Romo Djati


“Yen aku bisa nyandak jubahe Paus, aku arep dadi Rama”
Sebuah permenungan hidup ulang tahun imamat ke – 5

Romo JatiItulah kata-kata spontan yang terungkap dalam hati, ketika Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Yogyakarta pada tanggal 14 Oktober 1989. Peristiwa itu bukanlah satu-satunya sebab yang membuatku mau menjadi imam, namun justru menjadi motivasi bagi perjalanan panggilanku. Menjadi imam butuh perjuangan yang berat, sebagaimana halnya memegang jubah Paus dari kerumunan serdadu-serdadu yang berjaga saat itu.

Awal sebuah ‘ceblok demen’ pada imamat
Berawal dari keinginan untuk minum anggur, makan enak, naik mobil,….., pengin nyandak jubahe Paus, sampai akhirnya pengin nresnani dan ditresnani banyak orang. Itulah awal ceblok demen ku untuk menjadi imam. Kendati hal itu tidaklah cukup untuk mengungkapkan dan memutuskan pilihan menjadi imam, tetapi menjadi tanda-tanda sederhana yang rupanya dipakai oleh Tuhan untuk menyampaikan pesan-Nya!
Aku menyadari bahwa panggilan adalah kehendak bebas Allah. Allah dengan bebas memutuskan siapa yang akan di panggil dan dipilih-Nya ”Aku telah memanggil engkau dengan namamu, dan engkau ini adalah kepunyaan-Ku” (Yes 43:1b).. Sabda inilah yang menguatkan dan meneguhkan keinginanku untuk menjadi imam. Bukan karena aku ini pantas, baik, suci atau pinter sehingga memenuhi kriteria pangilan itu, tetapi karena memang Tuhan menghendaki demikian. Mengapa hal itu terjadi dalam diriku? Kadang sulit untuk di mengerti dan dipahami. Aliran rahmat, sentuhan kasih dan suara Allah yang menggerakkanku selalu muncul lewat angan-angan hidupku. Semua itu menerangkan dengan sejelas-jelasnya, suatu pengalaman iman yang lebih mendalam secara perlahan-lahan namun pasti. Inilah misteri hidup yang selalu dan selalu ….., serta terus menerus aku renungkan.

Mengapa mesti harus menjadi imam?
Kendati keinginan ku untuk menjadi imam sejak kecil, bahkan Tuhan telah memanggil dan memilihku sejak aku dalam kandungan ibuku, he..he. (bdk Yer1:5). Namun setelah lulus SMU th 1984 aku sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menjadi imam. Akhirnya akupun melanjutkan kuliah di IKIP (Universitas, red) Sanata Dharma Yogyakarta dengan menekuni ilmu profan (fisika) sampai mendapatkan gelar kesarjanaan. Bagiku gelar kesarjanaan menjadi modal untuk mendapatkan ’status’ yang akan menjamin kebahagiaan hidup. Dan ……akupun telah mendapatkannya dengan ’status’ itu. ”Namun rencanaku, bukanlah rancangan Tuhan. Pikiranku, bukanlah apa yang dikehendaki oleh Tuhan”. Tuhan mempunyai rancangan yang jauh lebih dari apa yang aku rencanakan dalam hidup ini. Pengalaman ’ceblok demen’ menjadi moment yang indah dalam hidupku, namun setelah berjalan bersamanya, tidak pernah ada ketegasan untuk membangun kebahagiaan bersama. Hmm…., ”Rasanya tangan Tuhan jauh lebih kuat menarikku ke jalan imamat, dari pada tangan putri-putri Yerusalem yang memikat di hati”….he.250x.
Sepertinya melayani Allah sebagai Imam, terasa sebagai ‘hal yang paling tepat untuk dikerjakan’, kendati melayani Allah dengan cara yang lainpun aku bisa, yakni menjadi guru fisika, he..he..he.. Aku meyakini, kekuatan kasih Allah serta aliran rahmat-Nya yang tak terelakkan menggerakkan diriku untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih baik dan membawa saya ke tempat yang paling dalam “duch in altum”. Karena semua ini berasal dari Allah, dan Allah berkenan untuk memanggil dan memilih ku.“Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15:16)

Dari MERTO ngum BORO ke SRAGEN
Perjalanan imamat yang telah terlewati selama lima tahun ini, aku mengalami 2 kali mutasi. Dua tahun pertama imamat, aku jalani di Paroki ST. Yusup Mertoyudan (MERTO, red), sebuah Paroki berdekatan dengan “kawah candra dimuka” tempat persemaian benih-benih panggilan menjadi imam (Seminari Menengah Mertoyudan). Di situlah aku menemukan pemaknaan hidup, bahwa ‘Imam adalah teman seperjalanan umat’. Menjadi Imam berarti menjadi teman seperjalanan umat dalam peziarahan hidup. ”Di hadapan umat aku adalah gembalamu, bersama umat aku adalah teman seperjalananmu”. Sebuah pemaknaan hidup yang menggugah kesadaranku, bahwa Imam bukanlah sosok pribadi yang jauh dari umat dan di takuti oleh umat. Imam bukan pula sosok yang berkuasa atas status imamatnya, bukan pula sosok juragan yang harus di turuti segala omongannya. Menjadi imam bagiku haruslah mau datang, ikut terlibat (ajur-ajer, red) dan menjadi teman seperjalanan umat dalam peziarahan hidup menuju tanah surgawi yang di janjikan.
Ada pepatah yang mengatakan: “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya”. Ungkapan ini hendak mengatakan, situasi dan kondisi Paroki Mertoyudan tentu berbeda dengan Paroki Boro. Tengah tahun pertama menapaki imamat ketiga, ketika aku menginjakkan kaki di perbukitan Menoreh ‘to see’ ? melihat, mengamati, mencermati, memilah-milah dan akhirnya sampai pada pengambilan sikap ‘to judge’ untuk selanjutnya dilakukan suatu tindakan konkret ‘to act’.
Tiga tahun makaryo di perbukitan Menoreh (BORO, red) menemukan pemaknaan hidup bahwa ‘Imam adalah berjuang’. Menjadi Imam berarti melakukan perjuangan. Berjuang menempuh medan berat, sekaligus menerobos ke’mapan’an dan ke’nyaman’an hidup seorang Imam. Kendati demikian perjuangan yang sungguh di dasari motivasi murni, tidaklah sia-sia belaka.”Nalika Gusti Yesus priksa wong pirang-pirang, banjur kraos welas asih, awit wong-wong iku kaya dene wedus tanpa pangon” (Lih. Mark 6:34). Di tempat inilah aku merasakan hidup menjadi Imam yang konkret. Berjuang bersama umat angupadosi toya bening. Genaplah sudah 3 tahun perjuanganku di perbukitan Menoreh….dan kini tibalah saatnya untuk ngum BORO ke SRAGEN.
Ada apa dengan Sragen??? Yo…. embuhlah! Satu keyakinan pasti, ‘Sragen sebagai hadiah ulang tahun Lustrum I perjalanan imamat ku’ (Kentungan 29 Juni 2004, red). Langkah awal yang bisa aku lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah “Golek papan kanggo nyantelke kurungan manuk”. (Dirasani olehe ngopeni manuk hayo ra popo, asal ora dirasani olehe ora ngopeni umate, he..he..)

Akhirul Kallam
Lewat tulisan bermakna ini, punten sewu kulo sowan ingarsanipun warga Pasamuan ing Paroki ST. Perawan Maria di Fatima Sragen. Sugeng pinanggih, samangke makaryo sesarengan mbangun Kraton Dalem Gusti ing tlatah bumi Sukowati. Hmm….Numpak motor bebek, mboncengke Rm Isri. Sanadyan Ramane rada pendek, nanging mesti bakal ngangeni. Berkah Dalem!

Sekilas perjalanan hidup panggilan dari tahun ke tahun
Rm. djati nugroho, Pr. (dj_nuggie ) dengan nama lengkap Christophorus Tri Wahyono Djati Nugroho, lahir pada Hari Raya Kabar Sukacita, 25 Maret 1966 di Piyungan, sebuah dusun berada di wilayah Kab. Magelang. Rama yang terkenal “Jarum Super” alias Jarang di Rumah, Suka Pergi, serta mempunyai hoby dolan dan misa pagi ini merupakan putera ketiga dari lima bersaudara pasangan Bpk Matheus Suroso dan Ib Fransina Mursiyati.

Adapun riwayat pendidikan dan karya sbb:

1972 – 1977 SD Negeri Tirtosari I Sawangan, Magelang.
1977 – 1981 SMP Negeri Blabak Mungkid, Magelang.
1981 – 1984 SMU Negeri Blabak Muntilan, Magelang.
1984 – Jan 1989 FPMIPA IKIP Sanata Dharma Yogyakarta.
1988 – 1989 Guru Fisika di SMU K Pendowo Muntilan.
1989 – 1996 Guru Fisika di SMU PL ST. Yoseph Surakarta.
1996 – 1997 Tahun Orientasi Rohani (TOR) Seminari Sanjaya Semarang.
1997 – 2000 Studi Filsafat di Fak. Teologi Univ. Sanata Dharma Yogyakarta.
2000 – 2001 Tahun Orientasi Pastoral (TOP) Seminari Menengah Mertoyudan.
2001 – 2003 Studi Teologi di Fak. Teologi Univ. Sanata Dharma Yogyakarta.
2003 – 2004 Program Pendidikan Profesi Imamat.
17 April 2004 Tahbisan Diakon di Seminari Tinggi ST. Paulus Kentungan.
29 Juni 2004 Tahbisan Imam di seminari Tinggi ST. Paulus Kentungan.
2004 – 2006 Pastor di Paroki ST. Yusup Mertoyudan Magelang.
2006 – 2009 Pastor di Paroki ST. Theresia Lisieux Boro.
2009 – ….. ? Pastor di Paroki ST. Perawan Maria Fatima Sragen

Comments

No Comments

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.