Kado Natal Bersama Para Majus

Oleh: Ibu Ateng – Para Majus dari timur jauh-jauh datang ke Betlehem mengikuti bintang timur guna menyembah Raja yang baru lahir. Tidak diceritakan bagaimana lika-liku perjalanan mereka. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa berat dan sangat melelahkan. Mereka harus melalui padang gurun yang bukan hanya gersang, tetapi juga ganas. Kalau siang panas terik, kalau malam dingin menggigil. Belum lagi bahaya yang mengancam, bisa perampok, bisa juga binatang buas.

Siapa mereka ‘Para Majus itu?” tidak jelas. Ada memang beberapa keterangan dan cerita tentang mereka. Misalnya, bahwa mereka itu ahli perbintangan dan astrologi dari Persia. Bahwa mereka berjumlah tiga orang, datang ke Betlehem naik unta dan bahwa mereka bernama Kaspar, Baltazar dan Mekior. Baltazar adalah seorang berkulit hitam, Melkior berjenggot panjang dan paling tua diantara ketiga temannya. Bahkan konon juga, masih ada orang majus keempat, ia terpisah dari ketiga temannya. Namanya Artaban.

Lebih jauh, ada yang mengatakan bahwa mereka mewakili tiga ras umat manusia, yaitu ras keturunan Sem, Ham dan Yafet. Ketiga anak Nuh (Kejadian 10:1-32). Namun, semua cerita dan keterangan itu lebih merupakan dongeng dan dugaan semata. Tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Rupanya bagi Matius segala data tentang para Majus itu tidaklah penting. Matius memang tidak sedang menulis catatan atau laporan jurnalistik. Maka, baiklah kita pun tidak membaca kisah ini dengan kacamata sejarah, atau seperti kalau kita membaca berita di koran. Yang harus kita cari bukan data atau fakta melainkan makna, bukan detail melainkan pesan.

Dengan memuat kisah yang tidak terdapat dalam ketiga Injil lain itu, tampaknya Matius hendak menyampaikan bahwa kedatangan “Sang Mesias’ tidak hanya dinantikan oleh bangsa Israel, tetapi juga oleh bangsa-bangsa lain. Kristus bukan hanya milik sebuah bangsa, tetapi milik semua bangsa.

Ada tiga hal yang dapat kita renung¬kan melalui kisah ini. Pertama, para Majus itu pergi menyembah Kristus, Sang Raja yang baru lahir, dengan berjerih payah. Mereka harus melewati medan yang berat padang gurun tandus. Mereka harus menempuh perjalanan yang berliku, penuh tantangan dan ancaman. Namun mereka maju terus, tidak kenal lelah atau menyerah, hingga tiba di tujuan.

Mengikuti Kristus juga demikian. Jalan yang harus kita lewati tidak selalu mulus dan lurus. Kerap malah penuh tantangan dan ancaman. Seperti yang dialami oleh para Majus, perlu perjuangan amat keras, berjerih payah dan berlelah. Kristus memang tidak menjanjikan jalan yang gampang. Yang Dia janjikan adalah kekuatan di kala lelah, serta penghiburan di kala berduka.

Oleh karena itu, jangan berkecil hati bila jalan yang kita lalui berat dan medan yang kita tempuh penuh gelombang. Yang perlu kita lakukan adalah maju terus. Berusaha sebaik-baiknya, berserah sepenuh-penuhnya. Tuhan tidak pernah jauh dari kita.

Kedua, para Majus itu tidak undur ketika harapan atau bayangan mereka semula tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka pergi jauh untuk menyembah raja yang baru lahir. Dalam benak mereka, Seorang Raja tentunya penuh dengan kemegahan, tinggal di istana mewah, dikelilingi para pengawal berwajah angker dan bersenjata lengkap. Itu sebabnya, pertama-tama mereka datang ke Yerusalem, daerah elite pusat kota pemerintahan raja Herodes.

Namun, ternyata Sang Raja itu lahir di Betlehem, kota kecil berjarak sembilan kilometer di sebelah selatan Yerusalem. Tidak di istana megah dan mewah, tetapi di kandang ternak dengan palungan sebagai tempat tidur-Nya. Orangtua-Nya, Yusuf dan Maria, hanya rakyat jelata. Namun, para Majus itu toh tidak undur, mereka tetap dengan niat semula, menyembah dia Sang Mesias.

Mengikuti Kristus juga demikian. Apapun yang kita temukan atau hadapi tidak sesuai dengan yang kita harapkan atau bayangkan. Barangkali sebelumnya kita mengharapkan kehidupan yang mulus jauh dari persoalan, tetapi kenyataannya persoalan justru datang bertubi-tubi. Barangkali sebelumnya kita berharap keberhasilan dapat kita reguk, tetapi kenyataannya justru kekecewaan yang kita peroleh. Bila itu yang kita hadapi, ingat para Majus pun tidak undur. Jadi kenapa harus undur?

Ketiga, para Majus itu datang dengan membawa persembahan: emas, kemenyan dan mur. Ada yang menafsirkan emas adalah lambang kuasa raja, kemenyan lambang kuasa ilahi dan mur yang biasa digunakan untuk membalsem atau mengawetkan jenazah adalah lambang keinsanian. Terlepas apa dan bagaimana penafsirannya, yang pasti para Majus itu datang dengan motivasi untuk memberi, bukan untuk menerima.

Mengikuti Kristus juga demikian. Jangan dengan motivasi untuk mendapatkan apa-apa. Sebab itu akan sangat rapuh, kita akan mudah kecewa. Namun, dengan motivasi untuk memberi. Seperti para Majus yang mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Nah, suatu yang berharga apa yang kita bawa sebagai persembahan bagi Dia di hari Sang Mesias yaitu Natal.

Penulis tinggal di Griya Candi Asri 1 Sragen**

Be the first to comment

Leave a Reply