Hari Raya Tubuh & Darah Kristus dan Penerimaan Komuni Pertama

Oleh : Alb. Anang BP – Pada saat kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah terkudus Tuhan Yesus, kita mendengar kisah Injil tentang penggandaan roti di padang gurun. Yohanes menempatkan kisah penggandaan lima buah roti untuk mengenyangkan lima ribu orang ini di awal bab enam dari kitab Injilnya. Dan bab enam Injil Yohanes merupakan bagian Injil di mana Yesus sendiri memberikan ajaran dan wejangan tentang roti kehidupan, tentang roti yang turun dari langit yang memberikan kehidupan kekal bagi mereka yang menerimanya

Karena itu boleh dikatakan bahwa mukjizat pergandaan roti di padang gurun ini mempersiapkan kita untuk menerima suatu mukjizat yang lebih besar dan lebih agung yakni perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus

Banyak orang, seperti halnya para rasul serta orang lain yang mengikuti Yesus dan mendengarkan ajaranNya dalam bab enam Injil Yohanes, nampaknya terlampau sulit dan tak bisa terbayangkan untuk menerima kenyataan bahwa Yesus memberikan dagingNya untuk dimakan dan darahNya untuk diminum. Alasannya karena mereka melihat kata-kata Yesus tersebut secara harafiah. Dan karena itu ketika mereka mendengar kata-kata Yesus di atas, boleh dikatakan bahwa mereka tak mampu menerima kalau hal itu menjadi sesuatu yang nyata.

Benar bahwa Yesus kini memulai sesuatu yang sama dengan apa yang terjadi di saat penciptaan. Namun hendaknya diketahui bahwa Yesus memulai suatu penciptaan yang baru. Ia menciptakan secara baru dunia kita ini lewat pencurahan seluruh darahNya yang terjadi saat mengorbankan diriNya di atas palang salib. Dan apa yang istimewa dalam penciptaan baru ini bukan hanya pada kekuatan Sabda Tuhan yang kreatif, tetapi juga pada kelimpahan dan kekuatan Sabda Tuhan yang re-kreatif, yang menciptakan secara baru serta menyelamatkan.

Kelimpahan ini menjadi amat nyata setelah lima ribu orang yang ada di tengah padang tersebut makan dan menjadi kenyang. Betapa banyak makanan yang tersisa dan terkumpul dalam dua belas bakul. Suatu kelimpahan yang muncul dari keterbatasan, yang muncul dari ketiadaan. Itulah kekuatan Sabda Tuhan yang menciptakan dan menyelamatkan.

Jadi makanan abadi yang diberikan Yesus kepada manusia berkat penjelmaan¬Nya menjadi manusia yang mencapai puncaknya di atas salib serta kebangkitan ini, adalah cintaNya yang tak terbatas, yang tak mengenal awal dan akhir. Ia mencintai kita kemarin, hari ini dan hingga kekal selamanya. Barang siapa menerima pemberian cinta ini serta menghidupkannya dalam kesehariannya, maka ia akan memperoleh kehidupan kekal. Dari sini jelaslah, bahwa setelah dikenyangkan oleh roti cinta ilahi, kitapun selayaknya berbuat hal yang sama, mengulurkan cinta kita kepada sesama yang membutuhkan. Kita mendapat tugas untuk turut menciptakan mukjizat mem¬bagikan roti yang sama kepada orang-orang lain.

Hari Raya Tubuh dan Darah terkudus Tuhan Yesus, bisa dikatakan pula selalu identik dengan Penerimaan Komuni Pertama, karena penerimaan Komuni pertama selalu dilaksanakan di saat hari besar ini. Bagi sebagian kaum awam kadang juga bertanya, kenapa harus ada Komuni Pertama dan Kenapa pula penerimaan Komuni pertama selalu dilaksanakan pada saat hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Sejenak kita akan menilik tentang Komuni pertama. Bagi kita orang katolik tidak asing lagi dengan istilah Komuni kudus, tapi kadang juga kita tidak tahu persis apa sebenarnya Komuni Kudus.

Upacara Komuni Kudus dalam perayaan Misa merupakan bagian dari perayaan Ekaristi, dimana Roti dan Anggur yang telah dikonsekrasi kemudian dibagikan kepada umat yang telah menerima sakramen Babtis. Komuni yang pertama kali diterimakan oleh umat disebut sebagai Komuni Pertama. Menurut peraturan Gereja, komuni Pertama untuk anak-anak hanya boleh diterima oleh anak-anak yang telah mengerti apa artinya menyambut komuni kudus. Batasan usia anak-anak yang dianggap telah cukup mengerti adalah sekitar 9-10 tahun. Sebelum anak siap menerima Komuni Pertama, tentu anak anak harus mengikuti Kelas Komuni Pertama, dan lulus tes yang telah ditentukan. Kelas Komuni Pertama Anak yang diselenggarakan tiap tahun pada bulan tertentu. Bernaung di bawah Seksi Katekese, Kelas Komuni Pertama mempunyai beberapa tenaga pengajar yang secara bergantian mengajar, ter¬gantung topik yang akan dibahas di buku Persiapan Komuni Pertama.

Tidak semua anak anak dapat mengikuti Kelas Komuni Pertama; hanya anak-anak yang telah menerima Sakramen Baptis, dan berumur di atas 9 tahun. Materi yang diajarkan di kelas berupa: ajaran doa pokok orang Katolik, pengenalan Bunda Maria dan Yesus Kristus, Tata Cara Perayaan Ekaristi, serta Arti Penting Hosti dan Prosedur Penyambutan Hosti.

Kelas yang berlangsung sekitar 1,5 sampai 2 jam setiap hari Minggu ini, terdiri atas kurang lebih 10 kali pertemuan, dan pada setiap akhir pertemuan, anak-anak diberikan PR homili, yaitu mereka diharuskan mendengarkan homili pastor, membuat kesimpulan tentang isi homili, dan kemudian ditanda-tangani pastor lantas dikumpulkan ke guru kelas. Sebagai tanda penghargaan, para guru juga kerap memberikan hadiah-hadiah kecil kepada anak anak yang rajin mengerjakan tugasnya. Ujian dilaksanakan pada pertemuan terakhir. Soal ujian meliputi soal pilihan ganda dan essay. Bahan ujian tidaklah sulit, dan meliputi topik seperti 10 perintah Allah, 5 perintah Gereja, peristiwa peristiwa rosario, dan Doa Tobat dan juga untuk kondisi sekarang anak-anak diajak untuk berlatih membangun interaksi dengan Outbond. Setelah anak anak dinyatakan lulus ujian, mereka kemudian berhak menerima Komuni Pertama. Sebagai persiapan akhir, diadakan Gladi, pada saat bersamaan dengan Rekoleksi orang tua dan Pengakuan Dosa.

Diharapkan dengan Komuni Pertama ini menjadi awal hidup baru bagi anak-anak; dan setelah menerima Tubuh Kristus, tidak saja hati anak-anak semakin diarahkan kepada Yesus, namun diharapkan bahwa sabda Tuhan juga hidup dan tumbuh dalam hati anak-nak ini. Maka dari itu akan menjadi penting peran serta orangtua masing masing dalam perkembangan iman anak-anak. Orangtua disarankan untuk semakin membimbing anak-anak mereka untuk mengenal Yesus lebih dekat, serta menjadi teladan bagi mereka lewat contoh tindakan dan perbuatan sehari hari, seperti rutin ke gereja setiap Minggu serta berdoa bersama. “Semoga para orangtua beserta anak-anak semakin setia dalam pelayanan terhadap Tuhan, termasuk aktif dalam kegiatan gereja. Orangtua juga mengikrarkan janji mereka bahwa mereka siap mendampingi anak-anak mereka dalam hidup bersama Kristus.

Saat penerimaan Komuni tiba, anak anak menyalakan lilin masing masing, dan dengan didampingi orangtua, mereka berjalan dengan tertib ke depan altar untuk menerima Hosti, Tubuh Kristus yang suci, untuk pertama kalinya. Tak ketinggalan, momen berharga ini diabadikan dalam bentuk foto oleh tim . Diharapkan di tahun-tahun mendatang akan semakin banyak orang tua yang tergerak hatinya untuk semakin mem¬perhatikan iman anak terlebih dalam menyiapkan anak dalam penerimaan komuni pertama. Amin.***

Penulis adalah Koordinator Tim Kerja Liturgi Dewan Paroki Sragen

Be the first to comment

Leave a Reply