Filosofi Gereja Sragen
FILOSOFI, GUNA & CITRA BANGUNAN GEREJA PAROKI SRAGEN
Menggali Kekayaan Makna Bangunan Romo YB Mangunwijaya, Pr untuk Gereja Paroki Sragen
“DI ATAS BATU KARANG INI…”
Oleh : Frater Vincentius Bondhan Kumbara
“Sjokur alhamdullillah, bila pelaksanaan pembangunan geredja ini dapat ditunda sesudah saja pulang (1 tahun lagi), karena akan saja buat geredja indah dan jang dapat dipertontonkan pada dunia antar-nasional sebagai sumbangan Indonesia pada arsitektur sakral Geredja Universal”.
Aachen, 9 Des 1964
(Kutipan Surat Romo Mangun dari Jerman kepada Romo F. Kiswono di Sragen).
Cita-cita membangun gereja indah Sragen bukan sekedar harapan kosong bagi Romo Mangun. Cita-cita itu dibungkus mimpi, ideologi dan gairah sebagai seorang rohaniwan yang belajar arsitektur di Aachen. Gambar sudah dibuat, hanya saja Romo Mangun, dalam arti tertentu, nganyang supaya proyek besar itu ditunda “sekedar” menunggu kepulangannya dari Aachen. Ada janji dan komitmen yang dihayati secara teguh oleh Romo Mangun untuk memberikan persembahan terbaik arsitektur gereja.
Pengetahuan Romo mangun tentang arsitektur dan studi filsafat-teologi membuat bangunan yang dirancangkan untuk Sragen tidak hanya indah secara bentuk namun kaya akan makna. Demikian, gereja ditampilkan bukan sekedar demi kegunaan namun memuat secara lengkap kebutuhan liturgi, pastoral dan sosio-budaya. Dalam suratnya kepada Rm. Kiswono, terungkap bagaimana Romo Mangun memperhitungkan perjumpaan sebagai sesuatu yang penting. Gereja dalam arti ini menjadi sangat dekat dengan kehidupan.
Aggiornamento. Rupanya konsep yang dijelaskan panjang lebar dalam buku Gereja Diaspora ini menjadi pedoman Romo Mangun ketika beliau membangun gereja Sragen.
“Mungkin Rama heran melihat konsepsi susunan altar, umat, tabernakel dsb. Akan tetapi, ini bukan saja jang “reko2”, melainkan inilah kosekwensi jang diminta oleh aggiornamento Konsili dan terutama keinginan jang kita batja dari konstitusi liturgi jang baru”.
Pertimbangan aggiornamento ini sangat khas terlihat dari struktur bangunan romo mangun yang banyak memberi keleluasaan ruang perjumpaan. Satu prinsip, bentuk banyak.
Bentuk “Joglo Kembar” sekarang ini memang merupakan proses perkembangan yang cukup panjang dengan mengingat kebutuhan pastoral yang mendesak. Maka, menafsirkan bentuk bangunan seperti yang sekarang ini tidak dapat dilepaskan dengan proses perkembangan yang terjadi. Bangunan Romo Mangun bagaimanapun sekarang telah dikembangkan agar relevan dengan kebutuhan-kebutuhan dan tantangan pastoral. Oleh karena itu, tulisan ini juga mempertimbangkan data-data tulisan ataupun lisan dari pengembangan bangunan gereja menjadi joglo kembar yang dimulai dan diselesaikan pada saat Rm. Soeprijanto, Pr berkarya di Paroki Sragen. Tulisan ini akan memuat beberapa pernyataan Romo Soeprijanto yang sempat diwawancarai tim Buku Kenangan.
Moment Perayaan Yubileum Pesta Emas ini merupakan saat yang tepat untuk kembali menggali kekayaan bangunan Romo Mangun yang akhirnya berkembang menjadi bentuk yang sekarang ini. Dengan beberapa data yang dikumpulkan tim, tulisan ini hendak membantu pembaca buku kenangan untuk memaknai bentuk bangunan gereja Sragen yang didirikan Romo Mangun sebagai kesatuan organisme dengan persekutuan umat beriman di Sragen.
MIMPI ROMO MANGUN
Berbicara mengenai konstruksi bangunan gereja yang dirancang Romo Mangun hampir tidak dapat lepas dari idealisme yang diimpikannya. Studi di Aachen, rupanya memompa semangat Romo Mangun untuk mendesain bangunan gereja yang menampilkan situasi dan pergulatan hidup umat. Romo Mangun sangat mendalami bagaimana umat di Sragen, Keuskupan Agung Semarang, Indonesia ataupun Asia yang memiliki karakteristik budaya yang berbeda dengan kebudayaan Gereja di Eropa. Namun demikian, harus diakui proses untuk merealisasi idealisme dan mimpi bukanlah hal yang sederhana. Untuk merancang bangunan gereja Sragen misalnya Romo Mangun membuat beberapa gambar arsitektur. Pula, bangunan gereja yang akhirnya terbentuk tidak seluruhnya tercetak sesuai dengan ide yang pernah disampaikannya kepada Romo Kiswono.
Sesuai dengan karakteristik kebudayaan Asia yang plural, Romo Mangun pun tidak meninggalkan bentuk–bentuk plural dan menyerap berbagai unsur yang semakin memperkaya bangunan gereja. Demikian, Romo Mangun begitu antusias untuk menampilkan wajah baru dalam arsitektur gereja di Indonesia. Pada intinya, gereja yang ingin ditampilkan oleh Romo Mangun adalah gereja yang akrab dengan situasi pluralitas agama, pluralitas budaya dan pluralitas kemiskinan yang menjadi situasi umum Asia.
Bangunan Joglo sebelah utara yang merupakan bangunan asli Romo Mangun sangat khas menyerap unsur–unsur kebudayaan Jawa. Gereja adalah rumah. Konsepsi rumah ini sejajar dengan konsep rumah orang Hindu (Jawa). Rumah adalah kompleks yang selalu memiliki perkarangan dimana orang mengalami kesejukan. “Orang tidak akan menanam pohon kelapa atau pohon pisang di pekarangan depan rumah”, ungkap Romo Soeprijanto yang adalah murid mata kuliah Filsafat Alam Romo Mangun. Demikian, konsepsi Gereja pun menjadi sangat domestik dan akrab dengan apa yang setiap hari dirasakan, dialami dan dijumpai umat, bukan sebagai bangunan yang asing.
Cara Romo Mangun menghubungkan konsep-konsep teologi Gereja dengan kebudayaan tampak juga melalui karakteristik bangunan gereja yang terbuka. Kesatuan alam sebagai ekosistem kehidupan menjadi perhatian besar bagi Romo Mangun. Dalam suratnya kepada Rm. Kiswono ia menceritakan tentang dua pohon di depan gereja Kota Baru yang ditebang oleh pastornya.
“Sesudah ditebang, finis dengan orang-orang pemuda-pemudi jang obrol-obrolan sebelum dan sesudah misa, karena panas terik. Semua keluar dari geredja, terburu-buru pulang a la individualistis revolusi perantjis, finis dengan djiwa gotong rojong, finis dengan pemuda ‘menaksir’ tjalonja, finis dengan pak Anu jang punja maksud omong-omongan sebentar mengenai rentjana MC atau chalwat, finis dengan bu Ani jang kebetulan sebetulnja masih menanti ibu Ina jang masih berdoa sebentar di muka patung bunda maria, untuk merembug soal program masakan perajaan Komini pertama dsb, dsb. Hanja karena dua pohon ditebang. Mbok ja wis, malahane ana sing adol es-gosok, kan itu suatu djasa-sosial bagi jang memang butuh bernaung di bawah mantel van onze lieve Moeder de heilige kerk, sambil melepaskan dahaga djasmaniah”.
Tampak di sini betapa alam sangat dihormati romo mangun sebagai kesatuan ekosistem organisme. Satu dirusak, sistem ikut rusak.
Gereja bukanlah atom yang berdiri sendiri namun berada dalam satu sistem yang sarat dengan hubungan-hubungan dengan yang lain. Dengan bentuk Joglo terbuka itu kemudian segala aktivitas kehidupan tidak terlepas dari aktivitas peribadatan dan rohani atau sebaliknya, betapapun aktivitas itu hanya “merembug program masakan perayaan Komuni pertama”. Romo Mangun menyebut secara khusus juga dalam bukunya Gereja Diaspora komunikasi informal ini sebagai “Jaringan Lobi”. Komunikasi macam inilah yang penting dikembangkan dalam karya penggembalaan dan tidak dapat diandaikan begitu saja terjadi .
MEMBANGUN DI ATAS BATU KARANG
“Bangunan Gereja dalam benak Romo Mangun adalah bangunan yang sekali didirikan untuk selama-lamanya, dibangun diatas batu karang”, demikian ungkap Romo Soeprijanto. Dalam segi ini, kompleks bangunan benar-benar harus diperhitungkan keawetannya. Tidak mengherankanlah bahwa pembangunan gereja Sragen itu pun dalam bahasa Romo Soeprijanto, telah “mengorbankan” banyak tukang, karena apa yang dikerjakan tukang tidak sesuai dengan yang dikehendaki Romo Mangun.
Membangun gereja di atas batu karang bukan saja soal awet-tidaknya bangunan. Jauh dibalik keawetan itu terkandung penghormatan Romo Mangun pada nilai sejarah. Ini merupakan catatan kritis Romo Mangun pada banyak rancangan bangunan gereja yang begitu mudah membangun dan membongkar bangunan. Untuk alasan ini pula, proses pengembangan bangunan gereja Joglo menjadi sangat lama. Selain karena Romo Mangun berkeberatan, keuskupan pada saat itu juga tidak banyak memberi solusi bagaimana pengembangan bangunan akan dilakukan. Namun demikian, proses panjang ini justru semakin memurnikan, bagi Gereja Sragen, nilai penghargaan terhadap sejarah yang sangat dihayati Romo Mangun.
PENGEMBANGAN GEREJA SRAGEN MENJADI JOGLO KEMBAR
Prinsip dasar: Nilai sejarah tidak boleh diubah.
Keuskupan tidak memberi solusi ketika Dewan Paroki Sragen mengusulkan gambar pengembangan. Setelah Rama Pri pulang dari Irian dan ada konsep yang lebih matang, Romo mangun mengijinkan, Romo Mangun tidak keberatan. Rama Pri bisa memahami konsep dasar yang harus dipegang hingga tidak kehilangan simbolisasi dan citranya sbagai sebuah Gereja Jawa. Prinsip bahwa Gereja akan dikembangkan, OKE, pancernya Jln. Pattimura.
Romo Mangun sudah meninggal ketika pembangunan dimulai.
GUNA DAN CITRA BANGUNAN GEREJA: TOTAL CATECHETICAL EDUCATION.
Menilik semua bangunan gereja yang dibuat oleh Rm. Mangun selalu punya guna dan citra-nya. Hal itu ditampakkan dengan pelbagai simbolisasi yang bermakna dalam. Gereja Sragen dibangun seiring dengan pembangunan Gereja Maria Assumpta Klaten. Pelbagai simbolisasi yang digunakan juga mirip serupa. Ada pelbagai ornamen atau hiasan yang sarat makna dan perlu dipahami. Meminjam bahasannya Thomas Groome yang menyebut: Total Catechetical education, Rama Mangun selalu memberi makna pengajaran bagi setiap ornamen bangunan yang ada. Gedung Gereja menjadi sarana kateketis atau pengajaran mengenai makna kehidupan.
GEREJA ALAM – TERBUKA – PAGYUBAN
Romo mangun menggaris bawahi, Gereja itu bukan hanya bangunan tapi alam. Alam semua mendukung. Tembok dibuat teksturnya bahkan juga bisa memberi suasana sejuk – hijau dengan tanaman yang bisa merambat tumbuh di tembok itu. Membuat bangunan itu mengorbankan tukang, dalam arti tidak pernah pas dengan keinginan Romo Mangun. Gereja terbuka seperti rumah sebagaimana konsep orang hindu. Rumah ya punya pekarangan. Pekarangan: situasi memungkinkan orang mengalami kesejukan. Menanam yang evergreen, ever sign. Yang terus menurus hijau, yang terus menerus bisa dipandang.
Gereja paguyuban tidak menggambarkan rumah mewah, tetap sederhana mengingatkan konsep Gereja kaum miskin. Tapi bagaimanapun murahnya bahan bangunan, pengerjaannya yang mahal. Keprihatinan Romo Mangun. Gereja yang tidak awet. “sekali didirikan untuk selama-lamanya”. Gereja Joglo sebelah utara menggunakan atap plafon dari bambu tutul, karena bambu itu tersedia di sekitar kta, murah dan kalau dikerjakan dengan benar akan awet. Suasana yang diciptaan juga sejuk nyaman. Namun ketika tahun 2002 kita mencari bambu yang sejenis untuk plafon joglo sebelah selatan, ternyata sudah sangat sulit didapatkan. Jadilah sekarang, joglo sebelah utara menggunakan kayu jati. Tetap menunjukkan keibuan dan sikapnya yang ramah.
Gereja Sragen menghadap kemana? Tidak langsung jelas kemana menghadapnya, karena Gereja ingin menjadi seperti ibu yang terbuka tanggannya dan menerima siapapun yang datang. Dalam konsep jawa, gereja itu menghadap ke keblat papat. Pancernya siapa? Gereja sendiri menjadi pancernya. Ke segala arah Gereja memperlihatkan wajahnya. Hal ini mau konsekuen dengan panggilan asasinya yaitu gereja yang terbuka bagi siapapun. Gereja menampilkan dirinya sebagai model paguyuban yang ngrengkuh dan nggemateni siapapun yang ada. Bahkan ketika orang mau berdoa sewaktu waktupun bisa saja, karena gereja sragen tidak pernah dikunci. Siapapun dan kapanpun orang datang ke gereja, bisa sujud hormat kepada Tuhan Sang Agung – Pengayom Kehidupan. Semoga siapapun yang masuk dan datang di kompleks Gereja Maria Fatima ini, juga bisa merasakan rengkuhan keibuan Maria dan masing-masing juga bertindak yang sama, saling ngrengkuh dan gemati.
GEREJA PERTOBATAN :
Gereja ini mengingatkan kita akan pertobatan dengan lambang Ayam Jago. Spiritualitas Petrus yang bertobat setelah menyangkal Yesus yang diajukan ke pengadilan agama Yahudi. Ajakan bertobat. Maka ketika umat masuk ke halaman Gereja, sudah diingatkan untuk bertobat dan merendahkan diri di hadapan Tuhan Sang Maha Agung. Stu kamar pengakuan dibangan di sudut depan utara, supaya orang sebelum masuk ke Pendopo/Gereja sudah diingatkan akan kedosaannya, sehingga lebih pantas datang ke hadirat-Nya. Apakh ada yang baru ? Sebagai gerja yang dibangun pasca Vatikan II, kamar pengakuna di Gereja Maria Fatima ini sudha mnggunakan konsep baru mengenai paham pengakun dosa. Ruang pegakuan bukan ruang pengab kecil bersekat (sebagaimana bangunan kamar pengakuan gereja lama yang membatasasi imam dan pendosa dengan sekat terali), namun menjadi ruang bicara dari hati ke hati untuk mengalami dan merasakan kemurahan hati Tuhan melalui absolusi dari imam. Juga menjadi ruang yang memberikan kelegaan hati, bukan kamar yang menakutkan serta serba gelap. Hal ini jumbuh dengan spiritualitas keibuan Bunda Maria Fatima yang mengundang pertobatan dan berdoa rosario setiap hari. Hari Sabtu pertama dalam bulan ingin kita dedikasikan sebagai spiritualitas umat Paroki Sragen untuk mewujudkan pertobatan dan pembaharuan hidup. Maka penyegaran janji perkawinan bagi umat yang berulangtahun pekawinan dalam bulan tertentu, dilaksanakan pada hari Sabtu pertama dalam misa sore hari di Gereja Sragen.
UKIRAN KAYU MATARAM KUNO – HARAPAN PENGEMBANGAN WARTA IMAN
Dua ukiran kayu di depan pendopo mengambil motif dari ukiran mataram kuna. Mataram kuna menjanjikan perkembangan Gereja lebih banyak daripada mataram Islam. Perkembangan Sragen masih bisa banyak diharap. Jenawi pada awalnya, hanya sembilan orang, dan lihatlah perkembangannya: banyak dan menyebar. Peran guru masih mengambil porsi yang besar untuk pewartaan Katolik dan penyebaran iman. Konteks Hindui sangat kondusif untuk perkembangan. Romo Utomo memberi penilaian, tepat melihat konteks hindu yang dimasukkan.
PANTI IMAM DAN BULATAN DUNIA
Struktur panti imam. Bulatan itu adalah dunia, sebagai sebuah kesadaran bahwa Ggereja ada di dalam dunia yang nyata, di bumi Sukowati. Bagaimana latarbelakang dunia itu selalu memberi nilai dan manfaat untuk tanda hadirnya Gereja secara nyata, bagaimana dari altar sampai ke dunia dengan rahmat keberpihakan yang nyata pula. Tabernakel diapit di dalam Gunungan seperti gunungan wayang yang memberi visualisasi gambar jagad. Manusia itu ada empat tataran…….. Gunungan itu cabangnya empat. Banteng-macan yang lazimnya dipakai dalam wayang diganti rusa mendamba air. Sulur-sulurnya adalah ranting-ranting anggur denga dompolan buahnya yang gemuk subur- lambang kemurahan Alllah. Batu untuk membuat gunungan itu diambil dari batu alam yang sudah lama/tua dari kaliurang, sebagai simbol kekokohan dasar iman Katolik, Petrus adalah Batu karang Gereja.
PENDIDIKAN KEHIDUPAN BERSAMA
Di setiap tiang yang bulat, sebagai pilar penyangga gereja, selalu ada motif manusia, binatang dan tumbuhan. Inilah kehidupan yang nyata, yang selalu kita alami dan rasakan. Maka kehidupan itu selalu ada bersama yang lain. Warna dasar dari tiang bulat ini selalu alami, coklat dan hitam atau warna alami kayu, sekaligus sebagai warna kesederhanaan. Sedangkan sebagai kontrasnya, di bagian atas penyangga atap dari tiang yang bulat, ada gambaran lidah api dan daun kehidupan. Warna cat merah menyala – lambang api dan Roh Allah yang menjadi pengilham dan peneguh bagi hidup kita. Sedangkan dua soko gandeng yang ada di sebelah kiri-kanan altar sekarang ini menjadi lambang kekokohan iman Gereja yang dipadukan oleh kenyataan duniawi atau kehadiran yang nyata di Bumi Sukowati, wilayah Indonesia. Inilah persaudaraan yang kental dan nyata yang diupayakan oleh Greja sebagaimana amanat Konsili Vatikan II bahwa Gereja ada di dalam dunia dan bekerjasama mewujudkan kesejahteraan masyarakat sebagai tanda hadirnya Kerajaan Allah yang memerdekakan. ini mau menegaskan lagi bahwa Gereja sehalaman dengan SEKOLAH.
GEREJA SEHALAMAN DENGAN SEKOLAH
Gereja dengan segala pernak-pernik serta halamannya juga menjadi halaman bagi anak-anak SMP untuk bermain dan bersendau gurau. Semangat dasarnya sangat jelas. Keuskupan pada tahun 1955 tidak mengjinkan membuat gedung gereja dulu, namun memberi ‘modal’ kepada Rm. Justinus Darmajuwono dan beberapa tokoh umat yang datang (akhirnya nanti menjadi Yayasan Saverius) untuk mendirikan sekolah dengan ruangan kelas yang memadai. Pemikiran visioner ini mau menampilkan hakekat Gereja yang merengkuh dan memberi modal kecerdasan bagi generasi muda. Tentunya dari penanaman kecerdasan dan nila-nilai kekatolikan di sekolah, akan menjadi benih bagi tumbuhnya iman Katolik. Senyatanya demikian. Aktifis Dewan Paroki dan pengurus lingkungan sekarang ini adalah lulusan SMP Saverius. Syukur pada Allah. Bagaimana untuk anak-anak Saverius jaman ini ? Perlu pemahaman yang baru dan gerakan terobosan lain dalam penanaman nilai-nilai kehidupan bagi pencerdasan anak serta pewartaan kekatolikan.
PASTORAN RUMAH WEDANA
Kontruksi lama rumah pastoran dipertahankan ketika diadakan rehab. Rumah pastoran adalah rumah wedana: Bapak Bratawadana. Konstruksi dasar rumah itu dipertahankan untuk menunjukkan pengabdian kita kepada Gereja dan masyarakat. Wedana bertugas menjalankan pemerintahan sebagai wakil bupati sekaligus mengabdi Tuhan sebagai hamba-hambaNya. Pastor adalah pamomong umat dan hamba Allah yang menjalankan tugas penggembalaan. Dia bukan pemilik rumah, namun hanyalah ngèngèr seperti punakawan. Supaya jelas dan lebih nyata bahwa Yesus Sendiri Sang Gembala agung yang akan menuntun kita semua. Namun sekaligus pastor adalah administratur untuk menjalankan fungsi penggembalaan berkaitan dengan urusan dengan pemerintah atau urusan sipil. Maka diperlukan pelayanan-pelayanan yang lebih memudahkan umat menjumpai pastor dengan leluasa. Tugas kewajiban Gereja dan kerjasama denga masyarakat dan pemerintah juga dinyatakan dalam keterlibatan kegiatan kampung, arisan, dan aneka iuran serta kerjabakti untuk kepentingan warga. Inipun nusaha yang terus diwujudkan.
Romo mangun juga menggunakan bahan yang tidak awet. Tapi memang Romo mangun belajar dari pengalaman. Seperti ketika membangun salam. Hasil bangunan adalah begitu. Salam misalnya, dibuat dengan triplek, padahal dingin, ya cepat rusak. Beberapa tembok, banyak dicorat-coret anak-anak. Romo mangun marah. Tapi, kemudian dia membuat tembok khusus yang untuk corat-coret,. Grafiti dan sebagainya. Dia juga memaknai kelahiran gereja dengan konteks dunia. Seperti ada gambar apollo di saka utama depan.***
Sumber:
Buku Yubileum Pesta Emas
(Buku Kenangan 50 tahun Paroki Sragen)


Comments
No Comments
Leave a reply
You must be logged in to post a comment.