Gerakan Peduli Sekolah Katolik

Paroki Sragen (LENTERA) – Hampir selama dasa warsa terakhir LPK (Lembaga Pendidikan Katolik) banyak mengalami masa-masa pahit. Ini terlihat dari jumlah siswa di sebagian sekolah-sekolah Katolik semakin menurun. Menyadari hal ini Gereja Katolik di Indonesia menerbitkan Pesan Pastoral Sidang KWI 2008 perihal LPK (Lembaga Pendidikan Katolik). Di Sragen terdapat LPK mulai dari Play Group hingga SMA/ SMK yakni: Play Group & TK Indriasana, TK Santa Anna, SD Santo Fransiskus, SMP Saverius, SMA Saverius dan SMK Xaverius. Pada Sekolah-sekolah tersebut nampaknya hanya TK Santa Anna dan SD Santo Fransiskus yang jumlah siswanya relatif stabil atau bahkan meningkat. Sedangkan di sekolah – sekolah lainnya terlihat bahwa jumlah siswanya semakin menurun. Meski ditempuh berbagai upaya untuk menanggulangi keprihatinan itu, sebab keberadaan sekolah-sekolah itu turut mendukung keberadaan dan perkembangan Gereja pada umumnya.

Maka pada Jumat (22/5) diadakan temu muka Dewan Paroki Sragen dengan para Pengurus Yayasan Pendidikan Katolik beserta para Kepala Sekolah serta pemerhati pendidikan bertempat di aula SMP Saverius Sragen. Romo Paroki berdasarkan Nota Pastoral Sidang KWI 2008 menjelaskan LPK yang dikelola oleh Keuskupan, Tarekat maupun awam memperlihatkan bahwa pendidikan Katolik menjadi bagian utuh kesadaran umat beriman (bdk. KHK1983, Kanon 793). Pada gilirannya, mereka perlu mengambil bagian dalam tanggung jawab keberlangsungan LPK dalam lingkungan hidup mereka. Dalam upaya nyata untuk mengangkat kembali kemampuan, LPK Keuskupan dan pengelola LPK lain sudah mengambil langkah nyata, antara lain menggalang dana pendidikan untuk me¬numbuh¬kan rasa memiliki di kalangan murid-murid sendiri, orang tua murid, mitra pendidikan, umat dan masyarakat umum. Dengan demikian dikembangkanlah solidaritas dan subsidiaritas dalam lingkungan karya pendidikan.

Lalu pada hari Minggu (24/5) juga diadakan pertemuan para Ketua Lingkungan dan Wilayah separoki untuk menanggapi himbauan Nota Pastoral di atas. Dan sudah disepakati akan ada kotak khusus peduli pendidikan Katolik yang dipasang di Gereja. Umat dihimbau mengisi kotak dana itu sebagai bentuk kepedulian. Besarnya dana diserahkan kepada kerelaan masing-masing umat. Gerakan serupa hendaknya juga digalakkan di Lingkungan dan Wilayah.

Jika ada orang tua yang sudi menyekolahkan anaknya di Sekolah Katolik / LPK, itulah wujud nyata kepedulian yang paling diharapkan. Siapa lagi yang harus memperhatikan pendidikan Katolik kalau bukan kita sendiri?(Atm)