Membangun Kebiasaan Syukur

Oleh: Fr. Ant. Kurnia

Mengucap syukurlah dalam segala hal,

sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tes 5:18)

1218974412958_Pray_tUmumnya orang, tentu lebih senang mendengar berita baik daripada berita buruk; lebih senang mendengar kata-kata pujian yang meneguhkan hati daripada segala keluhan dan umpatan yang me­nyesak­kan dada; lebih senang mendengar kata-kata yang manis dan lembut daripada kata-kata yang kasar dan penuh amarah. Oleh sebab itu, cara pandang seseorang akan dunia ini akan sangat be­rpengaruh di dalam bagaimana ia mengambil sikap akan situasi di sekitarnya. Di situlah dibutukan hati yang penuh syukur sehingga orang dapat memandang secara positif atas hal-hal yang ada di sekitarnya.

Mengucap syukur atas segala situasi baik yang kita hadapi tentu lebih mudah untuk dilakukan daripada ketika segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Apakah Anda tetap dapat ber­syukur ketika cuaca sedang hujan dan Anda mendapati genteng rumah anda bocor? Apakah Anda tetap dapat bersyukur ketika Anda sedang bepergian dan Anda mendapati jalanan yang anda lalui ternyata berlubang dan becek? Atau, apakah Anda masih dapat bersyukur ketika Anda sudah membuat janji untuk bertemu dengan seseorang dan tiba-tiba saja dia membatal­kan janji itu tanpa alasan yang jelas? Dalam banyak hal, ternyata kita lebih mudah untuk mengeluh, menggerutu, marah-marah, dan bersungut-sungut daripada tetap bersyukur dan melihat sisi baik dari keadaan yang sedang kita hadapi. Mengucap syukur memang merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan, terlebih ketika kita sedang menghadapi keadaan yang tidak kita harapkan.

Mengapa orang perlu bersyukur? Apa gunanya bersyukur? Ada seseorang yang pernah berkata, “Bersyukurlah meskipun engkau belum mendapatkan semua yang kau inginkan, karena jika engkau sudah mendapatkan semuanya maka engkau akan berhenti berusaha. Bersyukurlah karena engkau tidak me­ngetahui tentang sesuatu hal, karena itu akan memberimu kesempatan untuk belajar. Bersyukurlah untuk saat-saat yang sulit, karena dalam saat-saat seperti itu engkau bisa bertumbuh. Bersyukurlah untuk setiap keterbatasanmu, karena itu memberimu kesempatan untuk mem­perbaiki diri. Bersyukurlah untuk setiap tantangan, karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu. Bersyukurlah untuk kesalahan yang pernah engkau buat, karena itu memberimu pelajaran yang sangat berharga. Bersyukurlah ketika engkau merasa lelah, karena itu berarti engkau telah melakukan sesuatu dan membuat suatu perbedaan[1]”.

Tak ada cara yang lebih efektif untuk mengubah hidup, bahkan mengubah dunia, selain membiasakan membangun sikap syukur dalam hidup kita. Sungut-sungut, keluhan, dan kemarahan tidak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik, tetapi justru sebaliknya, sungut-sungut dan kemarahan hanya akan semakin mem­perburuk keadaan. Dengan bersungut-sungut dan marah, hati kita justru menjadi semakin terasa panas, jengkel, dan akhir­nya tubuh merasa lelah. Orang lain yang melihat dan mendengarkan sungut-sungut kita pun menjadi jengkel. Kita pun bukan­nya menyebarkan kebaikan dan ke­damaian, tetapi malah semakin mem­perburuk keadaan dengan sikap sungut-sungut dan kemarahan kita.

Mengapa orang sulit bersyukur? Banyak orang sulit untuk mengucap syukur karena kurang menerima keadaan yang mereka hadapi saat ini. Memang baik bagi kita untuk selalu mempunyai impian, mempunyai angan-angan, harapan, dan cita-cita. Namun, kurang tepatlah kalau orang hanya terobsesi dengan masa depan dan kurang melihat tempat di mana ia berpijak. Orang yang melulu hanya me­mandang ke depan saja berarti hidup dalam angan-angan dan tidak hidup dalam kenyataan. Kenyataan adalah saat ini. Saat ini adalah sesuatu yang terbaik yang kita alami dalam hidup kita. Setiap orang mempunyai kesulitan dan kesusahannya sendiri. Janganlah kita menggerutu atas ketidakmampuan atau karena sesuatu yang tidak kita miliki. Sebaliknya, kita perlu mengucap syukur untuk segala yang kita miliki dan apa yang masih dapat kita nikmati saat ini. Oleh sebab itu, kita perlu mengganti kebiasaan bersungut-sungut, marah ataupun mengeluh dengan ucapan syukur. Itulah habitus baru yang hendak kita bangun pada tahun 2010 ini.

Keuskupan Agung Semarang mencanangkan tahun 2010 ini sebagai tahun syukur. Seluruh umat Allah di Keuskupan Agung Semarang diajak untuk bersyukur atas habitus baru yang telah terbentuk. Habitus baru yang diusahakan itu tidak langsung terbentuk sekali jadi, melainkan diusahakan melalui suatu proses yang terus berkesinambungan, yaitu melalui keluarga (arah pastoral tahun 2007), anak dan remaja (arah pastoral tahun 2008), dan kaum muda (arah pastoral tahun 2009). Sejalan dengan arah pastoral Keuskupan Agung Semarang pada tahun 2010 itu, kita, umat Paroki Sragen pun bersama-sama diajak untuk membangun kebiasaan syukur ini di dalam kehidupan harian. Karena syukur ini merupakan  suatu kebiasaan atau habitus, maka tidak ada cara lain yang paling efektif untuk mengusahakannya kecuali dengan membiasakan diri untuk ber­syukur. Hal ini kita dimulai dari hal-hal yang sangat konkret dalam kehidupan harian. Di dalam segala sesuatu, kita perlu mengucap syukur kepada Allah atas segala penyelenggaraan dan pendampingan-­Nya. Selamat mengawali tahun 2010 dengan membangun kebiasaan syukur. † Tuhan Memberkati †***

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol 3:17)


[1] Kekuatan Ucapan Syukur, dalam http://roeshima.blog.friendster.com