Manusia & Planet Bumi

Oleh: C.  Dwi Atmadi

global-warmingUmumnya orang tidak peduli dengan isu pemanasan global dan berbagai persoalan lingkungan lainnya. Ada banyak keterangan untuk menjelaskan mengapa mentalitas ini terjadi. Cara berpikir orang hanya pendek, kalau tidak ada gangguan yang menimpa langsung pada diri sendiri atau orang lain yang ada di dekatnya, orang tidak akan tersentak. Ketika resiko yang dihadapinya masih kecil, orang juga masih tidur terlelap.


Tidak banyak orang tertarik pada isu lingkungan. Diskusi ini menjangkau planning dan strategi jangka panjang. Memikir­kan pemanasan global harus dimulai dengan praktek hari ini tetapi dengan hasil baru muncul di hari esok. Hari esok di sini kerap berarti – harafiah-25 atau  50 tahun lagi baru dirasakan manfaatnya.

Orang umumya juga mengandaikan bahwa para politisi dan pakar akan mengatasi persoalan tersebut. Dan para awam  berpikir bahwa mereka tidak akan bisa berbuat apa pun menghadapi problem raksasa ini. Mereka juga berpandangan bahwa berita-berita yang disebarkan oleh media masa itu dilebih-lebihkan. Pada kenyataannya, mereka tidak merasa adanya efek negatif sebagaimana digembar-gemborkan oleh media masa dalam hidup sehari-hari.

Kita jangan meromantisir keberadaan planet. Misalnya, pandangan klasik dari sebuah filsafat dangkal bahwa ala semesta ini adalah baik dan memiliki kekuatan luar biasa. Dia pasti mampu memperbaiki dirinya sendiri bila dirusak. Pada kenyataan­nya, planet ini sekarang rusak dan mengancam kehidupan manusia bila tidak segera diperbaiki.

Atau pandangan yang mengatakan bahwa bumi adalah sakral. Mari kita jaga kesakralannya.Oleh karena itu jangan kita menyentuhnya. Kepercayaan ini membuat manusia menjadi pasif dan tidak mau mengambil inisiatif apa pun. Semua pandangan ini kurang tepat.

Mentalitas acuh tak acuh ini mungkin juga didukung oleh pemahaman yang keliru pada isi iman. Kitab Kejadian menulis, ”… penuhilah bumi dan taklukkanlah … berkuasalah atas ikan-ikan …” (Kej 1: 28). Ayat  ini ditafsirkan secara egosentris. Seakan planet ini hak manusia yang boleh digunakan dan dihisap semaunya.

Ayat di atas seharusnya berada ber­dampingan dengan ayat lain. ”Tanah ini jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagiKu.” (Im 25: 25). Manusia memang puncak dari ciptaan, namun tetap bertangung jawab atas bumi ini di hadapan Tuhan.

Penyadaran Manusia

Kita percaya bahwa sejarah ter­bentuknya planet Bumi ini sejak 15 juta tahun yang lalu  adalah karena ’manusia’. Seluruh alasan keberadaan, perkembangan dan evolusi mendukung ciptaan yang bernama manusia, lebih dari yang lain. Pergerakan planet ini berpuncak pada manusia. Tetapi ini tidak berarti bahwa manusia superior atas segalanya dan boleh berbuat semaunya atas bumi seisinya. Yang terakhir ini adalah mentalitas manusia modern yang mengedepankan individualisme. Dan mentalitas Barat memberikan banyak pengaruh di dalamnya.

Manusia yang  menjadi gambaran tertinggi dalam Kitab Suci tetap berpusat pada Kristus. Dan tidak haus kekuasaan. Dia tidak berhasrat menguasai kehidupan tanpa batas. Manusia sebagai gambaran dan citra Allah akan menggunakan seluruh apa yang ada di muka bumi ini untuk membantu semakin mengarahkan pada tujuan dan alasan mengapa ia diciptakan. Inilah antroposentrisme dalam Kitab Suci. Ia tidak eksklusif melainkan inklusif..

Manusia tetap pusat. Manusia tidak bisa disingkirkan dalam pusat pem­bicaraan iman hanya karena ia berdosa atau merusak alam. Manusia yang diciptakan sehakikat dengan citra Allah tetap benar. Yang sekarang dibutuhkan adalah pembicaraan yang lebih konkret.

Pendidikan dan penyadaran manusia dan masyarakat pada isu ini merupakan proses jangka panjang. Namun ini harus segera mulai dilakukan. Penyadaran membutuhkan seperangkat alat untuk mendukung perilaku hidup yang peka terhadap lingkungan. Pembentukan kualitas manusia semacam inilah yang membuat manusia menjadi gambaran Allah sendiri.*** (dari berbagai sumber)