Pertemuan Adven 3: Panggilan Keluarga Dalam Mewujudkan Iman Di Masyarakat

Keluarga Katolik, sebagai Gereja mini, yang hidup di tengah masyarakat menerima panggilan dan perutusan yang khas untuk mewartakan Kerajaan Allah, dalam segala segi kehidupan manusia. Kekhasan panggilan dan perutusan di tengah masyarakat ini adalah menyucikan dunia dan mengupayakan kesejahteraan masyarakat. Tugas ini tidak mudah, sehingga memerlukan komitmen dan keterlibatan banyak pihak yang berkehendak baik untuk terlibat di dalamnya. Keluarga Katolik tidak boleh hanya berpangku tangan menyaksikan ketidaknyamanan dunia yang kita tempati, karena terjadinya kemerosotan moral masyarakat. Semua hanya berpikir tentang kepentingan diri sendiri dan kelompoknya, tanpa memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan bersama.

A. PANGGILAN KELUARGA KATOLIK HIDUP DI TENGAH MASYARAKAT

Keluarga Katolik, sebagai Gereja mini, diharapkan hadir di tengah masyarakat luas karena keluarga Katolik hidup di tengah masyarakat dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat. Keduanya sangat erat berhubungan dan saling mempengaruhi. Kehadiran keluarga Katolik dapat mempengaruhi suasana hidup masyarakat, sebaliknya masyarakat sangat mudah mempengaruhi cara hidup keluarga Katolik. Jika ini yang terjadi, lalu apa yang dapat dilakukan keluarga Katolik?

Dalam Familiaris Consortio, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa dewasa ini keluarga Katolik mengalami krisis ganda, yaitu di satu pihak, terjadi peningkatan kesadaran tentang martabat manusia, di lain pihak, terjadi kemerosotan atas nilai-nilai dasar yang berkaitan dengan kehidupan manusia, antara lain moralitas perkawinan, pengguguran, seksualitas, keluarga, dan sebagainya. Nota Pastoral Keuskupan Agung Semarang tahun 2003 ” MENGHAYATI IMAN DALAM ARUS-ARUS BESAR ZAMAN INI” juga menyebutkan tantangan-tantangan zaman yang mengusai kehidupan keluarga Katolik saat ini, yaitu sekularisme (memutlakkan otonomi hal-hal duniawi tanpa keterbukaan kepada yang ilahi), materialisme (mengumpulkan harta atau uang sebanyak-banyaknya karena ada anggapan inilah yang memberi keselamatan), hedonisme (mengagung-agungkan kesenangan dan kenikmatan badani), dan konsumerisme (dengan harta atau uang orang dapat membeli apa pun, bukan karena kebutuhan tetapi lebih pada gengsi atau harga diri). Inilah aneka kemerosotan yang mempengaruhi dan bahkan menggerogoti penghayatan hidup dan iman keluarga Katolik.

Keberadaan keluarga Katolik tidak dapat dilepaskan dengan keadaan masyarakat dan perkembangan zaman. Di satu pihak, keluarga Katolik diajak untuk menyikapi dengan bijaksana situasi masyarakat dan perkembangan zaman, di lain pihak, keluarga Katolik berupaya untuk mengatasi kemerosotan-kemerosotan yang dapat menghalangi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, sebagai bentuk kesaksian dari murid-murid
Yesus di tengah masyarakat (Yak 2:17). Di sini, keluarga Katolik hendaknya tidak bekerja sendirian, tetapi sebaiknya mengikutsertakan sebanyak mungkin orang yang ada di sekitarnya agar tidak muncul kesan ”mengkristenkan”. Kita bersyukur kalau banyak orang terlibat mengatasi kemerosotan-kemerosotan tersebut agar terwujud kesejahteraan
masyarakat.

B. IMAN YANG TERWUJUD DI TENGAH MASYARAKAT

Keluarga Katolik hidup di tengah masyarakat yang sedang menghadapi tantangan dan keprihatinan zaman ini. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh keluarga-keluarga Katolik untuk mewujudkan imannya? Salah satu cara adalah melibatkan dirinya dalam kancah perjuangan untuk mengupayakan kesejahteraan masyarakat, dengan mengangkat keluhuran martabat manusia, mengembangkan semangat solidaritas terhadap KLMT, dan memelihara keutuhan ciptaan.

1) Keluarga Katolik mengangkat keluhuran martabat manusia

Dewasa ini, keluhuran martabat manusia sering dilecehkan atau bahkan dianggap tidak ada oleh banyak orang, baik dalam bentuk kekerasan, pembunuhan, dan ketidakadilan. Banyak peristiwa telah terjadi yang mengarah pada tindak pelecehan ini. Pelakunya
adalah orang-orang beragama. Orang begitu mudah bercerai, selingkuh dengan mempunyai PIL atau WIL, melakukan pengguguran, melakukan tindak KDRT dengan menganiaya anak dan pasangannya, membunuh orang lain dengan berbagai cara dan alasan (termasuk demi agama), dan sebagainya. Sangat memilukan dan memprihatinkan.

Semuanya itu terjadi karena orang hanya berpikir dengan sudut pandangnya sendiri,hanya mementingkan kepuasaan diri sendiri, sehingga tidak mau mendengarkan pandangan orang lain dan menghargai kepentingan orang lain. Orang menjadi egois.
Biasanya, orang egois tidak berpikir bahwa orang lain itu pantas dihormati sebagai manusia yang diciptakan menurut citra Allah (Kej 1:26-28), yang bermartabat luhur dan mulia.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengangkat keluhuran martabat manusia, antara lain menghargai kehidupan, menghargai kesetaraan laki-laki dan perempuan sebagai suami-isteri, menjauhkan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), menghargai
keberagaman yang ada di antara warga masyarakat dalam semangat kasih dan kerukunan, dan sebagainya. Inilah yang harus diperjuangkan oleh keluarga-keluarga
Katolik agar masyarakat juga mampu mengupayakan hal yang sama demi kesejahteraan masyarakat.

2) Keluarga Katolik mengembangkan semangat solidaritas terhadap KLMT

Negara kita sebenarnya kaya dalam segalanya (gemah ripah loh jinawi) yang dapat membuat rakyat hidup layak, bahkan makmur, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, yaitu rakyat tetap terbelakang dan miskin. Miskin lebih dilihat sebagai tidak mempunyai harta atau hidup serba berkekurangan, dengan menjadi gelandangan, pengamen, pengemis, pengungsi, dan sebagainya. Penyebabnya juga dapat bermacam-macam, antara lain pengangguran, penggusuran, bencana alam, penindasan, ketidakadilan, dan
sebagainya. Orang-orang seperti inilah yang dianggap sebagai kaum KLMT (Kecil, Lemah, Miskin, dan Tersingkir). Apa yang dapat dilakukan bagi mereka?

Selama ini Gereja Katolik senantiasa berpihak pada kalum KLMT ini, dengan keyakinan dasarnya yang berbunyi “option to the poor”. Keyakinan inilah yang senantiasa diperjuangkan, sehingga gerakan nyata yang dapat dilihat adalah nama yayasan gereja di KAS adalah PGPM (Pengurus Gereja dan Papa Miskin), 10% dari kolekte umum dan amplop persembahan disisihkan untuk membantu kaum KLMT, hasil APP yang dikumpulkan selama masa Prapaska juga dipergunakan untuk pemberdayaan kaum KLMT, dan sebagainya.

Keluarga Katolik, sebagai anggota Gereja dan sekaligus anggota masyarakat, diajak untuk berperan serta dalam mengentaskan kemiskinan mereka. Keterlibatan ini dapat berupa kegiatan sosial karitatif, pemberdayaan, penyediaan lapangan kerja, pemberian beasiswa, kesediaan menjadi orangtua asuh, dan sebagainya. Inilah semangat berbagi dan solidaritas yang diharapkan tumbuh dan berkembang dalam keluarga Katolik, demi kesejahteraan masyarakat. Keutamaan seperti inilah yang harus berkembang dalam diri dan hati semua anggota keluarga Katolik.

3) Keluarga Katolik memelihara keutuhan ciptaan

Isu aktual dewasa ini adalah pemanasan global (global warming). Dunia terasa semakin panas, yang mencairkan es di kutub utara dan selatan sehingga volume air naik ke seluruh permukaan bumi serta beberapa daratan rendah dan pulau tenggelam.
Penyebab pemanasan global adalah terjadinya kerusakan lingkungan hidup yang dikarenakan oleh kerakusan manusia. Kerusakan lingkungan ini menyebabkan aneka bencana alam, yaitu banjir, tanah longsor, gempa bumi, kebakaran hutan, dan sebagainya.

Keluarga Katolik diharapkan mempunyai hati untuk terlibat mengurangi atau justru mengatasi kerusakan lingkungan hidup tersebut. Beberapa cara dapat ditempuh, antara lain menjadi tani lestari dengan nuansa organiknya, mengelola sampah, melakukan gerakan hemat air bersih serta hemat energi listrik dan BBM, mengurangi pemakaian plastik, menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, menanam pohon pada lahanlahan
kritis, dan sebagainya.

MENSYUKURI PERUTUSAN KELUARGA KATOLIK DI TENGAH MASYARAKAT

Segala sesuatu yang dilakukan oleh keluarga Katolik di tengah masyarakat sungguh diyakini sebagai bentuk kesaksian nyata yang harus disyukuri. Keluarga Katolik mampu menjadi garam dan terang (Mat 5:13-16) bagi masyarakat sekitar. Masyarakat akan mengenal dan mencintai Gereja Katolik karena keluarga Katolik yang dipandang baik dan mau bersaudara dengan semua warga masyarakat serta terlibat dengan kehidupan masyarakat. Keluarga Katolik merupakan unsur terpenting untuk mewujudkan Gereja di tengah masyarakat yang sangat beragam.

Sudahkah keluarga-keluarga Katolik melaksanakannya, sebagai bentuk penyadaran akan panggilan dan perutusan menjadi saksi-saksi Kristus di tengah kehidupan masyarakat? Sudahkah keluarga-keluarga Katolik mengajak dan memberdayakan semua anggota
keluarganya untuk terlibat di tengah masyarakat? Pertanyaan reflektif ini menjadi salah satu tolok ukur untuk dapat mensyukuri apa yang telah dilakukan keluarga-keluarga Katolik dewasa ini. ***

Sumber: Panduan Adven 2009
Keuskupan Agung Semarang

Be the first to comment on "Pertemuan Adven 3: Panggilan Keluarga Dalam Mewujudkan Iman Di Masyarakat"

Leave a comment