Pertemuan Lektor: Menjadi Lektor yang Handal dan Profesional

Paroki Sragen (LENTERA) – Pertemuan ke-5 lektor/lektris Paroki Sragen dilaksanakan pada hari Minggu (22/11), setelah misa kedua. Pertemuan yang berlangsung selama 2½ jam di SMP Saverius itu dihadiri oleh 35 lektor/lektris, 4 pembimbing lektor paroki, dan 2 pembimbing lektor lingkungan. Pada kesempatan itu juga hadir Fr. Ant. Kurnia sebagai narasumber.

Fr. Kurnia berbicara tentang spiritualitas lektor. Pada prinsipnya, lektor adalah bagian dari petugas peribadatan di Gereja. Para lektor bertugas untuk membacakan sabda Allah. Hal ini dapat ditilik dari makna dasar kata lektor. Istilah lektor berasal dari kata lectio (Latin) yang berarti membaca. Dengan demikian, lektor adalah seseorang yang bertugas membacakan sabda Allah. Fr. Kurnia sendiri berharap agar para lektor tidak semata-mata hanya menghayati diri sebagai petugas pembaca sabda Allah saja, melainkan juga mampu untuk menghayati dan menghidupi sabda itu di dalam kehidupan keseharian, sehingga akhirnya sabda Allah juga mempunyai nilai formatif bagi dirinya.

Ibu Imaculata Siti Suparni sebagai koordinator sekaligus pendamping lektor paroki menyampaikan evaluasi tentang pelaksanaan pertemuan lektor selama ini. Ibu Ima mengatakan bahwa setiap kali diadakan pertemuan lektor paroki, selalu saja ada wajah-wajah baru yang hadir. Hal ini menunjukkan bahwa selama ini, anggota lektor paroki tidaklah tetap. Oleh sebab itu, perlu ditegaskan kembali mengenai peraturan dan persyaratan untuk menjadi lektor. Umur ideal seorang lektor adalah 15 th s.d 35 tahun. Ketika seorang lektor telah berumur 35 tahun atau lebih, hendaknya ia dijadikan pembimbing.

Jadwal pertemuan lektor yang selama ini diagendakan setiap 2 minggu sekali juga perlu ditinjau ulang. Hal ini berkaitan dengan sedikitnya anggota lektor yang mengikuti pertemuan dan wajah-wajah baru yang setiap kali hadir di dalam pertemuan. Rapat pertemuan lektor pada hari Minggu (22/11) ini menyepakati bahwa pertemuan lektor akan diadakan pada setiap hari Minggu ketiga setelah misa kedua.

Sedangkan mengenai hal-hal teknis saat seseorang bertugas lektor, Ibu Ima menyampaikan bahwa pada saat maju untuk bertugas, para lektor tidak perlu membawa Kitab Suci, karena di Ambo (mimbar) sudah disediakan Kitab Suci. Saat membaca bacaan, pada dua kata sebelum titik, pandangan mata seorang lektor sebaiknya diarahkan ke umat. Selain itu, bagi para lektris yang bertugas pada saat misa harian, diminta untuk mengenakan rok dan bukan celana panjang. Jarak antara mulut dan mic pun juga perlu untuk diperhatikan. Pada prinsipnya, sebagai lektor, mereka diharapkan sungguh-sungguh dapat membantu dan mendukung kegiatan peribadatan dan bukannya malah menjadikan umat terganggu.

Sesaat sebelum pertemuan berakhir diberikan contoh yang benar dalam membaca bacaan Kitab Suci. Sdr. Fransiska Andwi Putri dari lingkungan Timotius Krapyak memberikan contoh membaca bacaan Kitab Suci dalam bahasa Indonesia. Sedangkan Ibu Kristina M. Titik Rubiyanti dari lingkungan Cicilia Mageru memberikan contoh membaca bacaan Kitab Suci dalam bahasa Jawa. Akhirnya, semoga dengan pertemuan-pertemuan lektor semacam ini, anggota lektor Paroki Sragen semakin dapat berkembang menjadi lektor-lektor yang handal dan profesional. (Kur)

Be the first to comment

Leave a Reply