Romo Issri
“Sertailah kami jadi saksi Injil-Mu”
Para pembaca Lentera yang terkasih, mulai bulan Agustus 2008, saya mendapatkan tugas yang baru dari Bapak Uskup. Saya ditugaskan di Paroki St. Perawan Maria di Fatima Sragen. Sebelumnya, selama 5 tahun saya bertugas di Paroki St. Maria Lourdes Promasan DIY. Terus terang saja, pada awal mendapat informasi bahwa saya ditugaskan di Sragen, muncul rasa ragu-ragu. Apakah saya bisa melaksanakan tugas dengan baik di paroki Sragen? Apakah saya bisa melanjutkan pelayanan Rm. FX.Sukendar? Sebab saya menyadari belum banyak pengalaman. Maklum baru 9 tahun menjadi imam. Pada tanggal 5 Juli 1999 saya ditahbiskan menjadi imam bersama dengan 9 teman saya. Di samping itu saya juga merasa masih sangat ‘hijau’, baru 38 tahun menghirup udara di dunia ini. Kata orang tua saya, Bp. Sebastianus Iswardjono Sastrodjiwandono dan Ibu Theresia Sri Mulyati saya lahir pada hari Minggu wage, 13 September 1970, di saat bulan purnama. Dan diberi nama Lambertus Issri Purnomo Murtyanto.
Saya juga masih sangat asing dengan daerah Sragen. Maklumlah sejak kecil sampai menjadi imam hidup di kota Yogyakarta. Saya tinggal di wilayah paroki Hati Kudus Yesus Pugeran, lingkungan Kadipaten Wetan. Pendidikan yang saya jalani hampir sepenuhnya di kota Yogya. TK Mater Dei Marsudirini, SD Pangudi Luhur, SMP Pangudi Luhur I, SMA Kolese De Britto, 1 tahun di seminari Mertoyudan, 1 tahun di Tahun orientasi Rohani Jangli Semarang dan 6 tahun di Seminari Tinggi Yogyakarta. Dan setelah menjadi imam belum pernah bertugas di wilayah Kevikepan Surakarta.
Syukurlah keraguan saya tersebut tidaklah berlanjut. Dukungan dari 5 mas saya dan 4 mbak saya sangatlah besar. Saudara-saudara saya tersebut selalu menyemangati dan tentunya mendoakan saya sebagai adik bungsu mereka. Keraguan saya semakin hilang setelah mengingat motto tahbisan saya: “Sertailah kami jadi saksi Injil-Mu”. Motto tersebut mengingatkan saya akan penyertaan Tuhan dalam setiap Tugas saya. Saya percaya bahwa Tuhan akan membantu saya lewat banyak orang, terutama lewat seluruh umat Paroki Sragen.
Tugas melayani umat Sragen yang kurang lebih berjumlah 5000 jiwa dengan wilayah yang luas tentulah membutuhkan banyak energi. Berkaitan dengan ini kesehatan menjadi hal yang penting. Salah satu cara yang saya lakukan untuk menjaga kesehatan adalah makan yang cukup serta olah raga yang teratur. Soal makan, tidak ada pantangan. Maka para ibu tidaklah perlu repot-repot pilih makanan untuk caos dhahar, sebab semua jenis makanan pasti saya nikmati. Soal olah raga, badminton menjadi pilihan saya.
O ya, masih ada satu hal yang menjadi sarana menjaga bisa selalu segar yakni pelihara burung, anjing dan tanaman hias. Rasa capek akan segera hilang, saat mendengar kenari, murai batu dan cucak rawa berpadu suara. Badan menjadi segar begitu melihat keladi, aglo dan macam-macam anthurium menampakan keindahannya. Hatipun menjadi ceria, melihat tingkah lucu Faste si anjing ‘domba’. ***
Demikian saja unjuk diri dari saya. Matur nuwun lan berkah Dalem


Comments
No Comments
Leave a reply
You must be logged in to post a comment.