Cara Berpastoral adalah Kebudayaan

Oleh: C.  Dwi Atmadi

lantern734087ey8Pada bulan Februari tahun ini ada dua perayaan yang biasanya perlu dicermati bagaimana pelaksanaannya, yaitu Imlek dan Valentine. Keduanya melibatkan bagaimana strategi pastoralnya harus dipertimbangkan beserta tata laksananya.

Kebudayaan mempengaruhi strategi berpastoral. Pengaruh ini bisa sangat luas dan mendalam. Kebudayaan tidak hanya mempengaruhi isi tetapi juga proses penggembalaan. Cara berpikir dan pendekatan yang dipilih untuk pembinaaan umat seharusnya beriringan ketat dengan kebudayaan setempat. Bahkan dalam kenyataannya, cara berpastoral dari Gereja adalah kebudayaan itu sendiri. Demikianlah Gereja yang sehat adalah Gereja yang berakar dalam seluruh mental, nilai, dan cara berpikir penduduk lokal.

Strategi yang tepat akan menentukan keberhasilan pembangunan jemaat. Sementara itu, strategi merupakan produk kultural. Cara dan hasil proses pertimbangan bersama ini adalah gambaran dan cerminan dari kebudayaan komunitas beriman itu.

Tepat, apabila seorang pastor menggembalakan umat dengan mulai berasumsi pada kebenaran tertentu. Dengan pendekatan rasional ia mengutip doktrin dan ajaran Gereja. Ajaran Gereja bisa dan kerap diterapkan ke dalam realitas umat secara obyektif dan universal.

Sayang sekali, yang dijumpai oleh para pastor dan penggembala umat di lapangan bisa sangat berbeda dan bervariasi. Lingkungan berbeda, iklim kerap kali tidak ramah, politik di sekitar umat penuh dengan kekacauan, praktik-praktik kebudayaan umat kerap sangat asing dan tidak dipahami sama sekali oleh Gereja. Gereja sebaiknya jangan menyampaikan sikap curiga yang berlebihan.

Menghadapi realitas tadi pengambil keputusan bisa mengambil dua pilihan. Pertama, dia tidak peduli dengan realitas. Dia konsisten mengikuti jalan yang sudah ditentukan rutenya. Dia main tabrak jika ada tembok yang menghalanginya. Atau kedua, dia mengumpulkan data, mempelajari nilai-nilai yang dipegang oleh umat yang dilayani. Dia sadar bahwa sebagian atau seluruh peta yang dibuat ternyata tidak tepat dan tidak mampu memberikan arah yang benar. Dia mengubah dan menyesuai­kan dengan rute baru.

Yang menjadi dilema adalah sulitnya memilih mana cara yang benar di antara keduanya. Yang pertama adalah tipe pemimpin yang tegas hendak menegakkan ajaran yang benar. Dia perpendapat kompromi hanya akan menyesatkan umat. Yang kedua adalah tipe pemimpin yang luwes, sensitif terhadap prubahan, tetapi dengan resiko bahwa ia akan jatuh ke dalam banyak kompromi. Pemimpin yang kedua  ini bisa menyimpang dari nilai yang diperjuangkan.

Memilih Strategi Yang Tepat

Memimpin dan menggembalakan umat lokal, seorang pastor dihadapkan pada banyak pilihan dalam pengambilan keputusan. Ia menafsirkan beberapa berbagai informasi dan merumuskan kriteria untuk bertindak. Gereja Katolik dengan doktrin kristen, yang sering sangat Barat, rasional, berbau patriakal, akan mengalami benturan jika ber­hadapan  dengan jemaat Tionghoa, dengan kebijaksanaan Timur, dengan fokus pada ’hati’ dan ’batin’, dengan berbagi simbol yang juga asing untuk kekristenan.

Lalu bagaimana membuat strategi dan cara mengatasi kesulitan tersebut? Kekhasan umat Katolik di Indonesia – sejalan dengan kebudayaan Asia – membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk berdialog dan percakapan dari hati ke hati dalam pengambilan keputusan. Inilah perbedaannya dengan kebudayaan Barat.

Ketidak pastian di luar Gereja tidak bisa melulu diterangkan dengan pendekatan rasional, mengunakan alat-alat analisis sosial yang serba dingin, seakan hidup sekarang dam masa depan dengan mudah dapat diprediksi. Umat kita, sebaliknya, yakin pada diskusi intensif yang melibatkan perasaan dan emosi. Praktik ini akan merangkul lebih banyak orang, memperkaya perspektif.

Dengan demikian, berbagai kebingungan menjadi lebih dapat dipilah-pilah dan dipilih-pilih. Hasil dialog panjang dan mendalam antar cara berpikir, mentalitas, dan nilai-nilai asli umat dengan praksis penggembalaan akan menyatukan keduanya. Tidak adanya pemisahan yang tegas antara cara berpastoral dan kebudayaan. Oleh karena itu, jika di sana terjadi ’keonaran’ anatara keduanya, hampir bisa dipastikan ada yang ’salah di sana.***

Dari berbagai sumber