” kata-kata atau sesuatu yang menjadi kekhasan seorang Rama yang berkarya di parokinya. Dua ungkapan di atas adalah salah satu ciri khas ketika Rama HAR, begitu panggilan akrab untuk saya, memulai homili…
    Tags: di, yang, dan, saya, paroki, tahun, ini
  • 55
    Pengantar Seringkali manusia menghubungkan pertambahan usia dengan kedewasaan, meskipun menjadi tua belum tentu berarti bersikap dewasa. Maka ada ungkapan, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.” Sebuah tulisan tentang kedewasaan menyebut bahwa ciri-ciri orang dewasa adalah: diam aktif, tak banyak bicara, tapi menyikapi permasalahan dengan bijaksana. Dewasa juga berarti mempunyai empati, senantiasa meluangkan hati untuk memikirkan…
    Tags: yang, dan, dalam, di, itu, menjadi, ini, saya, adalah
  • 53
    Paroki Sragen (LENTERA) – Semarak Peringatan HUT ke-58 Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen tidak hanya dirayakan dengan umat Katolik di Paroki saja, tapi juga bersama warga RW IV Kampung Mageru. Pada hari Kamis (22/10) diadakan MALAM TIRAKATAN HUT KE-58 PAROKI SRAGEN bersama warga kampung Mageru yang merupakan warga sekitar dimana Gereja Katolik Santa…
    Tags: paroki, yang, dan, di, dalam, tahun, santa, ini, maria, juga