Rekoleksi Pasutri Muda: Membentuk Keluarga Menjadi Gereja Kecil

Taman Sari (LENTERA) – Bertempat di Aula Pertemuan SMA Saverius Sragen, Minggu (29/11) Tim Kerja Pendampingan Keluarga Dewan Paroki Sragen bekerjsama dengan Paguyuban ME (Marriage Encounter) Sragen mengadakan Rekoleksi Keluarga bagi Pasutri Muda usia perkawinan 5 – 10 tahun. Acara ini diikuti + 74 orang yang merupakan Tim Kerja Pendamping Keluarga lingkungan & Perwakilan pasangan/pasutri usia perkawinan 5 – 10 tahun yang ada di Paroki Sragen. Acara yang dimulai pukul 09.30 WIB ini menghadirkan Narasumber: Pasutri Didik – Cicik, dari Korda ME Distrik III – Solo dengan tema: Membentuk Keluarga menjadi Gereja kecil “.

Koordinator Tim Kerja Pendampingan Keluarga Dewan Paroki Sragen: Pasutri L. Suparno – Eny pada kesempatan itu mengucapkan selamat datang & ucapan syukur atas kehadiran semua peserta dan keterlibatan semua pihak demi terselenggaranya agenda kegiatan ini. Mereka mengharapkan setiap Lingkungan dapat mengirimkan Tim Kerja pendamping keluarga & minimal sepasang Pasutri usia perkawinan 5 – 10 tahun dalam rekoleksi pasutri ini. Berhubung hingga saat ini Tim Kerja Pendamping Keluarga Dewan Paroki baru bisa mempersiapkan pelajaran calon pengantin, maka untuk melaksanakan kegiatan ini bekerjasama dengan Paguyuban ME Paroki Sragen.

Sedangkan Bp. AY. Djoko Darmono (Ketua Bidang 2 Dewan Paroki Sragen) mengatakan bahwa di setiap lingkungan seharusnya ada Tim Kerja Pendamping Keluarga, karena merekalah yang menjadi ujung tombak di lingkungannya. Sehingga bila ada keluarga yang mempunyai masalah bisa diselesaikan di tingkat lingkungan dan tidak harus selalu bila ada apa-apa langsung sowan ke Romo Paroki, karena masih banyak yang harus dipikirkan & dilakukan oleh Romo Paroki. Selama masih bisa diatasi di lingkungan, lakukanlah. Namun bila ternyata tidak bisa mengatasi di lingkungannya, silahkan pengurus lingkungan menjembatani menghadap ke Romo Paroki. Dengan demikian diperlukan cara bagaimana membangun komunitas keluarga yang menjadi pembentuk Gereja kecil dari masing-masing keluarga. Semoga dengan rekoleksi ini bisa menja buah-buah yang lebih berarti bagi para pasutri yang datang hari itu, terlebih dalam menangani problem-problem keluarga yang terjadi dilingkungannya.

Narasumber utama yakni Pasutri Didik – Cicik mewakili pengurus Korda ME Distrik III – Solo membawakan tema rekoleksi: “ Membentuk keluarga menjadi Gereja kecil “. Hal-hal apa saja yang sekiranya diperlukan untuk membentuk Gereja kecil? Ada Gereja, ada keluarga, ada pernikahan, dsb. Siapa yang menghendaki adanya pernikahan? Kita lihat dari Kitab Suci, Kej 2:18. Tuhan allah berfirman :” tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan Dia “. Allah bapa menciptakan alam raya, tumbuhan, binatang dan kemudian menciptakan manusia. Manusia diciptakan berpasangan. Kita lihat juga Kej 2 : 21-25 Dalam ayat 25 : Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak malu. Dalam hal ini bukanlah kemudian telanjang berarti tidak hanya tanpa memakai pakaian, namun keduanya harus mau dan bisa bersikap saling mau terbuka dalam menjalani hidup berpasangan, jujur, dan juga bersama-sama secara terbuka menyelesaikan segala persoalan yang terjadi. Sehingga terjalin relasi yang baik, relasi yang intim.

Melihat Surat Paulus kepada jemaat di Effesus 5:22-23,31-32. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Ayat 32 : Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kistus dan jemaat. Ada pameo dalam masyarakat jawa yang seolah-olah bahwa isteri itu adalah hanya seorang “kanca wingking, swarga nunut, neraka katut “. Jika kita melihat dan memahami ayat-ayat tersebut diatas, ternyata bahwa pameo tersebut tidaklah benar. Pasangan suami-isteri Katolik yang menikah secara Katolik berarti saling menerimakan Sakramen. Ketika menjawab saling menerima apa adanya dan sanggup mencintai suami-isteri sepanjang hidup, kita dipanggil menjadi suami – isteri itu sebetulnya “ tanpa syarat”. Saat mengucapkan kata ya saya sanggup di depan Altar, itu juga ya harus sanggup disepanjang hidup kita. Tanpa syarat, berarti menerima apa adanya termasuk keunikan-keunikan yang ada, meski kadang keunikan-keunikan itulah yang justru mudah menjadikan rasa jengkel. Suami-isteri berasal dari keluarga masing-masing yang mempunyai sifat berbeda, cara mendidik anak yang berbeda, hobby yang berbeda, dll. Buktinya banyak contoh nyata yang karena adanya perbedaan tsb sering menjadikan sumber salah paham, pertengkaran, dll.

Dalam ayat 22, maksudnya adalah kita sungguh dipanggil untuk mencintai pasangan dengan segala keunikannya. Misalnya, Suaminya mempunyai hobby tennis. Lalu apakah si isteri harus selalu menyertai dan mendampingi apalagi jika bapaknya seorang pejabat atau apalah, agar oarng lain melihat nampak mesra? Apalagi jika kenyataannya justru sebaliknya ! Hal seperti ini apa tidak menjadikan si isteri semakin tertekan.

Sebagai kesimpulan, kita diajak menyadarkan diri masing-masing. Hubungan suami-isteri itu perlu ditingkatkan relasi hubungannya, agar semakin bisa menjadi terbuka, bertanggung jawab dan harmonis. Berani mengkomunikasikan apa saja yang menjadi keinginan masing-masing, sehingga terjalin, terbantuk komunikasi relasi pasangan suami-isteri yang terbuka dan bertanggung jawab secara bersama. Relasi pasutri menjadi tanda kehadiran cinta kasih Gereja. Dimana gereja adalah merupakan hubungan Kristus dan jemaat (tubuh Kristus yang hidup ). Juga Gereja merupakan persekutuan orang-orang yang mengimani Kristus. Ada 4 ciri gereja, yaitu : satu, Kudus, Katolik dan Apostolik.

Keluarga sebagai Gereja kecil diharapkan tetap berlangsung/berelasi akrab dengan Tuhan. Kudus berarti disatukan oleh rooh Kudus, sehingga bersifat Kudus. Gereja kecil juga kudus (tidak harus selingkuh). Setiap anggota keluarga harus ada rasa saling mau mengampuni, saling mencintai. Katolik berarti umum, dan apostolik berarti merasul. Sebagai keluarga kita harus mau diutus dan rela mewartakan cinta kasih kepada siapa saja, sama seperti gereja dipanggil.

Hambatan mewujudkan gereja kecil dalam keluarga terhadap 4 ciri gereja: Pasangan tidak seiman (kawin campur, beda agama, beda gereja); Pengaruh lingkungan, misalnya apakah seseorang yang terpengaruh negatif oleh lingkungan itu harus diasingkan atau tidak dicintai ? Ingat : dasar gereja adalah cinta kasih; Egoisme; Kondisi ekonomi; Kedudukan isteri lebih tinggi dari suami (pekerjaan & penghasilan); Pembagian tugas mendidik anak ( rebutan, saling menyalahkan). Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk mewujudkan gereja kecil dalam keluarga. Salah satu cara/solusi untuk dapat berkomunikasi dengan pasangannya dengan baik, bisa melalui ikut kegiatan / rekoleksi ME ( Merriage Encounter ).

Pada acara rekoleksi ini juga ada sharing dari Pasutri Agus – Nofi yang bercerita tentang perjalanan perkawinan mereka yang berawal dari perbedaan keyakinan, kemudian menjadi satu dalam perkawinan Katolik. Baru di usia perkawinan yang ke tujuh, mereka mengikuti rekoleksi/retret ME yang diantar oleh pasutri Harso – Tuti. Ada aturan untuk dapat mengikuti ME yaitu minimal usia perkawinan harus sudah lebih dari tiga tahun, tetapi saat itu mereka terbentur dengan bersamaan lahirnya anak sehingga harus menundanya. Sebelum mengikuti ME, relasi komunikasi kepasutrian banyak masalah dan sering mudah terjadi pertengkaran. Ternyata setelah mengikuti ME juga masih banyak suka dukanya dan terjadi masalah-masalah dan kesalahpahaman, meskipun nampaknya harmonis. Konflik dan godaan selalu masih ada. Mereka sadar bahwa perbedaan itu memang ada dan pernikahan mereka tidak salah. Perbedaan itu harus disadari, dengan cara berusaha lebih mau mengenali pasangannya. Mengikuti kegiatan ME menjadikan relasi mereka lebih nyaman/berpengharapan. Apalagi juga didukung oleh pasutri anggota-anggota ME yang lainnya, sehingga kita tidak merasa sendirian dan ada cara untuk membangun relasi pasutri kami menjadi nyaman (ME)

Be the first to comment

Leave a Reply