Sejarah Paroki Sragen


Tonggak-tonggak sejarah sebagai berkat Tuhan di Sragen

BENIH AWAL KEKATOLIKAN DAN EMBRIO PAROKI

Umat Katolik Sragen pada awalnya mendapat pelayanan dari paroki Purbayan Surakarta. Paroki Purbayan sudah berdiri tahun 1916. Sebagai usaha awal untuk menanamkan benih kekatolikan, didirikan Sekolah Dasar di Desa Jetak: DRIEJARIGE VOLK SCHOOL KANISIUS yang menumpang di rumah Demang Sontomejo dengan guru R. Sumardji kemudian R. Soewandi, dan RP. Soewardi (Bp. PS. Dirosoemarto). Bapak guru Dirosoemarto selain sebagai mantri guru Jetak juga diberi kuasa menjadi guru agama Katolik oleh Rm. CJJ. Versteeg SJ. Hasil pelajaran agama yang dapat dipetik adalah dipermandikannya dua penduduk asli Sragen di Paroki Purbayan pada tgl 24 Desember 1933, yaitu Tarcisius Parjan dan Godeliva Rejeb Rubinah.

Sejak tahun 1930 sudah ada Misa untuk orang-orang Belanda dan Tionghoa yang tinggal di Sragen. Kemudian tahun 1935 rutin ada pelayanan Misa setiap bulan, dan mulai tahun 1937 diadakan misa di Volkschool Kanisius Jetak. Kegiatan ini terhenti dengan masuknya Jepang tahun 1942 karena semua misionaris diinternir. Kegiatan pembelajaran di Kanisius Jetak juga terhenti dengan dibubarkannya sekolah tersebut pada tahun 1949 (menjadi Sekolah Rakyat).

Hingga tahun 1948 hanya ada sekitar 30 orang Katolik di sekitar Sragen, termasuk di dalamnya Beberapa orang Belanda – Katolik yang punya peran di Pabrik Gula Mojo. Geliat untuk menjadi Katolik terasa lagi dengan berdirinya SGB di Beloran (1950) yang diprakarsai oleh guru-guru Katolik: Bp. PS. Atmosoedarmo, AS Dirdjawijoto, Th. Sukisman dan ED. Widyasoesanto. Pada tahun 1951 ada delapan siswa SGB yang ingin belajar agama Katolik. Mereka itu adalah Soekardi, Santosa, Rahmat Budiyono, Kartono, Sutarsi, Partiwi, Sumiyem dan Budiyanti. Kedelapan siswa ini mengajukan permintaan kepada Pak Guru Atmo untuk ?menganut agama monoteis pertama di dunia?. Dengan tegas Pak Atmo memberi jawab bahwa agama itu adalah ROOMSH KATHOLIEK?. Setelah menjalani masa katekumenat dengan tekun, akhirnya kedelapan siswa SGB ini dipermandikan di Purbayan pada tanggal 23 Desember 1953 oleh Rm. C. Martawerdaya SJ. Dua hari kemudian, mereka dikuatkan dengan Sakramen Krisma oleh Rama Kanjeng Soegijapranata SJ. Tahun 1954 ada sebelas siswa SGB yang juga berminat mempelajari agama Katolik. Mereka dipersiapkan oleh Rm. Wakkers SJ yang datang dari Purbayan untuk memberikan pelajaran agama. Pada tanggal 24 Desember 1954 mereka dipermadikan di Purbayan oleh Rm. C. Martawerdaya SJ. Kesebelas orang sebagai angkatan kedua baptisan dari SGB Beloran adalah Kristoforus Sutiyo, Titus Satiman, Ignatius Loyola Sriyono, Aloysius Paiman, Ignatius Sarijo, FX. Purwanto, FX. Giarto, FX. Parwito, YB. Wiyono, Petrus Jono dan Maria Sumiarsih.

Benih iman terus berkembang di Sragen, tahun 1955 ada empat siswa SGB Beloran dipermandikan, yakni PG. Karno, FA. Ngadimin, Surip Sukarjo Purwowiyoto dan Vitus Suratmin. Dua orang dari yang dipermadikan sebagai angkatan ketiga ini menjadi biarawan yaitu Bruder Kanisius BM (dulu bernama Karno) dan FA Ngadimin menjadi Rm. FA. Tejasuksmana MSF).

Data nama dan aneka keterangan diambil dari paper Mahasiswa FTW tahun 2007 yang mengadakan penelitian Sejarah di Paroki Sragen, dengan judul paper: ’Sang Bayu Iman Berhembus Dari Beloran’.

MASA PEMBENTUKAN PAROKI DAN GELIAT AWAL (1957 ?1969)

Tahun 1955 berdiri Yayasan Saverius dengan Akta Notaris No. 30. 26 ? 9 ? 1955 yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh awam yang merintis berdirinya SMP Saverius. Mereka itu adalah Bp. Florentinus Suseno, Bp. Paulus Sudarmo Atmo Sudarmo, Bp. Eduardus Wiyoto, Bp. Thomas Sukisman, Bp. Andreas Dirjo Wiyono, Bp. Eduardus Dachlan Widyo Susanto, dan Bp. Aloysius Sumantyo. Peran Rm. Yustinus Darmajuwana sebagai Pastor Purbayan (1956 ? 1957) yang juga melayani Sragen, ikut membesarkan Yayasan Saverius. Melalui karya pendidikan ini, benih kekatolikan makin tersebar diantara anak-anak muda Sragen.

Tgl. 2 September dengan Akta Wk. Notaris di Semarang R.M. Soeprapto No. 49 tgl. 15 Nopember 1957 didirikan Yayasan PGPM Paroki Santa Perawan Maria di Fatima di Sragen dengan Ketua Yustinus Darmoyuwana, Pr. Tokoh awam yang terlibat dalam kepengurusan PGPM adalah Bp. FX. Wasiman, Bp. Florentinus Goetama dan Bp. Johanes Soegito. Melalui pendirian PGPM ini dan didukung oleh keberadaan Yayasan Saverius, gerak kehidupan menggereja di daerah Sragen semakin kuat. Pelayanan rohani bagi umat dilaksanakan lebih rutin. Rm. Wakkers SJ pada tahun 1960 ?1961 secara khusus bertugas memperhatikan reksa pastoral di Paroki Sragen, kendati masih harus dilajo dari Purbayan

Tahun 1961 lahirlah Paroki Purbowardayan; Sragen menjadi stasi dari Purbowardayan. Rama F. Kiswono Pr sebagai pastor paroki: membagi diri dalam satu minggu di Purbowardayan dan di Sragen.. Peristiwa yang menandai tumbuh suburnya kekatolikan di Sragen adalah hadirnya tiga suster SFS (Suster Fransiskanes Sukabumi) ke Sragen, pada tanggal 10 Maret tahun 1963. Mereka itu adalah Sr. Valentine SFS, Sr. Theresina SFS dan Sr. Walfrida SFS. Mereka datang ke Sragen atas undangan Rama Kanjeng Soegijapranoto SJ untuk memulai karya sosial – kesehatan dengan mendirikan Rumah Bersalin Mardi Lestari. Kemudian hari Rumah Bersalin ini berkembang menjadi Rumah Sakit Mardi Lestari. Suster Bernarda SFS berperan dalam perkembangan karya tersebut. Karya para Suster SFS dikembangkan dalam bidang pendidikan untuk menanggapi kebutuhan nyata membantu pendidikan anak-anak. Tanggal 8 Januari 1968 berdirilah TK Santa Anna dan setahun kemudian, tepatnya tanggal 6 Januari 1969 berdiri SD Santo Fransiskus. Karya Pendidikan ini dirintis oleh Sr. Theresia SFS.

Mulai tahun 1965 Rm. F. Kiswono Pr menetap di Sragen: Waktu inilah yang selama puluhan tahun ?dianggap? sebagai tonggak berdirinya paroki Sragen, hingga ditemukan atau dibaca data otentik, 2 September 1957 sebagai hari lahirnya paroki Sragen dengan didirikan Yayasan PGPM Paroki Santa Perawan Maria di Fatima di Sragen. Pertengahan Juli 1968 mulai dibangun Gereja Joglo dengan arsitek Rm. JB. Mangunwijaya Pr (Imam muda yang baru belajar arsitektur di Jerman) dibantu Br. Karto. Bulan Agustus 1969 pembangunan selesai kemudian diberkati dan diresmikan oleh Bapak Kardinal Yustinus Darmajuwono Pr dengan nama pelindung Santa Maria Fatima.

PERJALANAN MENDEWASA 40 TAHUN PERTAMA SEBAGAI PAROKI HINGGA TAHUN 2000

Masa perjuangan yang menandai kiprah kaum awam di Sragen bisa dirunut demikian: Gayam mulai ada 70 keluarga yang mengikuti pelajaran agama didampingi Bp. JO. Widyautama, menyusul Banyuning ? Taraman karena peran Bp. Dirosumarta, Bp. RA.Widjaja dan Bp. T. Ngadiman Brotosuhatmo. Kelompok Sidoharjo cukup kental dan guyub persaudaraannya sehingga benih kekatolikan segera menyebar.

Lingkungan Gawan dan Gading juga muncul karena peran katekis yang gigih berkeliling mengajar agama. Bapak Albertus Siswanto yang dipermadikan pada tanggal 28 Maret 1959 menunjukkan kesaksian iman yang bisa dirasakan oleh orang-orang Gawan dan sekitarnya melengkapi kesaksian hidup keluarga Bp. Antonius Suwarjo yang lebih dulu menjadi Katolik.

Penyebaran kekatolikan di daerah Kedawung dimulai dari jaminan keamanan yang diberikan oleh Bp. Yosep Soekimin sebagai Kepala Polisi Sektor Kedawung kepada Bp. Ag. Soekardi untuk memberikan pelajaran agama kepada 18 orang yang berminat mengenal iman Katolik. Buah pertama dari katekumen ini adalah pembaptisan pada tanggal 23 Desember 1968 oleh Rm. C. Suryosubroto Pr di SMP Saverius Sragen. Pelayanan yang diberikan kemudian adalah Misa lapanan, bertempat di gedung TK. PTP. Tarik Ngarum Kedawung. Benih awal ini disusul terus menerus oleh orang-orang yang berminat mengikuti pelajaran agama, karena kesaksian hidup orang-orang yang sudah dipermandikan dan para katekis.

Mulai tahun 1950 ada tiga keluarga Katolik di Masaran. Berkat kesaksian dari Keluarga Bp. Suparno dan PC. Martasuwignyo, maka warta iman Katolik tersebar di daerah Masaran hingga ke Kuyang (pada tahun 1966 dan 1967 ada baptisan sekitar 25 orang di Kuyang

Daerah sebelah utara bengawan Solo khususnya Jenar, Tangen dan Ngrawoh mengalami penyebaran warta iman Katolik dengan cara yang khas. SMP Saverius memberi andil besar untuk pewartaan iman. Penyebaran kekatolikan di Jenar diawali dengan dibaptisnya Yohanes Suparman (Siswa kelas 2 SMP Saverius, asal Jenar) pada tanggal 23 Febraurai 1962. Melalui kesaksian hidupnya sebagai guru SD, beberapa orang tertarik menjadi Katolik. Nilai kesaksian hidup itu makin kuat, ketika tahun 1968 Bp. Muchari dipermandikan dan turut memperkuat pewartaan kekatolikan di kecamatan Jenar. Ngrawoh mengembangkan kekatolikan melalui peristiwa pembaptisan darurat yang dialami oleh Aloysius Sukarto (20 Juli 1960) yang akhirnya membawa seluruh keluarga menjadi Katolik. Keluarga Yusup Wiryorejo dipermandikan oleh Rm. F. Kiswono pada tanggal 24 Desember 1961. Merekalah cikal bakal umat Katolik di Ngrawoh. Kekatolikan di Tangen, diawali oleh kehadiran Bp. Siswopratomo yang ditugaskan menjadi Kepala Sekolah Rakyat di Tangen. Dia datang bersama keluarganya yang Katolik. Kesaksian hidupnya dan cara mengajar dengan banyak bercerita memberi kesegaran bagi anak-anak di sekolah. Pewartaan Kekatolikan diteruskan oleh Bapak Rantimin yang dipermandikan pada tahun 1965 ketika akan menyuntin gadis pilihannya. Namun benih kekatolikan sebetulnya telah didapatkan ketika dia sekolah di SMP saverius antara tahun 1957 hingga 1960.

Daerah Gondang mengalami sejarah kekatolikan dengan hadirnya keluarga Aloysius Marto Sudarmo ke Gondang sekitar tahun 1943. Keluarga ini pada awalnya menjadi koster di Paroki Karangpanasa Semarang. Namun karena situasi perang dan tidak merasa nyaman dengan keadaan di kota Semarang, keluarga ini memilih kembali ke desa yakni ke Ngundakan Gondang. Keluarga ini berkenalan dengan Keluarga RCS. Dwijo Wiyoto yang menjadi penilik sekolah di daerah Gondang dan tinggal di Badran, Godang sejak tahun 1935. Duet dua tokoh ini memberi warna kehidupan yang baik bagi orang-orang sekitar Godang. Mulai ada beberapa orang yang berminat untuk mempelajari agama Katolik karena cara hidup dua keluarga ini yang mencerminkan kesahajaan hidup, namun terasa nyaman tentram. Setelah ada baptisan tahun 1957 (Prawiro dan istrinya), disusul kemudian baptisan berikutnya setelah tahun 1967. Peran keluarga dan katekis-katekis awal dengan kesaksian hidup yang bersaha, menarik orang-orang lain untuk mempelajari agama Katolik.

Tempat lain yang berkembang adalah Jenawi; dengan tokoh yang berperan, misalnya Pasutri Antonius Sutardi. Kehadiran Pasutri Antonius Sutardi dan Susana Aminah yang (menikah 18 Januari 1959), memberi warna kesejukan bagi penyebaran benih iman kekatolikan di lereng gunung Lawu daerah Jenawi ini. Sebagai guru sekolah dasar, Pak Tardi dan Bu Susana mewartakan nilai-nilai kekatolikan melalui pelajaran yang diberikan. Hal yang menjadi pemicu awal untuk mewartakan iman Katolik adalah tawaran Bapak Camat Jenawi untuk memberikan siraman rohani bagi para pegawai Kecamatan Jenawi. Usaha awal ini ternyata berlanjut berbulan-bulan, dan makin lama ada orang yang tertarik untuk mempelajari agama Katolik. Peran para Guru dan umat Katolik yang menjadi pemuka masyarakat di kecamatan Jenawi juga sangat terasa, sehingga kehadiran Umat Katolik dan Gereja Katolik di Jenawi mudah diterima dan bisa berbaur dengan masyarakat.

GEREJA PADA MILLENIUM III

Minggu, 4 April 2000 sesudah Misa Hari Raya Paska diadakan peletakan batu pertama pembangunan perluasan Gereja oleh Rm. Andreas Tri Sujarwadi. Tgl 10 Juni 2001 mulailah renovasi Pastoran. Hingga akhirnya tgl. 23 September 2001 Mgr. I. Suharyo meresmikan dan memberkati gedung Gereja Joglo sehingga sekarang Gereja Sragen menjadi Gereja Joglo Kembar yang digambar oleh Bp. Ag. Subarjo. Dewan Paroki juga telah membeli rumah dan tanah pekarangan Mbah Suroharjo (830 m) sehingga paroki mempunyai ruang pertemuan dan halaman yang lumayan luas. Jumlah umat sekitar 5.000 tersebar di 42 lingkungan. Peran Rm. Petrus Soeprijanto yang bertugas selama 9 tahun di Sragen sebagai Pastor Kepala bersama Rama Pembantu dan Dewan Paroki selaku rekan kerja, telah memberi dasar yang kokoh untuk keterlibatan umat dan kerelaan berpartisipasi membangun Gereja beserta kompleks Pastoran yang memadai.

Pemetaan Wilayah dan pemekaran lingkungan menjadi cita-cita dengan semangat dasar membangun Communio. Bisa dikembangkan pula Rukun Warga atau pertemuan Kelompok, terdiri dari 5 ? 10 Kepala Keluarga.

Perubahan AD Yayasan PGPM tgl. 11 April 2001 No. 54 menjadi PGPM Paroki Santa Perawan Maria Di Fatima Di Sragen oleh Notaris Angelique Tedjajuwana S.H. Notaris di Semarang, sehingga keberadaan Gereja ditempatkan lagi sebagaimana sediakala (sebagai Badan Hukum).

Umat Katolik Paroki Sragen pada bulan Januari 2007 berjumlah 5.219 orang(berdasar data sensus 2006) tersebar di 46 lingkungan. Pemekaran Lingkungan dan giatnya umat untuk menggereja di wilayah terus digiatkan. Pemberkatan Kapel St. Yohanes Rasul Kedawung, telah dilaksanakan pada hari Kamis 16 Oktober 2003 oleh Bapa Uskup Agung Semarang Mgr. I. Suharyo, menandai geliat dan perkembangan umat Katolik di Sragen.

Gereja Maria Assumpta, wilayah St. Bartolomeus Sidoharjo diberkati Bapak Uskup Agung Semarang pada tanggal 25 Oktober 2007 sebagai usaha dan wujud geliat umat yang nyata serta mendapat dukungan dari pelbagai pihak, sekaligus merupakan hadiah Yubileum Pesta Emas Paroki Sragen.***

Comments

No Comments

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.