Live In Suster-Suster SPM di Paroki Sragen: “Hari Gini Jadi Suster? WHY NOT?”

Paroki Sragen (LENTERA) – Menjadi suster adalah pilihan. Pilihan hidup itulah yang telah diambil dan akhirnya diwartakan oleh 12 orang suster kongregasi Santa Perawan Maria (SPM), dalam kegiatan live in panggilan di Paroki Sragen, mulai hari Jumat (27/11) sampai Minggu siang (29/11). Selama 2 hari, pada hari Jumat dan Sabtu, para suster disebar dan ditempatkan di 12 lingkungan Paroki Sragen: Kutorejo, Krapyak, Gawan, Mojo Wetan, Mojo Kulon, Mojo Mulyo, Jetak, Karang Anyar, Widoro, Teguhan, Margo Asri, dan Puro Asri. Di sana, masing-masing suster mengadakan kegiatan dengan umat dan OMK dalam koordinasi dengan pengurus lingkungan.

Sedangkan pada hari Minggunya (29/11), para suster SPM kembali ke Gereja Paroki Sragen dan bertugas koor serta mazmur pada saat misa kedua pkl. 07:30. Setelah misa kedua ini usai, para suster berkumpul bersama OMK putri Paroki Sragen, untuk mengadakan kegiatan aksi panggilan. Dalam kegiatan ini, sekitar 100 OMK putri Paroki Sragen berkumpul di ruang kegiatan Pastoran, untuk berproses dan berdinamika bersama, selama kurang lebih 2½ jam.

Kegiatan aksi panggilan Minggu (29/11) yang berlangsung dari pukul 10:00 hingga 12:30 ini bertema “Apakah hidup panggilan dan siapakah suster-suster SPM”. Untuk mendalami tema tersebut, kegiatan aksi panggilan dikemas dalam bentuk sharing, diskusi kelompok, dan games. Suster Divina mensharingkan pengalaman awalnya sebelum masuk kongregasi SPM. “Sebelum masuk SPM pada tahun 1999, saya sudah bertunangan dan tinggal sebulan lagi menikah….”, katanya. Ia pun lantas mensharingkan alasan awalnya untuk menjadi suster, yaitu keinginannya untuk mencoba hidup membiara. Selain itu, Suster Cicil menambahkan bahwa menjadi suster tidak harus diawali dengan cara hidup yang sempurna, tidak ada cacat, dan bersih dari dosa. Semuanya dimulai dari keadaan yang biasa-biasa saja. Hal yang terpenting adalah keberanian untuk mencoba. Adanya keinginan dan keberanian untuk mencoba dan memilih inilah tanda awal dari seorang yang terpanggil.

Sebagaimana dalam perkembangan hidup seseorang ada tahapan-tahapan tertentu, menjadi suster pun ada tahap-tahapnya. Suster Zita menyampaikan bahwa untuk menjadi suster SPM, pertama-tama dimulai dari tahap postulan. Tahap ini berlangsung selama 6 bulan sampai 2 tahun, untuk mengenal tujuan hidup religius dan spiritualitas SPM, yaitu menghargai kesamaan martabat sebagai ciptaan Allah. Tahap selanjutnya adalah novisiat yang berlangsung selama 2 tahun. Pada tahap ini, seorang suster sudah boleh mengenakan pakaian biara. Setelah menjalani masa novisiat, seorang suster masuk tahap yuniorat yang berlangsung sekitar 6 tahun sampai maksimal 9 tahun. Pada tahap yuniorat ini, seorang suster tinggal di komunitas-komunitas SPM dan mulai terlibat dalam kehidupan karya SPM, yaitu sekolah (SD, SMP, SMA/SMK), asrama, dan karya sosial seperti perkebunan dan peternakan. Tahap yuniorat ini diakhiri dengan penerimaan kaul kekal. Setelah kaul kekal, seorang suster SPM memasuki masa medior awal dan masih terus mengikuti tahap bina lanjut (on going formation) yang berlangsung selama sekitar 5 tahun.
Akhirnya, semoga kehadiran para suster SPM dalam kegiatan live in panggilan dan aksi panggilan ini, semakin mampu menggugah jiwa dan semangat kaum muda paroki Sragen, untuk terlibat dalam kehidupan menggereja, terlebih melalui jalur hidup khusus sebagai imam, bruder, dan suster.(kur)

Be the first to comment

Leave a Reply