Ada Apa Dengan Tahun Syukur 2010

Oleh: CT. Wahyono Djati Nugroho, Pr

1182807229_873dbabebaKata St. Paulus “Bersukacitalah selalu, berdoalah setiap saat, bersyukurlah dalam setiap keadaan. Inilah yang dikehendaki oleh Allah dari dirimu dalam persekutuanmu dengan Yesus Kristus” (1Tes 5:16).

Menyitir dari Surat Gembala Tahun Syukur 2010: ”Terlibat Berbagi Berkat”, sebenarnya kita di ajak untuk mensyukuri habitus baru yang berkembang selama tahun-tahun 2006 – 2010, khususnya semangat berbagi.

Mengawali tahun 2010 sebagai tahun syukur ini, ada banyak alasan untuk bersyukur:

  • Bersyukur dan berterima kasih merupakan sikap dasar dalam hidup manusia dan kerohanian kita. Bersyukur adalah jalan menuju kebahagiaan.
  • Sikap bersyukur dapat menjadikan penangkal perasaan kecil hati.
  • Budaya syukur dalam Injil “Aku bersyukur kepada Mu ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Luk 10:21)
  • Bersyukur atas berkat yang luar biasa, atas pengalaman yang paling mengesankan,sebagai contoh diselamatkan dari kecelakaan / kematian.
  • Bersyukur atas anugerah-2 sederhana setiap hari, namun kita merasa meragukan kasih Allah ketika mengalami kegagalan (gagal pacaran). Dari sini dapat kita kembangkan untuk mselalu bersyukur setiap saat atas segala sesuatu yang diterima sebagai anugerah dari Allah. Maka sebagai pribadi yg matang secara rohani mampu memahami adanya benih-benih perkembangan dan kehidupan bahkan dalam peristiwa-2 yang nampaknya negatip sekalipun.
  • Budaya syukur dan terima kasih kepada Allah dan sesama, hendaknya menjadi pilar atas kehidupan kristiani. Hal ini salah satu aspek yang dikehendaki oleh Tuhan.

Kita memasuki Tahun Syukur masih diwarnai oleh kegembiraan Natal dan Tahun Baru. Kegembiraan menjadi alasan bagi orang-orang majus dari Timur untuk menyembah Yesus dan menemukan cara hidup yang baru. “Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.” (Mat 2:10). Sukacita orang-orang majus semakin disempurnakan oleh perjumpaan pribadi dengan Yesus dan keluarga kudus. Perjumpaan pribadi bukan hanya menyempurnakan kegembiraan mereka tetapi juga mengubah hidup mereka karena mereka membuka diri”.

Dari pengalaman Natal yang berarti Yesus lahir dalam hati kita, dilanjutkan dengan penampakan Tuhan atau kehadiran-Nya dalam peristiwa-peristiwa hidup keseharian kita perlu dan mutlak juga untuk di syukuri. Tahun syukur dibuka pada Hari Raya Penampakan Tuhan. Kita didorong untuk menampakkan cara hidup yang baru dalam hidup menggereja dan bermasyarakat: menampakkan Tuhan.

Ada pun alasan kuat yang perlu kita syukuri dalam hidup beriman kita akhirnya sampai memuncak dalam sebuah ungkapan: ” Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3: 16).***